Posts

Showing posts with the label percaya

Hitung Mundur

Hari ini, Sabtu, 13 April 2013 sesuai yang tertera pada ObjectDock laptop saya ketika saya hendak mengetik. Entah mengapa saya tertarik kembali bertualang di word ini tanpa perlu mengungkap sesuatu yang berarti. Padahal sebenarnya, bukankah itu setiap posting saya? Selalu mengungkapkan sesuatu yang tidak berarti. Tapi saya tidak berusaha mengubahnya, sayang sekali. Karena setidaknya saya jadi punya teman. Saya berpikiran untuk melebarkan range posting yang ditampilkan di blog saya, tapi itu nanti saja. Saat sudah ada waktu dan konsentrasi buat ke sana. Sekarang waktu dan konsentrasi saya sedang tertuju pada lembaran putih ini. Setidaknya sampai saya menemukan kesibukan lain.             Esok lusa saya sudah harus menjalani Ujian Nasional. Tapi entah kenapa mata saya gatal luar biasa. Saya takut sakit lagi, jadi bintilan. -__- jadi kemarin saya teteskan obat mata. Mungkin saya akan melakukannya lagi. Dan saya harus mengurangi...

Beranikah?

            Saya memulai posting hari ini dengan kata itu. Beranikah?             Beranikah saya menulis apa yang ingin saya tulis ini? Tapi sejak kapan ada rasa ciut yang menyerang? Bukankah saya selalu loyal dalam berkata-kata? Bukankah saya selalu berusaha mengatakannya dengan baik?             Ini bukan kaerna sekarang adalah malam tanggal 23 di mana esok hari akan ditentukan apakah kami para siswa kelas XII akan lulus atau tidak dari 3 tahun lamanya pendidikan ini. Juga bukan karena galau gara-gara tidak nemu sepeda besok saat gowes bersama teman-teman seangkatan satu sekolah. Bukan karena rasa kalut yang menjadi-jadi.             Tapi karena malam ini, saya melihat kesungguhan. Dan saya sadar saya selalu merinding melihat ketulusan. Ketulusan yang benar-b...

Besok Senin

Pertempuran UAS tinggal tiga hari lagi. Tapi nilai udah pada turun. Gaswat! Belum-belum akupun diterjang remedial -___-" malesin banget nggak sih. Okelah. Mungkin bisa diterima. Berhari-hari ini lagi kecanduan baca novelnya Tere-Liye, penulis yang tidak disangka adalah seorang lelaki, namun mampu dengan menggemparkan membuat novel sefuturistik dan semenyentuh itu. Sebut sajalah, novelnya yang pertama kali saya baca adalah 'Hafalan Shalat Delisa', atas rekomendasi seorang kakak kelas yang suka baca novel islami. Nyari di perpustakaan nggak dapet-dapet, mungkin lagi laris soalnya mau diangkat jadi film. Akhirnya dapat juga di Togamas. Dan benar kata kakak kelas sekaligus senior di OSIS itu, menyentuh-tuh-tuh-tuh! Air mata tiba-tiba aja leleh nggak karu-karuan. Setelah sempat diombang-ambing dan dibuat dilema sama perjalanannya 'Tante' Trinity di 'The Naked Traveler', harus ngiler juga karena 'OM' Tere-Liye ini keren bangeeett > Dilihat-lihat, penga...

Keyboard 'Backspace' rusak :'(

Oh, entah kenapa sedih banget. Begitu mengetahui kalau tombol backspace di laptop ini rusak dan nggak bisa dipake. Akhirnya sekarang terpaksa beradaptasi dengan tombol 'delete' yang harus kembali menyesuaikan dengan tombol anak panah itu. -___-" malesin banget deh jadi nggak bisa leluasa nulis lagi. Soalnya males kalo salah sih, jadinya harus ribet menghapus satu kata ataupun huruf setelah menekan tombol panah ke kiri beruntun :( Oh tidak! Backspace-saya! :((( Beneran nggak nyaman jadinya. Hm. Tapi mau bagaimana lagi. Salah sendiri sih, nitip-nitipin laptop di ruang OSIS yang dihuni anak-anak ababil dan serba nggak sabaran -.- udah resiko itu mah. Dan mau nggak mau harus saya terima dengan lapang dada. Pfiiuuhh.. Saya pengen ngomongin apa ya? Oh ya. Tiga hari lagi adalah pertempuran kejutaan kalinya buat saya di Ulangan Akhir Semester. Gila ya. Udah ulangan lagi. Padahal nggak kerasa loh tiga bulan masa ajaran begitu cepatnya setelah sempat ulangan blok dan ulangan tengah ...

Why So Serious?

Sesungguhnya saya pernah dengar almarhumah ibu saya berucap suatu kali, "tidak akan pernah ada orang yang bisa mengerti dan mengenal diri kita sebaik kita sendiri. bahkan suami." Mungkin saat itu saya masih terlampau kecil untuk bertanya banyak hal dan hanya mampu menatapnya tak mengerti. Namun, hingga masa remaja saya, kata-kata itulah yang terus terngiang ketika saya menghadapi seseorang yang sama sekali tidak bertemu jalan pikirannya dengan saya. Saya rasa ucapan ibu itu benar. Setiap kali saya mencoba mengatakan sesuatu tentang itu, tak ada orang yang paham ataupun menaruh perhatian sebesar ibu. Hanya sambil lalu yang kemudian tak lagi terbahas ataupun teringat. Nampaknya saya pun juga setuju dengan pendapat bahwa kita dilahirkan berbeda. Biarpun Tuhan bernah 'bersabda' bahwa kedudukan semua manusia itu sama, tapi sesungguhnya hanya amal ibadah yang jadi pembeda. Tetap saja bagi saya itu berbeda. Ya toh?:) Sedalam apapun saya hanya saya dan Tuhan yang tahu. Seba...