Good Shoes Take You to Good Places (?)
Satu untuk semua.
Ini bukan jargon salah satu stasiun televisi swasta (aduh, tahun berapa itu), melainkan harapan saya
setiap kali membeli barang. Saya tentu mengutamakan fungsionalitas karena dana yang terbatas. Kini, saya tak punya banyak ruang untuk menyimpan terlalu
banyak. Setiap kali pulang ke rumah, saya banyak membuang dan menghibahkan
barang-barang yang dulu saya simpan. Entah untuk apa. (Tahun lalu, saya
menyumbangkan empat kardus buku yang tak muat di lemari buku baru, pun karena
saya berharap ada pemilik lain yang akan menghargai buku itu sehingga
memberikan nilai yang semestinya, amin! Meski demikian, saya cukup sentimental dengan mengatakan bahwa saya masih menyimpan surat-surat yang saya terima saat pekan orientasi siswa semasa SMA.)
Annapurna bisa
dibilang pengalaman tak terlupakan (dan bahkan masih saya tulis di postingan
ketiga ini), karena ini pertama kalinya (lagi) saya naik gunung
berhari-hari. Dulu, saat SMA, gunung-gunung Jawa Timur yang terkenal cukup
kejam selalu menghasilkan perjalanan panjang, nyaris tak pernah singkat. Bisa
sepekan, bahkan. Setelah bekerja, saya lebih sering trail running,
membuat perjalanan tektok jadi favorit. Tubuh belum juga sempat
beradaptasi, eh, sudah pulang. Jadi, recovery progress-nya pun
cukup menyenangkan (menyakitkan, sih). Jadilah saat akhirnya kembali di alam
bebas selama lebih dari tiga hari, penyakit laten saya kambuh: keseleo.
Sungguh, riwayat
keseleo ini selalu terjadi setiap kali saya naik gunung berhari-hari.
Saya tahu karena setelah sering tektok, saya malah tak pernah keseleo
parah. Otot kaki memang terasa membara, tapi itu di seluruh paha atau kaki,
bukan pergelangan apalagi telapak. Itu pun karena berlari di medan yang tidak
biasa. Selain itu, tektok tak mengharuskan saya membawa tas carrier.
Cukup bawa badan, beres. Sedangkan untuk perjalanan panjang berhari-hari,
selain membawa carrier, tubuh juga sudah mampu mengenali kelelahan.
Jadi, saat akhirnya keseleo lagi di Annapurna, saya pun sudah menyiapkan diri
untuk menghadapi rasa sakit.
Sebenarnya, ini
disebabkan perkara sepatu juga.
Ada untungnya juga
saya nganyari (menggunakan untuk pertama kali) sepatu trail running yang
saya beli beberapa waktu sebelumnya. Ini pertama kali saya ganti sepatu trail.
Sebelumnya, saya sudah cukup puas menggunakan Nineten Seri Yuza Evo berwarna
hitam yang saya beli tahun 2022 dengan harga Rp300 ribuan. Sepatu itu cukup
badak karena saya pakai trail run dan naik gunung berkali-kali tanpa
hambatan berarti. Saat pertama kali menerima sepatu itu dan break in dengan
lari di GBK, saya bisa merasakan perbedaannya dengan sepatu lari biasa.
Terutama dengan cengkeraman telapak yang dahsyat dan permukaan tapak yang tak
rata. Dengan medan trail running dan hiking saya selama ini, tak
ada keluhan. Sayangnya, sejak saya jarang naik gunung, Papandayan saya putuskan
adalah perjalanan terakhirnya. Meski terbilang singkat, apa yang dialami sepatu
itu cukup untuk membuat solnya mulai mangap dan bingkai kakinya mulai berubah.
Pergantian sepatu
ini ingin saya tuliskan karena banyak orang berasumsi bahwa olahraga itu mahal.
Nyatanya, sejak
pertama kali naik gunung “serius” (2010, ya, 16 tahun lalu), saya hanya pakai
sepatu olahraga biasa. Sepatu futsal berbahan plastik bermerek League berwarna
hijau yang dibelikan ibu saya waktu saya aktif jadi anak futsal. Saat kuliah,
saya hanya sekali-dua kali naik gunung. Itu pun sewa sepatu atau pakai sandal
gunung Eiger (yang dibelikan seorang senior di pencinta alam sebagai balas jasa bantuan saya
dalam pekerjaannya) yang juga sudah almarhum. Sandal gunung lain saya miliki
sebagai hadiah adalah Eiger berwarna merah yang ringan, tapi tak pernah rasanya
saya bawa ke ketinggian. Sandal ini terbilang cepat almarhum karena saking
jarangnya saya pakai.
Semasa bekerja, yang surprisingly dipenuhi banyak kegiatan di alam, Nineten itu saya beli untuk trail running maupun hiking. Saya bahkan baru benar-benar memutuskan beli sepatu yang layak untuk berkegiatan di alam setelah sekali ke gunung dengan sepatu sewaan dan kali lainnya dengan sepatu lari jalan raya. Artinya, saya baru membelinya saat benar-benar yakin akan menggunakannya. Pemilihan merek Nineten pun dapat dari rekomendasi senior di kantor yang mengatakan bahwa tidak perlu sepatu terlalu mahal untuk saya yang ke gunung sesempatnya. Beruntungnya, apa yang saya tekadkan saat membelinya terwujud juga mengingat ia sudah mampus menerabas Cisadon (mulai dari jalan santai sampai nge-loop alias bolak-balik dalam satu waktu), Rawa Gede, Datar Hamerang, Paniisan, Ciremai, Papandayan… dan lain-lain.
Ketika akan ke
Annapurna, Nineten saya sudah dalam kondisi kritis. Mengingat memang sudah
layaknya ia dihargai dengan pensiun usai waktu yang relatif singkat tapi
perjalanan yang brutal, saya pun beli sepatu baru, New Balance Hierro v9, dengan
diskon akhir tahun. Upaya saya untuk tidak menumpuk sepatu ini sebenarnya nyaris
sia-sia mengingat saya masih punya berpasang-pasang sepatu. Namun, itu
karena memang banyaknya keperluan yang mengharuskan saya punya beberapa sepatu.
Lari, contohnya.
Sebelum trail
running, saya lebih dulu berlari. Skala saya kecil-kecil saja. Saat menulis ini, saya belum
pernah maraton. Half-marathon beberapa kali dan daripada ikut lomba,
lebih sering karena iseng di GBK. Setelah sakit parah, saya malah membabat 30 km dua
kali dalam setahun, dan itu pun dengan sepatu lari pertama saya.
Sepatu pertama itu saya
beli khusus karena pengin berlari: Skechers Go Run Elevate berwarna navy
dengan harga Rp600 ribuan. Dengan sepatu ini, untuk pertama kali saya half-marathon
di road, Highlands Sentul waktu itu. Saya tak pernah beli sepatu
lagi sampai tahun berikutnya membeli New Balance yang saya tak tahu serinya
dengan harga Rp300 ribuan di rak diskon. Dua sepatu ini saya gunakan
bergantian, meski New Balance akhirnya “turun kasta” jadi sepatu kasual karena
dia sangat tidak sufisien untuk digunakan berlari. Hampir tak ada bantalan di
kaki, jadi sepatu ini cukup sering bikin sakit kalau dipaksa dibawa berlari.
Akhir-akhir ini, sepatu ini saya gunakan untuk ke gym saja.
Bertahan dengan itu,
saya baru bisa membeli sepatu yang lebih mumpuni untuk lari di tahun 2024. Itu
pun dengan bantuan voucher yang membuat harganya jadi diskon 50%.
Pilihan saya jatuh pada Hoka Clifton 9. Mungkin ini pilihan standar bagi
pelari, belum versi karbon yang canggih untuk para pelari cepat. Namun, dengan
harga yang ditawarkan, sepatu ini pun sudah sangat oke untuk pelari kambuhan
seperti saya. Seingat saya, untuk kompetisi, saya baru pakai half-marathon sekali.
Itu pun di tengah Kota Jakarta yang elevasinya terbilang datar. Rekor saya
dalam berlari justru saya pecahkan saat menggunakan Skechers Go Run yang kini
sudah aus solnya. Hal ini bukan disengaja. Saya sering lari jauh (20, 21, atau
30 km) saat sudah di tengah-tengah sesi. Dari rumah, saya terpikir hanya ingin
berlari 10 km saja (standar aman saya berlari tanpa persiapan dan recovery).
Namun karena cuaca yang teduh, spirit yang masih membara, atau lain-lainnya,
biasanya akan ter-extend begitu saja. Tak peduli saya pakai apa. (Saat
meraih 30 km kedua, saya berlari pakai sweatshirt kuning yang saya pakai ke kantor
siangnya dan Skechers.)
Saya kurang paham
fenomena “pelaci kalcer” atau “pelari skena” yang banyak bermunculan. Mungkin
karena memang saya sendiri tidak terpapar kultur pelari di media sosial atau komunitas lari secara umum. Hampir lima tahun melantai di GBK, saya tak punya teman. Saya
juga sering berlari tanpa memedulikan kecepatan, apalagi Strava. Bagi saya,
lari ya lari saja. Mengukur jarak dan kemampuan memang penting. Namun bagi seorang
pegawai kantoran yang tak punya prospek berlaga di Olimpiade seperti saya, tak
ada yang perlu saya capai atau kenali saat berlari. Personal record bagi
saya, ya… personal.
Sampai detik ini,
itulah sepatu olahraga yang saya miliki. Saya punya tiga sepatu kasual lain dan
dua sepatu formal untuk mengisi acara. Takkan saya beli kecuali harus ganti.
Masalahnya, tentu ada harga yang harus dibayar untuk pengorbanan (penghematan) ini.
Salah satunya,
keseleo tadi.
***
Tentu saja segala
kontrol dan kehati-hatian yang diterapkan dalam perjalanan berangkat akan
berbeda dengan perjalanan pulang.
Di Annapurna sekalipun.
Saat pulang, kaki
saya memang melangkah demikian ringan. Sue, yang sempat berpapasan dengan kami
beberapa kali, berkomentar saat saya mengatakan bahwa saya gemar trail run, “yeah,
I saw you RUNNING like it's nothing and I was like, huh…”
Makin tua,
perjalanan turun menjadi sama menyiksanya dengan perjalanan naik. Bagi banyak
teman, turun memberikan tekanan berlebih pada lutut, membuat tubuh lebih
tersiksa. Saya punya banyak teman yang bisa naik dengan ringan dan stagnan,
tapi beraduh-aduh saat turun. Berbeda dengan di masa SMA (muda) ketika turun
terasa jauh-jauh lebih ringan. Sementara bagi saya, berlari di gunung adalah
keriangan, apalagi saat sudah jalan pulang (karena tak sabar tiba di rumah, dan
malas berhati-hati. Perpaduan yang kurang bijak).
Syukurlah saya tak
punya masalah yang sama dengan lutut. Masalah saya justru ada di… pergelangan
kaki.
Jadi, seperti
kejutan yang diekspektasikan saat di tengah-tengah senandung saya antara Upper
dan Lower Sinuwa yang berdebu, saya salah mengalkulasi tinggi turunan dan mendaratkan kaki
secara tidak benar. Senandung terganti pekikan, dan saya harus meluruskan kaki
selama beberapa saat.
Rasanya tentu sakit,
apalagi saat kita bisa merasakan bagian kaki yang menekuk tanpa sewajarnya.
Namun, dengan ketiba-tibaan itu, rasa sakit akibat keseleo juga cepat mereda. Saya sudah berlatih jatuh (saking normalnya hal ini), jadi tidak melakukan hal ceroboh dengan menahan diri dan berdebum menghajar tanah tanpa perlindungan. Saya minum dan duduk beberapa saat tanpa melepas carrier, lalu membiasakan kaki kembali untuk berdiri dan berjalan.
Kali ini dengan berhati-hati.
Kaki saya pun masih
berfungsi seperti biasa hingga Chhomrong. Nyut-nyutan, memang. Tapi
rasanya masih terkalahkan oleh kelelahan. Belum lagi carrier yang makin lama
seperti ter-imprint di bahu. Nahasnya, saya mungkin menurunkan
kewaspadaan saya karena, ya, kan, sudah keseleo? Saya pikir karma itu tunai
sudah. Saya nggak berpikir macam-macam lagi dan berjalan sesantai mungkin.
Kok, ya, tepat
sekali di akhir perjalanan, sudah dekat dengan jembatan gantung Jhinu Danda yang legendaris,
saya kembali terperosok. Parahnya, saya yang kaget malah berusaha menahan diri
dan sengatan shock kedua kembali merambat. Serangan kedua ini yang membuat saya waspada karena saya tak sadar menahan diri hingga berteriak dua kali. Kali ini saya memutuskan melepas carrier, membuka sepatu dan kaus kaki, lalu
menaikkan kaki lebih tinggi. Adien tentu menatap saya dengan khawatir, sebab, bisa-bisanya
jatuh dua kali? Saya tak sampai hati bilang bahwa dalam keseleo kedua ini,
saya merasa serangan salah urat itu terjadi dua kali.
Rasa sakit kali ini
berlangsung lebih hebat. Saya sampai tertatih-tatih. Beruntung perjalanan hanya
beberapa ratus meter lagi. Namun, keseleo ini akan berlangsung sampai dua
minggu setelahnya, begitu ramal saya.
***
Perkara keseleo ini
bukan sekadar bad luck atau kecerobohan. Malah sebenarnya merupakan akumulasi
dari berbagai hal yang sepenuhnya saya pahami. Betul. Hal-hal yang tak saya
cegah sehingga dari risiko menjadi konsekuensi.
Salah satu yang
paling krusial adalah sepatu. Seperti yang saya ungkapkan di atas, saya tak
punya banyak sepatu untuk hal yang sama. Satu saja cukup. Masalahnya, saya
jarang sekali hiking. Hal ini membuat saya menyederhanakan kebutuhan
sepatu. Di awal, saya sempat terpikir membeli sepatu khusus hiking yang
tentu lebih dibutuhkan saat ke Annapurna Base Camp. Saat dipikir-pikir lagi,
kalau beli tapi jarang dipakai, ya… buat apa?
Apalagi, sudah jadi
pengetahuan umum bahwa banyak barang mounteneering yang justru rusak
karena tak pernah dipakai. Berbekal pemahaman ini, saya pun akhirnya memutuskan
membeli sepatu trail running, yang jelas akan lebih sering saya pakai
dan sedang saya butuhkan.
Penggunaan sepatu
yang tidak pada maksudnya ini tentu membawa konsekuensi. Apalagi, meski
medannya sama, nature hiking dan trail running sangatlah berbeda.
Bahkan, penampakan fisik sepatunya dalam sekali pandang saja terlihat bedanya.
Dengan permukaan tapak yang tidak datar dan seimbang, sepatu trail running sangat
membantu saat saya gunakan untuk menanjak. Ia kuat mencengkeram berbagai
permukaan, tidak licin, dan solid. Itu semua ditambah dengan keringanan yang
membuatnya mudah kering dan cukup fleksibel. Masalahnya, saat turun, tapak yang
tak seimbang tadi tentu membawa konsekuensi besar. Apalagi saat penggunanya
membawa tambahan beban hampir 10 kilogram di punggung.
Ditambah dengan
medan tangga yang justru membuat perjalanan turun jauh lebih sulit. Saat
turunan berbentuk tanah, saya bisa sliding atau melangkah kecil-kecil
dalam tempo yang cepat (mirip berlari), untuk turun. Namun, tidak dengan
tangga. Tangga mengandalkan tumpuan. Jangan pula bayangkan tangga ini seperti
tangga di gedung-gedung. Ini tangga alam dari batu, akar pohon, dan kadang tanah
keras, yang ketinggiannya tentu tidak sama satu sama lain dan sering juga tidak rata. Artinya, setiap
langkah adalah kemelekan hakiki: mata dan mata kaki. Selain keseleo,
jatuh terperosok atau kaki hilang tenaga adalah fenomena yang lumrah ditemui.
Dengan tangga, kita tak boleh main-main.
Dengan berbagai
kalkulasi ini, kejadian keseleo (dua kali!) ini bahkan seharusnya sudah bisa
diduga. It is overdue.
Lucunya, karena
sudah bisa menduga ini (plus memang habit saya keseleo), saya jadi lebih bisa
menerima ini sebagai… ya udah. Ibu saya khawatir, beberapa teman juga
menanyai. Dan saya pun nggak bisa berbohong. Memang sakit, tapi saya pernah
mengalami ini dan bisa menduga bagaimana akan berakhir. Mengikuti ini, yang
bisa saya lakukan hanya menunggu kesembuhan: mengompres pergelangan yang bengkak
dengan es, meminimalisasi bergerak, mengangkatnya ke tempat lebih tinggi. Biasanya, saya juga bebat dengan perban elastis. Namun kali ini, saya tidak membebatnya karena perjalanan saya tidak berhenti setelah Annapurna Base Camp.
Toh, nyatanya, saya jalan-jalan di Kathmandu dengan kaki bengkak sebelah ini.
***
Perkara keseleo ini
tidak pernah saya besar-besarkan karena memang bukan perkara besar. Setidaknya
bagi saya.
Bagi banyak orang,
apalagi yang belum pernah keseleo, tentu ngeri dan ketakutan dengan kondisi
kaki yang tidak hanya sakit, tapi juga membengkak tak terkendali. Saya pun
pasti akan begitu kalau menyadari ada yang tidak beres dari proses pemulihan.
Umumnya, bengkak karena keseleo bertahan sampai dua pekan. Bahkan hingga minggu
ketiga, saya masih merasa kurang nyaman ketika memutar pergelangan kaki.
Di pekan kedua,
sekali saya berkunjung ke gym setelah merasa sedikit lethargic karena setelah ekstorsi fisik lalu tiba-tiba padam begitu saja. Itu pun untuk latihan upper body.
Saya hanya coba berjalan treadmill pelan-pelan. Di pekan ketiga,
intensitas latihan saya tambahkan.
Kini, sebulan lebih
dari perjalanan Annapurna Base Camp, saya sudah pulih sepenuhnya. Latihan di treadmill
berlangsung normal: variasi jalan cepat dan lari, masing-masing dengan elevasi yang saya akrabi.
Saya tak tahu apakah
dengan menggunakan sepatu khusus hiking yang proper dapat
menghilangkan risiko keseleo tapi yang jelas bakal meminimalisasi. Sebab, sudah
nggak masanya lagi “bandel” dengan kekeh mengatakan bahwa esensinya ya sama
aja, jadi kenapa susah-susah beli baru. Mungkin juga jadi permakluman
mengapa banyak orang yang “menumpuk” barang. Karena pasti ada bedanya.
Namun di titik ini,
saya nggak merasakan kepuasan, atau kebutuhan, untuk melakukan itu. Keseleo
itu, saya anggap sebagai bentuk kepuasan juga. Karena mudah bagi saya untuk
tampak tajam, prima, segar, berseri (dan mungkin bahagia) jika tidak melakukan
apa-apa. Melakukan sesuatu pasti mengimplikasikan risiko di baliknya, dan
membawa konsekuensi pada pelakunya.
Namanya juga “pelaku”. Pasti ada “laku”-nya. Kadang, bagi saya yang merasa sesak (atau cukup) di Jakarta, sekadar “berlaku” saja sudah menggembirakan.
Meminimalisasi
risiko itu tentu perlu. Apalagi bagi kita yang baru mengambil
kesempatan-kesempatan baru. Hal-hal baru membutuhkan pembelajaran dan mungkin, mungkin,
saya sedikit lebih jago perihal keseleo kaki saya sendiri ini.
Jika nasib Nike itu akhirnya berakhir di pembuangan, saya malah mengembalikan Skechers saya ke rak, seolah tak rela untuk mencampakkannya. Namun, prinsip untuk tidak menumpuk barang tentu juga bukan hanya soal tidak membeli, melainkan juga berani melepaskan.
Di titik itu, saya pasrah kalau harus rela. Hingga tiba-tiba, saya berubah pikiran siang harinya dan membawanya ke tukang sol sepatu di pasar dekat kantor. Keesokan harinya, Skechers sudah kembali intact: solnya kini dijahit, seperti tak pernah rusak. Saya tidak jadi beli sepatu baru.
Ada tempat-tempat baik yang saya kunjungi dengan sepatu-sepatu ini. Ada momen-momen tak menyenangkan yang saya alami saat mengenakannya, bahkan mungkin banyak mengingat ini sepatu olahraga yang memang menyaksikan penderitaan demi penderitaan diperas dari tubuh saya. Memang begitu tujuannya. Dari sepatu-sepatu ini, saya justru belajar melihat banyak hal: kebiasaan saya, kemampuan saya, cara hidup saya, pandangan saya terhadap benda dan uang, hingga prinsip saya.
Saya mungkin terlalu sentimental menyikapi peristiwa keseleo. Dan seperti biasa, sering terlalu panjang melantur jika dituliskan. Namun saya ingin mengingat diri saya juga seperti memandang sepatu-sepatu ini. Yang ada di hadapan saya di cermin mungkin tidak seberapa bagi saya, tapi saya sudah melalui banyak hal dan semua itu berarti bagi saya sendiri.
Rasa sakit keseleo, nyeri di kaki, dan pegal di badan ini selalu saya nikmati. Konsekuensi yang menyenangkan untuk pengalaman yang tak akan mampu saya ulang.
***
Comments
Post a Comment