Kembali Padaku, Annapurna
Teknologi adalah defining factor dalam perjalanan ke Annapurna.
Teknologi membawa
kami tiba di titik ini. Tidak terbayang apabila tak ada teknologi. Annapurna
masih sama tak terpandangnya seperti saat saya SMA. Jauh, tak terjamah.
Teknologi pula yang
membuat kami memberanikan diri. Dan, yang saya maksud “teknologi” pun bukan
selalu sesuatu yang kelewat canggih. Memang, kami sangat terbantu dengan segala
bentuk sumber informasi dan dokumentasi yang ada di genggaman, bahkan masih bisa
digunakan di ketinggian. Bandingkan dengan dulu. Naik gunung, kalau tak bawa
kamera digital, ya tak punya dokumentasi.
Pada perjalanan ini,
teknologi baru yang saya kagumi adalah heatpack. Kami sudah membekali
diri dengan heatpack, yang langsung terpakai dua sekaligus di Annapurna
Base Camp. Sungguh teknologi yang canggih. Dulu saya tak kenal teknologi ini.
Jika kau naik gunung dan kedinginan, rasakan. Ini yang kau cari, bukan?
Kini sebuah kemasan tipis bisa menguarkan panas yang bahkan pada beberapa titik
di malam hari terasa membara di kulit.
Jadi paginya, saat
bermalam di Annapurna Base Camp, kami dengan cepat bangun untuk menyambut
matahari pertama. Saya memaksa diri menyentuh alat dandan yang tak pernah
tertengok beberapa hari belakangan. Setidaknya, saya tak boleh menyesali
berfoto di sini. Kami pun menuju undakan kecil, tempat pegunungan putih
memantulkan cahaya matahari dengan kilau sempurna. Beberapa orang sudah
berkumpul di sini dengan tujuan yang sama.
Mata saya menatap
cahaya yang jatuh di atas pegunungan bersalju.
Oranye.
Aneh rasanya
tercekat karena warna ini.
Dengan tangan yang
beku dan sakit sekali, saya berusaha sebisa mungkin mengambil gambar. Takkan
mampu menggantikan yang asli, tentu saja. Mata saya, tak peduli kacamata
berminus tebal ini bertengger tanpa alpa, merekam jauh lebih baik. Tubuh saya
pun, merasakan jauh lebih baik. Lebih utuh.
Setidaknya,
beruntung saya setidaknya merasa sudah cukup sufisien merekam apa yang bisa
saya rekam saja. Saya tak punya obsesi lebih dalam terkait tempat ini, bahkan
mungkin cenderung dangkal dan shallow. Hanya memastikan setiap celah
yang saya kagumi bisa saya simpan untuk di rumah nanti. Toh, tak peduli betapa
ingin saya berdiam lama di sini, waktu terus bergulir. Dan begitu cepat di
gunung. Annapurna tetap dalam posisinya, membuat saya mendongak penuh rasa
kagum.
Gunung setinggi
8.091 mdpl itu tak hanya tampak mengerikan. Ia memang mengerikan. Gunung
tertinggi ke-10 di muka bumi. Saya pernah baca di sana-sini tentang kematian-kematian
yang ditimbulkan. Para pendaki yang ingin menyentuh dan menyapa puncaknya.
Sekian tahun mendaki, saya belajar bahwa kita takkan pernah benar-benar
mengenali, apalagi menaklukkan gunung. Mendaki hanya satu upaya mencintainya,
tapi tidak semuanya. Dan mungkin juga takkan bisa.
Toh ia tetap
berdiri. Not cruel, but unforgiving.
Bahkan di kaki
gunungnya saja, tempat titik pendakian pertama, saya sudah hampir tak bisa
merasakan organ tubuh. Tak terbayang harus berjibaku dengan salju dan udara
dingin, merangkak naik ke ketinggian dua kali lipat. Belum lagi ancaman badai
dan longsor salju. Saya menyadari betapa beruntungnya perjalanan kami. Di tas, crampons
masih tersimpan rapi. Saya bahkan tak menggunakan trekking pole hingga
di tengah perjalanan menuju Machhapuchhre. Jas hujan apalagi.
Januari adalah musim
terdingin, mungkin hampir di berbagai belahan dunia mana pun. Dan konyol
rasanya kami mengetahui ini lalu tetap menjalani petualangan ke tempat
terdingin yang pernah kami kunjungi. Saya, yang tak membawa jas hujan, tentu
tak mengharapkan hujan. Namun, ini harusnya kami ekspektasikan. Saya, adalah ignorant
yang memilih berpegang pada keyakinan tak beralasan.
Suhu sudah
menunjukkan -9 pagi itu. Dan seperti penguin saya tertatih kembali ke lodge untuk
sarapan. Kembali packing, lalu pulang sembari mengabadikan foto
sepuasnya. Perjalanan pulang terasa ringan meski jaket tebal masih
berlapis-lapis.
Saya sering dengar
seloroh, “pulang itu seperti didorong setan.” Ngawur, barangkali. Namun
karena memang sudah tak punya tantangan lain untuk ditunggu dan trek-nya
pun sudah kami lewati kemarin, kaki pun sudah familier untuk melangkah. Saya
bisa melaju lebih cepat, juga karena “dorongan” carrier. Machhapuchhre
Base Camp kami lalui saat masih pagi, Deurali tengah hari. Kami makan siang
dulu sambil mengorientasi kembali. Tampaknya, dengan pace kami, menginap
di Chhomrong adalah ketidakmungkinan.
Himalaya setelahnya.
Lalu Dovan. Kami nyaris tak berhenti. Setelahnya, kami memutuskan settle di
Bamboo pukul 4 sore. Senangnya lagi, lodge tempat kami menginap
menyediakan air panas. Jadilah saya mandi. Bersih sekali rasanya tubuh ketika
keluar dari kamar mandi dengan uap membubung. Kesalahan saya saat ini adalah
terlalu dini membersihkan diri. Sebab keesokan harinya, perjalanan pun masih panjang.
Beberapa pakaian yang coba saya basuh tipis-tipis pun pasti takkan kering esok
hari.
Rupanya, kami
lagi-lagi menginap di tempat yang sama dengan Sue dan Lisa. Kami mengobrol
sambil makan malam, lalu beristirahat. Paginya, packing dan menunaikan
hari terakhir kami di trek ini.
Di Upper Sinuwa,
kami bertemu Sue dan Lisa dan berfoto karena tahu ini adalah pertemuan terakhir
kami. Adien membeli limun. Saya mengabadikan momen-momen terakhir. Jujur,
kesedihan sudah meliputi saya saat ini. Kemungkinan saya takkan pernah kembali
ke tempat ini. Namun, saya tetap semangat pulang. Saya bukan sepenuhnya masokis
yang ingin menyakiti diri sendiri, tetapi hidup dalam kesulitan selama beberapa
hari tentu membuat saya melihat kembali hal-hal yang berarti. Ini tak bisa saya
dapatkan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi mellow mungkin
bukan forte saya. Jadi, saya mencoba meringankan pikiran.
Setelahnya, kami
lebih dulu ke Lower Sinuwa, dan Chhomrong. Di Chhomrong, kami bisa melihat sepenuhnya
kehidupan di hari yang sudah siang. Rumah-rumah berimpitan menawarkan
kenyamanan. Sungguh, ingin sekali menghabiskan waktu duduk di salah satu lodge,
menikmati makan selain dal bhat, bahkan mungkin segelas kopi sembari menuntaskan
bacaan saya. Dibanding Annapurna Base Camp, bahkan Deurali dan Dovan, tentu Chhomrong
tidak sedingin itu. Besar kemungkinan kami bisa nyaman dan malas-malasan di
sini. Namun, dengan iming-iming menghabiskan waktu di Pokhara (dan Kathmandu),
kami harus tetap bergerak.
Turunan terjal
menyambut sepanjang Chhomrong ke Jhinu Danda. Tangga-tangga tempat kami berbagi
jalan dengan keledai dan kuda. Debu kembali membubung, saya terbatuk-batuk.
Lega rasanya melihat
jembatan gantung Jhinu Danda yang mengawali dan kini mengakhiri perjalanan
kami. Makan siang, nyaris sore, kami habiskan di Jhinu Danda, tempat
kami berdua duduk di restoran (dengan kaki saya yang bengkak akibat keseleo dua
kali) dengan sebotol soda. Pfiuh, tunai sudah perjalanan ini.
***
Akhirnya terlalu
dini mengatakan “usai”, sebab kami harus berjalan lagi di Ghandruk untuk
tiba di meeting point dengan jip.
Berbeda dengan
perjalanan berangkat, kami diturunkan di Ghandruk. Umumnya, saat membaca
perjalanan-perjalanan ke Annapurna Base Camp dalam waktu yang panjang, Ghandruk
adalah titik mula perjalanan yang paling umum. Sebab, ini desa yang besar dan
terbilang lengkap. Selain itu, pemandangan pegunungan dari tempat ini sangat magical.
Hampir semua reels atau konten media sosial tentang Annapurna Base Camp
memuat titik yang sama di Ghandruk.
Namun, itulah yang
membuat kami memutuskan tidak berangkat dari sini. Kami ingin perjalanan yang
cenderung lebih cepat dan itu dimulai dari Jhinu Danda. Selain itu, titik pandang
yang kami lihat di konten-konten tentang Ghandruk pun tampak monoton. Kami tak menyangka
akhirnya pulang lewat sini. Kami berjalan lagi setelah diturunkan jip, untuk
menuju meeting point selanjutnya. Kira-kira 30 menit. Dengan badan yang
sudah kotor dan kaki yang terpincang, berjalan di desa wisata ini seperti walk
of shame.
Ramai sekali
Ghandruk dengan pelancong lokal. Sepertinya seumuran remaja, murid-murid
sekolah yang berombongan. Sepertinya pelesir sekolah. Juga keluarga. Semuanya
tampak bergaya dan siap untuk musim dingin. Beruntung jalanan tidak terlalu terjal
dan kaki saya masih bisa menoleransi. Begitu akhirnya tiba dan bertemu sopir
jip, kami mengempaskan tubuh di kursi belakang dan bersiap untuk perjalanan berikutnya,
yang syukurnya dengan mobil.
Saat inilah, saya
rasa, “pulang didorong setan” itu tidak terbukti. Bahkan saat kami pun naik jip
ketika hari terang, perjalanan ke Pokhara begitu jauh hingga terasa berjam-jam
kami di dalam mobil.
Tiba di Pokhara
malam hari. Rupanya, memang hanya perasaan saja sebab ternyata masih tidak
terlalu larut di kota. Usai bebersih diri yang amat saya syukuri meski tak ada
air panas, kami memutuskan untuk laundry kilat lalu jalan-jalan ke arah keramaian.
Berbeda dengan Pokhara yang saya lihat hampir sepekan lalu, rupanya kami Cuma
salah arah jalan untuk menemukan “pusat peradaban”. Dengan segera kami mencari
gerai ayam cepat saji, dan kopi susu gula aren favorit kami. Sedikit
terpincang, tentu saja.
Kami yang sudah
terlatih istirahat di cuaca dingin seperti batang pohon tertidur cepat
malamnya. Esok hari, kami packing dan menyampaikan selamat tinggal pada
Pokhara, lalu naik pesawat kembali ke Kathmandu. Ah, mata saya panas saat
melihat pegunungan yang masih berdiri tegak.
***
Seperti mimpi
rasanya mendarat di Kathmandu yang hiruk pikuk. Hotel kami terletak di downtown
Thamel Street yang ramai dengan pedagang, toko, kendaraan, turis, dan
macam-macam lainnya. Hal pertama yang kami lakukan adalah… makan makanan
Jepang.
Adien, seperti biasa,
berhasil menemukan restoran-restoran hidden gems yang nyaris tak kami
temukan karena selain pintu masuknya di dalam gang, juga merupakan lantai dua
dari sebuah gedung yang lantai satu menjual pakaian. Rasa-rasanya, ini masakan
Jepang terenak yang pernah saya coba. Entah karena kelelahan, entah karena kami
makan banyak.
Setelahnya, waktu seperti
berjalan kabur. Hari kami mengubek-ngubek Thamel Street saja. Belanja, minum
kopi, makan besar, makan kecil, jalan kaki… keramaian itu mengingatkan akan
pasar-pasar tradisional di Indonesia. Meski kurs lebih tinggi dari Indonesia,
tapi harga barang-barang cukup terjangkau bagi kami sehingga kami bisa makan
enak dan setidaknya beli oleh-oleh kecil untuk dibawa pulang.
Cukup menyenangkan juga berjalan di dataran tinggi tapi tidak menanjak. Kami tentu menyempatkan diri ke Hanumandhoka Durbar Square yang terkenal. Ada banyak square dan kuil di Kathmandu, tapi waktu kami amat terbatas untuk mengunjungi semua. Kami pun hanya sightseeing di Durbar Square, lalu bersantai dan minum es kopi. Mampir juga ke berbagai stalls pinggir jalan yang menjual berbagai hal dan makanan yang unik. Kami sudah bosan dengan dal bhat dan di titik ini bereksperimen menjajal masakan Korea, bahkan Arab. Inilah reward yang layak.
Petualangan kami setelahnya pun belum usai, sebab kami harus transit 6 jam di Bangkok untuk kemudian lanjut ke perjalanan akhir ke Jakarta. Adien malah harus naik kereta lagi untuk pulang ke Probolinggo.
Di titik ini,
kerinduan terhadap rumah muncul. Namun, itu pun masih bearable. Saya
akan dengan senang menukar kerinduan itu dengan extended stay apabila
memungkinkan.
***
Tiba di Jakarta dini
hari, kami naik taksi kembali ke pusat kota, lalu sarapan. Saya dan Adien
berpisah setelahnya. Dua jam setelahnya, saya sudah kembali duduk di kursi
kantor. Bekerja.
Saya kira, inilah
realitas kehidupan setelah masa-masa liar di usia 20-an berakhir. Hari Selasa
ketika saya tiba di Jakarta dan masih ada lima hari untuk berakhir pekan dan
tidur gila-gilaan. Saya sendiri tidak merasa kurang istirahat mengingat tidur
lebih awal setiap hari. Namun, ingin juga merasakan tidur tanpa gigitan dingin.
Kaki saya masih
bengkak dan setelah hiker’s high saya turun, saya mulai mengompresnya
secara rutin. Dari pengalaman, kaki ini akan terus bengkak hingga dua pekan. Saya
pun beristirahat total, hampir tidak beraktivitas selain ke kantor saja. Dan
tak tahan juga rupanya sebab seminggu kemudian saya sudah melarung ke gym.
Biar bagaimanapun, tubuh ini yang berhasil membawa saya melalui perjalanan
panjang yang cukup gruesome ini. Saya merasa apresiasi terhadap tubuh
ini bisa dilakukan selama saya merawatnya dengan tetap aktif. Setidaknya,
itulah yang bisa saya lakukan.
Makanan yang saya
inginkan pun tak muluk-muluk, mengingat saya hanya pergi seminggu. Saya sudah
makan seperti biasa. Bagi saya, pentingnya memiliki rutinitas adalah untuk
mengembalikan kondisi tubuh usai turbulensi yang tak terduga. Dalam hal ini,
turbulensi itu adalah perjalanan panjang. Dua hari setelahnya saja saya sudah
kembali pada ritme kehidupan “normal” ala saya: duduk hampir sepanjang hari,
membaca, minum kopi, tidur cepat. Kemampuan tubuh untuk tidak hanya berada di
bawah tekanan, tetapi juga memulihkan diri sendiri ini saya alami betul usai
perjalanan ke Annapurna Base Camp ini.
Sejak saya dan Adien
berkomitmen untuk melakoni perjalanan ini, saya memang menyusun resep
berolahraga untuk mempersiapkan diri. Hampir setahun belakangan saya memang
rutin ke gym. Meski tak ada perubahan berarti pada tubuh saya, saya bisa
merasakan perbedaannya. Beberapa lari 21 km dan 30 km saya babat dengan tenang
tanpa persiapan. Bagi saya, itulah manfaat melatih otot. Saat akan ke Annapurna
Base Camp, saya menyelipkan latihan lari. Sepekan saya lewatkan rutin ke gym
hampir setiap hari, lalu sepekan saya berlari ke GBK untuk kalkulasi mingguan minimal
30 km. Biasanya, sering saya rasakan bahwa persiapan selalu lebih riuh daripada
pestanya. Namun kali ini, pestanya pun semarak. Annapurna Base Camp
menghadirkan berbagai pengalaman yang memadukan petualangan, perjalanan, dan
perkembangan batin yang sangat saya perlukan.
Kelak, setiap kali
saya perlu bicara dengan diri sendiri, saya akan berkunjung pada pengalaman
Annapurna yang takkan tersentuh. Tepat di sudut hati.
Comments
Post a Comment