Posts

Showing posts from February, 2015

Dari Sebuah Surat Ucapan Ulang Tahun yang Panjang

Sabtu, 7 Februari 2015. Hari yang panas. Cuaca yang panas. Terik. Saya di sini, mendidih di balik dinding kamar lantai dua Perumahan Mastrip Blok B, mengamati dedaunan di depan kamar lantai dua yang terpapar sinar matahari dari pintu kamar yang terbuka lebar-lebar, sekaligus awas akan kehadiran pemangsa kecil yang seringkali berkunjung tanpa permisi di ruangan ini. Saya punya kebiasaan membersihkan kamar sebelum mulai beraktivitas. Entah itu akan pergi dan melewatkan seharian di luar rumah, maupun sekadar membaca buku di atas tempat tidur maupun menonton film dan serial televisi yang sudah berulangkali diulang. Pokoknya suasana kamar harus benar-benar bersih, setidaknya tak ada kotoran di lantai yang terlihat kasat mata. Kemudian barulah saya akan menggelar lapak dagangan hidup saya. Dagangan karena bagi saya seperti pencari nafkah, bahan bakar kehidupan saya yang sebegitu-sebegitu saja. Tidak menghasilkan uang, bagi saya nafkah bukanlah uang semata. Namun apa yang saya lakukan di...

That One

Pernahkah kalian merasakan orang yang begitu spesial tanpa pernah bertemu langsung dengannya? Sejujurnya, ribuan kali saya pernah mengalaminya. Yang paling sering adalah, mencoba menggambarkan secara nyata objek-objek yang diangkat dalam sebuah karya. Lagu, puisi, novel, foto, lukisan, dan lain sebagainya. Orang-orang yang mungkin tidak akan pernah saya temui, karena mereka begitu spesial. Istimewa. Dengan caranya yang selalu indah, membuat orang lain jatuh cinta dan tanpa sadar menggila karenanya. Saya selalu menyangka, bahkan hingga detik ini, bahwa orang itu selalu dan akan terlalu sempurna untuk saya ketahui. Untuk sekedar saya temui. Figur yang berusaha saya hidupkan dalam dangkalnya hidup saya akan jutaan hal yang hingga kini tidak mampu saya mengerti. Entah mengapa saya mau repot-repot melakukannya. Hanya saja, ketika saya melihat seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber inspirasi seorang seniman atau manusia lain untuk menjadi sebuah karya adalah hal yang tidak akan pe...

Aku Akan Menulisnya Nanti

Dan aku terempas. Dengan sendirinya. Ditemani langit, yang meski tidak selalu biru, namun setia menanti. Menampung cahaya, memantulkannya ke laut. Di mana aku menemui angin, yang tak kunjung meredup nyalanya. Seolah ia meniup segala sesuatunya dengan kemahaannya, tanpa ada yang melihat. Gaib. Ketika datang waktu senja, sedikit banyak aku merasa bahwa aku harus menulis. Banyak atau sedikit pun. Entah untuk apapun. Tak tahu apa yang ditulis pula. Dan kemudian memaksaku untuk mencermati butiran hujan di luar kaca dingin, mencerna bait demi bait puisi dan sajak yang sejak dulu tak pernah saya pahami artinya, maupun berempati pada kerut bapak-bapak tua pengayuh sepeda di tepi jalan. Pada akhirnya, semua muncul dan mencapai kesepakatan bersama. Yang selalu berubah-ubah setiap waktu. Saling muncul dan menyaingi satu sama lain. Sedangkan aku, hanya diam membisu. Sebodoh kala itu. Dengan segenap kesanggupan untuk merangkum semuanya dalam membran otak yang begitu lambat. Mencoba merangkainya m...

Kekurangan

Ternyata saya masih menutup mata. Akan segala ketimpangan di dunia ini. Walau saya tak pernah luput mengikuti segala berita di media. Saya masih belum bisa memahami mengapa hal-hal tertentu terjadi, dan pada akhirnya hanya mengantarkan saya pada sebuah omong kosong yang ingin saya percayai benar-benar terjadi. Ternyata saya masih dangkal. Pola pikir saya tak juga berkembang, selalu teracuni hal-hal yang sama. Terkontaminasi oleh hal-hal yang saya anggap telah saya lalui sebelumnya. Saya masih belum bisa menjadi individu yang berpikiran jernih. Tidak benar-benar bersih dan putih. Sebersih apapun saya menganggap diri saya sendiri. Ternyata saya tidak tahu apa-apa. Saya terlalu sombong dengan kekuatan yang diberikan oleh energi lain. Saya merasa bahwa segala yang saya punya lah yang menentukan siapa saya. Dan saya malah bertanya-tanya dengan definisi hidup saya sendiri. Saya bahkan mengoreksi orang lain padahal saya jauh dari kesempurnaan. Dan saya selalu menutup mata akannya. ...

Kebernamaan

Beberapa hari lalu ada seorang kawan yang bertanya pada saya, mengenai hubungan yang ideal (bagi saya). Tentang sebuah relationship yang pada akhirnya membawa kita pada suatu titik yang tak pernah bergerak dari normalnya. Karena segala sesuatunya dalam sebuah hubungan (baca:pacaran) selalu normal dan wajar terjadi. Dulu saya masih merasa segala sesuatu akan berada pada jalurnya masing-masing. Begitu naif dan penuh ketidakmengertian, tapi selalu puas akan apa yang ada dan tidak pernah menuntut hal-hal yang tidak saya inginkan. Semakin lama, saya semakin merasai hal-hal di sekitar saya dan berubah menjadi sensitif sebagaimana masyarakat sosial lainnya. Pada umumnya saya mendapati diri saya berada di lingkungan yang tetap bekerja, berputar meskipun saya tak larut di dalamnya. Saya menonton dan merasa bertanya-tanya tentang hal yang dilakukan dan diketahui masyarakat dewasa. Namun lambat laun saya sadari, saya pun ada di dalamnya. Baik secara kadang-kadang maupun selalu. Saya adalah b...