Come Back to Me, Annapurna
Januari lalu, saya ke Annapurna.
Sebenarnya, di titik
ini, pergi ke luar negeri seperti sebuah seremoni penambahan usia. Saya kira,
ini bermula pada sebuah percakapan sederhana, tepi ngalor-ngidul yang
selalu muncul setiap kali sedang dengan Adien.
Teman SMA yang
bertemu lagi saat saya kuliah dan ia sudah bekerja ini memang belakangan
menjadi tempat saya banyak mencurahkan isi hati dan pengalaman hidup. Saya
selalu mengira kami akrab semasa sekolah, mungkin ia punya pandangan berbeda
dan saya tak menyalahkannya. Jadi bagi saya, begitu natural bagi kami untuk
sama-sama bertemu di Yogyakarta meski nasib sudah jauh melangkah terpisah.
Kira-kira itu di
2020, tepat sebelum pandemi menerjang. Saya sedang berjibaku dengan bangku
kuliah (lagi), dan Adien sudah menjadi seorang mas-mas kantoran di sebuah NGO.
Dilihat dari sudut apa pun, dia sudah jauh melampaui pengalaman hidup saya
waktu itu. Ia bekerja dan sudah punya stance pada dunia, hal yang tidak
saya miliki di luar bangku perkuliahan.
Pertanyaan pertama
saya kira sederhana. “Kamu nggak pengin traveling, apa?”
Saya tak berpikir
untuk menjawab, “Aku nggak senang traveling.” Mungkin ia sedikit heran,
tapi bagi saya tak banyak elaborasi yang bisa saya paparkan. Saya tidak senang
dengan kegiatan packing-unpacking setiap kali bepergian dan sebenarnya
saya merasa sebagai orang yang cukup senang di rumah. Justru mungkin karena
terbilang remaja yang aktif, saya lambat laun menyadari betapa nikmatnya di
rumah saja.
Percakapan ini saya
kira terjadi berkali-kali karena Adien sering lupa dia sudah tanya (atau ingat
sudah tanya tapi tak ingat jawabannya), dan karena saya tak
mempermasalahkannya. Bagi saya saat itu yang belum pernah pelesir jauh-jauh
kecuali dengan keluarga, apa bedanya?
Variasi percakapan
pun berkembang hingga akhirnya Adien mengajak saya beneran. Saya kira,
pengalaman pertama saya traveling sendirian ditentukan pada sebuah
perjalanan yang eventful ke Vietnam, dua tahun lalu. Saat itu, Adien dan
Elis, teman bepergian saya, rupanya harus kembali ke agenda kantor di Bogor,
lebih dulu dari jadwal kami. Sendirian saya pun ke Đà
Nẵng. Sebuah pengalaman yang magical
dan majestic, begitu tepat membingkai pengalaman pertama saya
bepergian sejauh itu sendirian di luar keperluan kantor.
Sungguh, pengalaman
saya ke Đà
Nẵng lebih tepat jika disebut
perjalanan spiritual daripada perjalanan gila-gilaan, karena memang saya banyak
mengalami diri saya sendiri dan mungkin itu sebabnya saya pun tak banyak
menulis; karena memang tak banyak yang dibagikan lagi. Saya jadi pribadi yang
lebih calm (#yagitu).
Setahun setelahnya,
saya merayakan late birthday(s) di Thailand. Anggota tim kami berubah
dan bertambah, membuat saya menjalani petualangan paling chaotic dan
banyak tawa. Dari Bangkok, ke Pattaya. Lalu kembali lagi ke Bangkok.
Setelah itu, saya
dan Adien tarik ulur menentukan destinasi baru. Dengan keterbatasan biaya,
tentu pilihan bepergian pun tak banyak. Adien tak punya destinasi menarik
lainnya di Asia Tenggara dan saya cenderung manut saja. Sempat terlontar
mencoba destinasi yang biasa untuk petualangan yang tak biasa (seperti
gila-gilaan di Kuala Lumpur atau Penang), atau petualangan chill di
tempat yang sudah lebih familier (ke Hanoi, Sa Pa, atau Chiang Mai). Dua-duanya
menggoda. Saya belum pernah ke Malaysia dan tergiur dengan iming-iming kuliner
enak. Juga tertarik dengan Ha Long Bay, atau wisata kultural lainnya.
Itu sebabnya,
rencana perjalanan tak juga terwujud, bahkan sampai September 2025. Posisi saya
dan Adien yang juga berjauhan membuat komunikasi kami pun tidak terlalu intens.
Saya kira pada Oktober akhirnya kami cukup serius mempertanyakan destinasi
wisata, sebab tiket pesawat itu akan naik seiring berjalannya waktu, ke mana
pun tujuannya.
Hingga pada suatu
malam, Adien mengirimkan suatu pesan di Instagram. Saya kira konten brainrot
seperti biasa. Rupanya, sebuah pamflet digital perjalanan selama dua pekan
bulan Januari di tempat yang tak terkira.
Sama-sama tertarik,
persoalan selanjutnya adalah waktu. Dua pekan bukan waktu yang singkat,
terutama bagi pekerja kantoran seperti kami. Saya punya waktu cuti yang cukup
fleksibel, tapi tetap harus pandai-pandai memampatkan jadwal karena tinggal
jauh dari rumah dan butuh mudik sekali-sekali. Pilihan lain adalah berangkat
Maret, tetapi terganjal dengan lebaran.
Kami pun riset
kecil-kecilan dengan baca berbagai panduan perjalanan dan pengalaman
orang-orang yang bisa kami temukan. Dengan destinasi wisata yang begitu
populer, harusnya ini tak begitu sulit. Setidaknya, itu pikir saya.
Saya pun mengontak
agen perjalanan dan bertanya mengenai fleksibilitas waktu yang dijawab dengan
cukup tegas. Dengan destinasi yang cukup menantang bagi orang awam, diperlukan
persiapan yang mumpuni dan waktu yang cukup panjang untuk memastikan semua anggota
tim berada dalam kondisi prima. Dengan kata lain, 2 week window di
Januari itu sama sekali tak bisa diganggu gugat.
Saat akhirnya saya
dan Adien bertelepon, kami pun sama-sama memperdalam perbincangan tentang
kemungkinan terjadinya perjalanan ini. Saya membaca blog seorang traveler
berikut beberapa kutipan forum di Facebook sampai akhirnya berkata pada Adien,
“Iki nek gak gawe
agen aku wani, sih, Dien.”
Adien bertanya
memastikan.
Saya mengangguk
mantap, seolah Adien bisa melihat saya yang sedang bergumul di kamar indekos.
Tangan lain saya cekatan menggulir layar ponsel yang menampilkan “Itinerary
Annapurna Base Camp Trip” di sebuah web perjalanan.
Ucapan saya berarti:
“Tanpa agen pun kami bisa.”
***
Saya juga tak
menyangka bahwa karena kalimat itu, saya dan Adien akhirnya bertemu di Stasiun
BNI City pada Jumat malam, 9 Januari 2025.
Saya serasa
menggenggam jantung sendiri. Dag-dig-dug rasanya sebab begitu banyak hal yang
baru bisa kami ketahui saat kami jalani. Tas carrier 50 liter di
punggung terasa begitu ringan daripada beban yang menggayut di pikiran. Bagaimana
kalau begini, bagaimana kalau begitu, bagaimana kalau…, bagaimana kalau…
Namun, kami tak bisa
mundur lagi. Yang ada hanya maju, dengan dua tiket non-refundable di
tangan, tanpa bagasi.
Awalnya kami hanya
bisa saling lirik carrier satu sama lain. Berat yang diizinkan adalah 8 kilogram
dan meski kami cukup optimis tidak melampaui batas itu, tentu cerita berbeda
saat kepulangan nanti, sebab… kami pasti akan berbelanja. Ditambah, ini tiket
yang kami dapatkan susah payah, usah penerbangan berangkat dan pulang kami
dibatalkan sepihak oleh maskapai dengan alasan entah-apa. Biaya tiket jadi
melambung karena harus book menjelang keberangkatan dan bahkan hingga
sekarang pun saya yakin perjalanan kami takkan membengkak sedemikian parahnya
jika tiket kami tidak di-reschedule secara mustahil.
Begitu naik pesawat
(dengan dua carrier terparkir rapi di kabin), kami pun harus
mempersiapkan diri dengan perjalanan panjang. Transit di Chengdu dini hari
sebelum melanjutkan ke Kathmandu. Kami sempat berpikir akan keluar dari
bandara, tapi setelah mengantre hampir satu jam, rupanya petugas menolak
pengajuan kami dan menyarankan kami menghabiskan waktu di dalam bandara. Saat
itu, suhu di Chengdu sudah mencapai 3 derajat. Meski penghangat bekerja di
bandara, gate kami yang terbuka membuat kami menelan ludah merasakan
udara yang menggigit.
“Gimana di Annapurna
nanti?” saya bergumam sendiri.
Perjalanan ke
Kathmandu seharusnya kami lewati dengan tertidur sebab kami kurang istirahat,
tetapi keindahan pemandangan di luar membuat kami menghabiskan waktu dengan
bengong. Sejauh mata memandang, dari jendela pesawat, yang terlihat adalah
hamparan awan yang seolah tumpah ke daratan, menyelimuti pegunungan dan dataran
tinggi. Saya terpukau melihat lanskap pegunungan berbaris berantai tanpa putus
sejauh mata memandang. Diam-diam, kagum pada betapa luas dan ajaibnya China.
Bagaimana tidak? Saya bisa melihat ada jalanan yang membelah pegunungan, meski
terlalu jauh untuk melihat apakah ada yang melintas. Berjam-jam terbang, tak
juga kami melihat pemandangan lain.
Beberapa penumpang
yang berasal dari China pun bergumam, menyatakan bahwa ini pemandangan tak
terlupakan, bahkan bagi mereka yang berasal dari China.
Tiba di Kathmandu,
untungnya cuaca cerah. Saya dan Adien langsung keluar bandara, duduk di area
penjemputan, dan memesan tiket ke Pokhara saat itu juga. Begitu banyak yang
tidak pasti dalam perjalanan ini, kami baru berani beli tiket saat sudah
mendarat. Kami juga menukar dolar dengan rupee Nepal, sebab setelah ini,
perjalanan kami akan mengandalkan lembaran uang lokal ini.
Kami naik Yeti
Airlines, pesawat kecil dengan baling-baling yang punya banyak jadwal
perjalanan. Dua puluh menit mengudara, kami pun tiba di Pokhara. Malam itu,
kami habiskan untuk beristirahat dan beradaptasi sebisanya dengan udara dingin.
Perjalanan kami ke
Annapurna Base Camp baru dimulai keesokan harinya. Cukup siang, sebenarnya.
Penyedia jasa jip sampai geleng-geleng kepala saat melihat kami muncul pukul 12
siang tanpa rombongan untuk berbagi fare. Namun, kami tak menyesal.
Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan dan bersantai pagi harinya membuat kami
jauh lebih semangat dalam perjalanan ini. Dua setengah jam dari Pokhara, kami
diturunkan di Jhinu Danda, titik pendakian yang kami pilih untuk ke Annapurna
Base Camp. Dan, di sinilah perjalanan dengan kaki dimulai.
Saya tak pernah
menganggap diri saya pendaki kawakan. Pun tak pernah meremehkan Adien yang
malah tak pernah naik gunung “beneran”. Dari riset-riset asal di media sosial,
saya tahu bahwa pendakian ini tidak banyak hiking, tetapi trekking.
Alias, dengan modal kaki kuat, napas cukup, dan mental saja bisa dijalani.
Namun, rute dari Jhinu ke Chhomrong rupanya berkata lain. Perjalanan yang
dimulai dengan terlambat itu juga jadi lebih lambat. Elevasi naik dengan cepat
dan curam. Kami harus berkali-kali berhenti.
Tiba di Chhomrong,
hari sudah gelap. Kami menginap di lodge pertama yang kami temui dan
beristirahat sampai pagi. Hal yang sama berlaku keesokan harinya. Pukul 8 kami
bersiap, packing ulang, lalu berjalan lagi usai sarapan.
Chhomrong adalah
desa besar terakhir yang akan kami lewati. Tampak jelas kekayaan budaya yang
membuat kami ternganga. Deretan lodges yang tampak homey dan
hagnat menyapa. Sedikit menyesal kami tak sempat menginap di tempat ini. Di
sini, kami juga menunjukkan bukti izin perjalanan untuk dibubuhi cap. Setelahnya,
perjalanan berat kembali menanti. Jalan menanjak tiada henti menuju Sinuwa. Lower,
kemudian Upper. Dengan trek berbatu yang mengepul debunya ketika hari cerah
seperti ini. Tiba di Upper Sinuwa di tengah hari, kami makan siang untuk
mengisi amunisi. Di tempat ini pula untuk pertama kalinya kami berinteraksi
dengan trekker lain yang juga menjalani trek yang sama. Hampir semua
dari India. Kami menyimak juga rencana perjalanan mereka dan membandingkan
dengan milik kami (huh, is not like we have any).
Kami tak punya
target mengikat yang baku dalam perjalanan ini. Istirahat kapan saja apabila
lelah. Bicara apa saja. Merasa semua. Jadi hari itu, kami meneruskan perjalanan
lamat-lamat hingga Bamboo. Hutan sudah menutupi mata, dan kami bisa lebih jelas
melihat Machhapuchhre yang mirip ekor ikan di kejauhan. Pukul 4, dengan posisi
yang berada di lembah dan pepohonan yang pekat, sore dengan cepat bergulir.
Akhirnya kami
memilih lanjut berjalan. Sedikit lagi, begitu pikir kami. Menuju Dovan,
jalanan jauh lebih bearable. Saya bisa bersenandung dan lebih riang.
Kalau tidak, suasana jadi terasa mencekam karena gelap mulai turun. Perjalanan
1,5 itu kami tempuh dengan cukup lancar dan tibalah kami di Dovan, tepat ketika
hari mulai gelap.
Di depan sebuah lodge,
seorang trekker dari India menyapa, menjelaskan bahwa dirinya sudah
survei hampir semua lodge di tempat itu dan menyarankan kami menginap di
salah satunya karena paling murah dan lengkap fasilitasnya. Kami pun mengikuti.
Menu dal bhat menjadi santapan wajib tiap malam hari. Di tempat ini,
kami jadi tahu bahwa biaya di lodge bisa disatukan dalam package.
Package berisi makan malam, tempat menginap, kamar mandi, charging,
WiFi, dan sarapan. All include. Ada biaya tambahan bagi yang
ingin mandi dengan air panas atau punya kamar dengan kamar mandi dalam. Namun
bagi kami, itu saja sudah dari cukup. Kami bahkan tak ingin menuntut
banyak-banyak karena fokus dengan mengatasi rasa dingin (dan lelah).
Tidur cepat, bangun
pun cepat. Usai sarapan, kami mulai berjalan lagi. Tujuan kami hari itu adalah Machhapuchhre
Base Camp atau MBC. Meski Machhapuchhre sendiri sakral dan terlarang untuk
didaki, Machhapuchhre Base Camp adalah titik terakhir yang akan kami temui
sebelum tiba di Annapurna Base Camp. Namun saat itu, lagi-lagi kami terpengaruh
ide teman baru kami yang mengatakan dirinya akan menginap di Deurali, dan
langsung hitting Annapurna Base Camp keesokan harinya.
Saya dan Adien
langsung saling pandang.
Umumnya, trekker akan menginap di Machhapuchhre Base Camp, lalu bangun pukul 1 pagi dan hitting Annapurna Base Camp pukul 2 pagi untuk bisa mendapatkan sunrise yang gigantic. Namun saran teman baru kami ini menggiurkan sebab:
- Hari itu, kami tak perlu nge-trek terlalu jauh. Cukup sampai Deurali.
- Deurali adalah pos pertama yang mencapai ketinggian 3.000 mdpl, jadi penting bagi kami untuk lebih dulu beraklimatisasi (beradaptasi dengan ketinggian).
- Keesokan harinya, bisa langsung ke Annapurna Base Camp dan menginap di sana. Tak perlu nge-trek dini hari (saya sering merasakan ini dan tidak merekomendasikannya) di ketinggian 4.000-an mpdl.
Ini perjalanan hari
ketiga kami, 13 Januari. Keesokan harinya, tanggal 14, saya berulang tahun.
Tentu menyenangkan melewatkan ulang tahun di Annapurna Base Camp, titik
tertinggi perjalanan kami. Dan, kalau menuruti saran itu, kami pun bisa
merasakan tanggal 15 Januari di Annapurna Base Camp.
Bukankah saya sudah
bilang, ini birthday(s) trip?
Ya, dengan ulang
tahun beriringan ini, saya dan Adien memang melalui perjalanan ini dengan taat
tiga tahun terakhir.
Alangkah sempurna,
begitu pikir saya. Makin senang saat Adien pun setuju dengan ide ini. Dengan
rangkah ringan, karena istirahat cukup dan iming-iming jalan cepat, kami
melewati Himalaya. Cukup minum limun di sini. Kami juga melewati kuil besar di
tepi air terjun yang tampaknya menjadi highlight banyak trekkers lain.
Saat tiba di
Deurali, cuaca masih cerah. Baru pukul 2 siang. Saya dan Adien riang untuk
alasan lain: mencuci. Perjalanan panjang nyaris tanpa jeda sejak dari Jakarta
membuat kami menumpuk pakaian di tas carrier. Dengan posisi menjanjikan
yang lebih dekat dengan matahari, tentu ini perpaduan yang pas. Jadilah hari
itu, segala macam cucian kami terpampang nyata menghadap Machhapuchhre yang
agung, menanti kering. Saya bahkan bisa keramas dan berjemur, lalu membuka buku
yang baru saya baca kemarin harinya.
Di titik ini, saya
begitu tenang dan… cukup. Udara memang dingin, dan makin dingin. Namun
kehangatan hati ini seolah menjalar, membuat saya cuek saja pakai celana kolor
dan bertemu dengan cahaya matahari. Menyapanya di posisi terdekat yang saya
bisa.
Menjelang senja,
mas-mas penjaga lodge bermain gitar di undakan batu, tepat menghadap
warna oranye yang seolah luntur dibasuh gelap.
Saya jelas nggak
tahu dia memainkan dan menyanyikan lagu apa. Namun pemandangan di hari ulang
tahun saya itu takkan pernah terlupa seumur hidup.
***
Oksigen menipis
begitu kami “lepas landas” dari Deurali menuju Machhapuchhre Base Camp. Dengan
cepat saya ngos-ngosan. Napas jadi pendek sehingga tenaga pun cepat
terkuras. Padahal, saya sudah mengenakan pula pakaian berlapis di tas. Hari
itu, kami akan langsung hitting Annapurna Base Camp.
Di tengah jalan,
kami berpapasan dengan teman-teman yang kami temui di Upper Sinuwa. Mereka
sudah turun. Rupanya, mereka menginap di Machhapuchhre Base Camp, nge-trek
ke Annapurna Base Camp dini hari, lalu langsung kembali pulang.
“Is there a lot
of snow?” tanya Adien.
Mereka sontak
menggeleng tegas. “Its cold. But no snow.” Lalu mengatakan bahwa
semalam, suhu di Machhapuchhre Base Camp mencapai -14 derajat. Mereka hanya
bisa membeliak saat saya dan Adien mengutarakan rencana kami untuk menginap di
Annapurna Base Camp, yang jelas lebih tinggi. Dan lebih dingin.
Saya dan Adien
sendiri tak punya banyak waktu untuk berpikir ulang. Perjalanan sudah begitu
jauhnya dan kami pun komit dengan rencana yang ada mengingat tak ada faktor
berat yang mengubahnya. Tertatih-tatih, tengah hari kami tiba di Machhapuchhre
Base Camp. Seporsi nasi goreng saya lahap, tapi tak terasa ada energi
signifikan membantu saya lebih kuat. Baru juga jalan tiga puluh menit dari Machhapuchhre
Base Camp, saya sudah engap.
Di titik ini, laju
saya sudah tak terkira lambatnya. Padahal, elevasinya tak seberapa dari hari
sebelumnya. Trek-nya pun terbilang tak terjal. Kami berjalan melewati
bentang alam paling surreal yang pernah saya temui, dikelilingi
gunung-gunung putih yang tampak kejam tak mengampuni.
Harusnya kami
melihat Mardi Himal, Machhapuchhre, Gandharwa Chuli, Annapurna III,
Ganggapurna, Tare Kang, Khangsar Kang, Singu Chuli, Annapurna I, Bharha Chuli,
Annapurna South (Annapurna Dhaksin), dan Himchuli. Namun, kami terlalu lelah
untuk memisahkan mana dengan mana. Beberapa ekor anjing berlarian di dataran
lapang, sama sekali tak terdampak udara dingin yang terasa menggerogoti tulang.
Berbeda dengan kami, dua anak manusia yang mengkeret di balik lapisan baju
antidingin.
Yang bisa saya
dengar adalah degup jantung sendiri. Sebab, tak ada orang lain sejauh ini.
Bahkan saat Annapurna Base Camp sudah tampak dari kejauhan. Langkah saya hanya
bisa meniti perlahan mendekat. Seolah ingin minta izin. Alam bisa begitu
beringas dalam posisi yang tak diduga dan berada di tengah-tengah puncak-puncak
megah dunia ini membuat saya tak hanya kecil, tapi juga dikucilkan.
Saya bayangkan
beberapa hari setelah ini, saya akan bergelung lagi dengan selimut di indekos
saya di bilangan Jakarta. Mungkin duduk di kursi kerja, melihat paparan sheet
dan bukti cetak. Atau terjebak kemacetan dan sengsara. Saya tak bilang
bahwa di tengah-tengah pelukan pemandangan gunung ini saya lebih baik, mungkin
sama sengsaranya. Namun, saya tak berpikir untuk pergi. Atau berpindah tempat.
Untuk sejenak, saya
merasakan suatu ketenangan yang tak rusak, bahkan oleh saya sendiri. Tranquility
itu bahkan harus saya koyak agar saya bisa menemukan semangat berjuang,
karena perjalanan tinggal sedikit lagi. Ingin rasanya saya duduk dan berdiam
lama, atau berjalan sepelan mungkin dan sekecil mungkin jarak langkah. Kesunyian
ini begitu memekakkan sebab untuk saat ini, saya siap mati.
Ada banyak hal dalam
hidup ini yang saya jalani karena saya tak punya pilihan selain berjuang
gila-gilaan sekuat tenaga. Saya tak punya previlese untuk salah, kalah, atau
menyerah. Jadi, semua harus saya tangani sesegera mungkin saat itu juga.
Taruhannya begitu besar.
Pada perjalanan
siang hari tanggal 14 itu, saya seperti tanpa arah. Saya sudah bisa melihat
Annapurna Base Camp di kejauhan, pun Annapurna yang menyapa dengan pongah. Saya
sudah tiba. Saya rasa, saya tak punya beban apa-apa lagi dalam hidup
ini. Tidak untuk diri saya, tidak untuk kembali.
Dalam kisah-kisah
pewayangan, mungkin ini yang dirasakan ketika seseorang ingin moksa.
Maka saya harus
melakukan sebaliknya, agar bisa tetap hidup. Dengan bibir bergetar dan tubuh
menggigil, saya memaksa diri melepas sarung tangan yang saya beli murah di
Pokhara, membuka resleting tas, menarik ponsel dan membuka kamera (untuk
berhadapan dengan wajah yang hampa dan penuh tangis di balik mata), lalu
menyodorkannya pada Adien usai berteriak sekuat tenaga.
“Tolong fotoin,
dong.”
Jika para pembesar
moksa untuk meniada, berlaku sebaliknya adalah mengabadikan diri saya.
***
Cukup saya katakan
bahwa saat akhirnya tiba di Annapurna Base Camp, saya sudah di titik terlelah
dan sedikit dalam kabut trance, menyerahkan segala keputusan pada Adien,
dengan pengecutnya. Beruntung kami langsung bertemu lodge dengan reviu
bagus. Dengan cepat kami masuk ke kamar dan berbaring. Sepanjang perjalanan, menawar
adalah hal yang sebisa mungkin tidak dilakukan.
Saat itu, saya sudah
terus-terusan ingin menangis. Namun keringnya udara membuat saya menelan air
mata hanya bisa bernapas lega. Malamnya, pintu kamar diketuk. Kami harus makan
malam meski dingin lebih menggigit daripada lapar. Di hall yang cukup
kosong, penghangat dinyalakan. Saya dan Adien merapat dengan pendaki lain di
sudut meja panjang, memasukkan kaki dan tangan di bawah selimut meja makan
untuk merasakan hangat yang membuat nyaman.
Dengan dua trekkers
yang akhirnya kami ketahui dari Australia serta guide dan porter mereka,
kami pun mengobrol.
Sue dan Lisa adalah
kakak beradik yang sering kali menghabiskan waktu berjalan-jalan ke luar
negeri. Tahun sebelumnya, Lisa ke Kilimanjaro. Sementara Sue adalah atlet
dayung. Mereka ramah dan menyenangkan, langsung terkejut dan menyelamati saat
tahu itu ulang tahun saya. Pun ulang tahun Adien keesokan harinya. Awalnya,
kami sempat dikira suami istri, atau bahkan pasangan. Saat kami katakan kami
hanya teman, mereka mengangguk senang. Bagi mereka, tak banyak teman yang mau
diajak ke tempat seperti ini. Jujur, saya pun mengakui itu.
Mungkin kalau bukan
Adien, saya juga enggak mau ke Annapurna Base Camp. Tak peduli ia bukan pendaki
gunung.
Sebab sudah saya
katakan saya bukan pendaki gunung kawakan. Saya justru baru anak bawang.
Membawa orang lain tentu sama sekali berada di luar jangkauan saya. Di gunung, “mengajak
orang” tak bisa sembarang melepaskan tanggung jawab. “Mengajak orang” artinya
juga memercayakan diri mereka dan juga diri kita pada mereka. Ada banyak orang
yang tak ingin saya temui di kota, apalagi di gunung. Tak peduli seberapa kuat
dan bagus fisik mereka. Bagi saya, yang sudah jauh-jauh ke Nepal, pencapaian
adalah hal yang tak sepenuhnya menentukan perjalanan. Kami hanya harus intact
sejak awal sampai akhir, dan untuk itu, fisik bisa dibilang nomor sekian.
Malam itu, seperti
biasa, kami tidur cepat agar bisa menikmati highlight perjalanan: sunrise
di Annapurna Base Camp.
***
Comments
Post a Comment