Posts

Come Back to Me, Annapurna

Image
Januari lalu, saya ke Annapurna. Sebenarnya, di titik ini, pergi ke luar negeri seperti sebuah seremoni penambahan usia. Saya kira, ini bermula pada sebuah percakapan sederhana, tepi ngalor-ngidul yang selalu muncul setiap kali sedang dengan Adien. Teman SMA yang bertemu lagi saat saya kuliah dan ia sudah bekerja ini memang belakangan menjadi tempat saya banyak mencurahkan isi hati dan pengalaman hidup. Saya selalu mengira kami akrab semasa sekolah, mungkin ia punya pandangan berbeda dan saya tak menyalahkannya. Jadi bagi saya, begitu natural bagi kami untuk sama-sama bertemu di Yogyakarta meski nasib sudah jauh melangkah terpisah. Kira-kira itu di 2020, tepat sebelum pandemi menerjang. Saya sedang berjibaku dengan bangku kuliah (lagi), dan Adien sudah menjadi seorang mas-mas kantoran di sebuah NGO. Dilihat dari sudut apa pun, dia sudah jauh melampaui pengalaman hidup saya waktu itu. Ia bekerja dan sudah punya stance pada dunia, hal yang tidak saya miliki di luar bangku perkulia...

Intens

Sudah sangat lama sejak saya terakhir kali menulis di atas kereta. Terakhir, saya ingat perjalanan yang juga sempat sedikit saya bagikan di sini. Saya sedang menonton sesuatu di laptop sembari duduk di kelas bisnis yang lengang. Saya ingat betul karena saya hampir tidak pernah naik kereta kelas bisnis. Pengalaman yang menenangkan itu begitu membekas di kepala saya karena saya bisa melakukan banyak hal dalam perjalanan hampir seharian itu. Begitu berbeda dari pengalaman menaiki kereta ekonomi biasanya, tempat saya duduk bertemu lutut dengan empat hingga enam orang lainnya. Sejujurnya, tulisan ini mungkin tak lain juga adalah upaya membunuh waktu. Perjalanan panjang ini akan berlangsung cukup lama, bahkan hingga hari berganti. Dan meski saya sudah mempersiapkan diri, tentu akan ada banyak waktu kosong untuk diisi. Terutama karena saya berencana untuk tidur normal. Jadi saat senja ini mulai menggelincir seiring dengan jalannya kereta menuju ibu kota Jawa Timur, saya memutuskan untuk...

Mengapa ke Đà Nẵng

Dahulu kala, sebagaimana kita selalu mendengar bagaimana cerita dituturkan, saya berada di kelas akhir masa SMA saya yang begitu berharga. Bagi siswa yang tinggal di salah satu kota kecil di Indonesia ini, buku menjadi salah satu sarana eskapisme yang bisa saya jangkau. Kegemaran ini salah satunya dipupuk karena buku-buku cerita anak. Beranjak remaja, bacaan saya pun beralih. Teenlit , komik cantik, dan metropop, adalah beberapa bacaan baru yang selalu menyenangkan bagi saya masa itu. Sebab tidak semuanya saya temukan di kota kecil tempat saya tinggal. Ada dunia berbeda yang ditawarkan dan saya tak perlu berpikir dua kali untuk terjun di dalamnya. Semuanya begitu mudah, terbayangkan, dan terjangkau. Dan sebagaimana remaja pada umumnya, saya jatuh hati pada banyak hal. Membenci banyak hal adalah hal lain, tetapi saat jatuh hati pada banyak hal, saya jadi punya beragam fokus yang menggembirakan. Saya sedang bermain teater, berkelompok dengan tim pencinta alam, menulis, menari, dan sete...

Stolen Dreams

Usually, I never let the “negative feelings” flew through me then vent it here like a thirsty kid. Years after years, I learn to sharpen my gut and showcase what it could be when I’m a normal human being. Believe what I want to be true.   Pada hari-hari seperti ini, mimpi-mimpi terasa mengapung di udara tempat saya menarik napas dalam usai mengerjai tubuh saya dengan hukuman yang saya rasa pantas saya dapatkan. Setiap hari. Betapa kejamnya melihat segelintir hal yang tidak akan pernah terwujud saat kita membuka mata. Saya selalu berharap bisa mengatakannya. Namun tak pelak saya katakan bahwa di hari-hari seperti, saya mengizinkan diri saya untuk “merasa” dan menjadi orang yang tidak pernah ingin saya temui. Saya merasa bersalah karena menulis di saat-saat seperti ini.  Deep down, I still believe how ugly human souls are. Scarred and barred. Too many happy memories, yet memories scurries away.   Ada begitu banyak bentuk dan rupa yang saya temui, dan selalu belum ...

Sampai Kapan Saya Melakukan Ini?

Pagi ini, saya ditanya, “Apa tidak capai?” Konteksnya, beberapa waktu belakangan saya gemar mengunggah aktivitas saya saat berkegiatan di alam. Meski hanya bisa pergi di akhir pekan, tapi tak jarang saya mengunggahnya di waktu-waktu luang saat hari kerja. Tanpa tujuan tertentu, mengingat saya kurang suka berondongan mengunggah sesuatu di media sosial dan terkadang saya amat kangen dengan perjalanan itu, terutama saat saya merasa sedikit suntuk karena terkungkung pekerjaan. Lalu di tengah-tengah kota yang hiruk-pikuk, seorang sahabat saya bertanya bagaimana caranya saya bisa punya tenaga untuk semua kegiatan itu. Selain bekerja, saya tidak hanya mendaki, tapi juga lari dan masih nongkrong dengan teman-teman. Wajar jika orang mungkin bertanya apakah saya tidak merasa lelah. Terutama karena saya sendiri sering bilang bahwa saya bukan tipikal orang yang gemar menghabiskan waktu di luar ruangan. Bukankah tidak mungkin saya betah menghabiskan tiap akhir pekan bertualang jika saya tidak s...