Pengorbanan yang Tak Ada Juntrungnya
Ketika menulis ini, saya sedang terjebak di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat saya tak bisa berangkat ke Banggai karena asap yang menyelimuti Bandara Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk. Akhir pekan yang niatnya akan dihabiskan dengan berliterasi-ria di Festival Sastra Banggai terancam bubar jalan. Kemungkinan besar saya harus putar haluan, balik ke Jakarta karena tak bisa meneruskan perjalanan ke Luwuk. Sejak kemarin, saya sudah dapat informasi dari teman-teman yang lebih dulu berangkat bahwa perjalanan mereka dibatalkan dan terpaksa menginap di Makassar. Bahkan pagi tadi, saat saya sudah di dalam gate menunggu keberangkatan, seorang teman menyarankan saya untuk membatalkan perjalanan saja. Tak ada hilal kondisi akan membaik. Namun, dasar bebal. Pun tahu keributan untuk membatalkan perjalanan saat sudah dalam gate , saya tetap terbang ke Makassar. Benar saja, usai mengurus transit, di ruang tunggu saya bertemu dengan teman-teman senasib. Mengingat Festival Sastra Ban...