Posts

Good Shoes Take You to Good Places (?)

Satu untuk semua. Ini bukan jargon salah satu stasiun televisi swasta (aduh, tahun berapa itu), melainkan harapan saya setiap kali membeli barang. Saya tentu mengutamakan fungsionalitas karena dana yang terbatas. Kini, saya tak punya banyak ruang untuk menyimpan terlalu banyak. Setiap kali pulang ke rumah, saya banyak membuang dan menghibahkan barang-barang yang dulu saya simpan. Entah untuk apa. (Tahun lalu, saya menyumbangkan empat kardus buku yang tak muat di lemari buku baru, pun karena saya berharap ada pemilik lain yang akan menghargai buku itu sehingga memberikan nilai yang semestinya, amin! Meski demikian, saya cukup sentimental dengan mengatakan bahwa saya masih menyimpan surat-surat yang saya terima saat pekan orientasi siswa semasa SMA.) Annapurna bisa dibilang pengalaman tak terlupakan (dan bahkan masih saya tulis di postingan ketiga ini), karena ini pertama kalinya (lagi) saya naik gunung berhari-hari. Dulu, saat SMA, gunung-gunung Jawa Timur yang terkenal cukup kejam ...

Kembali Padaku, Annapurna

Image
Teknologi adalah defining factor dalam perjalanan ke Annapurna. Teknologi membawa kami tiba di titik ini. Tidak terbayang apabila tak ada teknologi. Annapurna masih sama tak terpandangnya seperti saat saya SMA. Jauh, tak terjamah. Teknologi pula yang membuat kami memberanikan diri. Dan, yang saya maksud “teknologi” pun bukan selalu sesuatu yang kelewat canggih. Memang, kami sangat terbantu dengan segala bentuk sumber informasi dan dokumentasi yang ada di genggaman, bahkan masih bisa digunakan di ketinggian. Bandingkan dengan dulu. Naik gunung, kalau tak bawa kamera digital, ya tak punya dokumentasi. Pada perjalanan ini, teknologi baru yang saya kagumi adalah heatpack . Kami sudah membekali diri dengan heatpack , yang langsung terpakai dua sekaligus di Annapurna Base Camp. Sungguh teknologi yang canggih. Dulu saya tak kenal teknologi ini. Jika kau naik gunung dan kedinginan, rasakan. Ini yang kau cari, bukan? Kini sebuah kemasan tipis bisa menguarkan panas yang bahkan pada bebera...

Come Back to Me, Annapurna

Image
Januari lalu, saya ke Annapurna. Sebenarnya, di titik ini, pergi ke luar negeri seperti sebuah seremoni penambahan usia. Saya kira, ini bermula pada sebuah percakapan sederhana, tepi ngalor-ngidul yang selalu muncul setiap kali sedang dengan Adien. Teman SMA yang bertemu lagi saat saya kuliah dan ia sudah bekerja ini memang belakangan menjadi tempat saya banyak mencurahkan isi hati dan pengalaman hidup. Saya selalu mengira kami akrab semasa sekolah, mungkin ia punya pandangan berbeda dan saya tak menyalahkannya. Jadi bagi saya, begitu natural bagi kami untuk sama-sama bertemu di Yogyakarta meski nasib sudah jauh melangkah terpisah. Kira-kira itu di 2020, tepat sebelum pandemi menerjang. Saya sedang berjibaku dengan bangku kuliah (lagi), dan Adien sudah menjadi seorang mas-mas kantoran di sebuah NGO. Dilihat dari sudut apa pun, dia sudah jauh melampaui pengalaman hidup saya waktu itu. Ia bekerja dan sudah punya stance pada dunia, hal yang tidak saya miliki di luar bangku perkulia...

Intens

Sudah sangat lama sejak saya terakhir kali menulis di atas kereta. Terakhir, saya ingat perjalanan yang juga sempat sedikit saya bagikan di sini. Saya sedang menonton sesuatu di laptop sembari duduk di kelas bisnis yang lengang. Saya ingat betul karena saya hampir tidak pernah naik kereta kelas bisnis. Pengalaman yang menenangkan itu begitu membekas di kepala saya karena saya bisa melakukan banyak hal dalam perjalanan hampir seharian itu. Begitu berbeda dari pengalaman menaiki kereta ekonomi biasanya, tempat saya duduk bertemu lutut dengan empat hingga enam orang lainnya. Sejujurnya, tulisan ini mungkin tak lain juga adalah upaya membunuh waktu. Perjalanan panjang ini akan berlangsung cukup lama, bahkan hingga hari berganti. Dan meski saya sudah mempersiapkan diri, tentu akan ada banyak waktu kosong untuk diisi. Terutama karena saya berencana untuk tidur normal. Jadi saat senja ini mulai menggelincir seiring dengan jalannya kereta menuju ibu kota Jawa Timur, saya memutuskan untuk...