Beranikah?


            Saya memulai posting hari ini dengan kata itu. Beranikah?
            Beranikah saya menulis apa yang ingin saya tulis ini? Tapi sejak kapan ada rasa ciut yang menyerang? Bukankah saya selalu loyal dalam berkata-kata? Bukankah saya selalu berusaha mengatakannya dengan baik?
            Ini bukan kaerna sekarang adalah malam tanggal 23 di mana esok hari akan ditentukan apakah kami para siswa kelas XII akan lulus atau tidak dari 3 tahun lamanya pendidikan ini. Juga bukan karena galau gara-gara tidak nemu sepeda besok saat gowes bersama teman-teman seangkatan satu sekolah. Bukan karena rasa kalut yang menjadi-jadi.
            Tapi karena malam ini, saya melihat kesungguhan. Dan saya sadar saya selalu merinding melihat ketulusan. Ketulusan yang benar-benar tanpa amunisi berupa pretensi. Ada perhatian yang tercurah walaupun tanpa kata-kata. Tanpa goresan huruf.
            Dia yang tanpa banyak bertanya, tanpa perlu merasa menatap saya dan meyakinkan bahwa saya baik-baik saja walaupun dia sendiri juga dalam kemelut yang bahkan lebih besar. Dengan singkat, dengan lusuh tangan dan rautnya. Memberikan saya hadiah yang takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Walaupun idealisme ini sudah mati diinjak-injak jaman retorika yang tak lupa memberikan kesan buruk bagi para orang-orang idealis ini.
            Saya tidak tahu apakah dia idealis. Saya juga tidak tahu apakah dia setuj dengan pandangan saya mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Betapa saya terkadang tidak percaya orang-orang di sekitar saya. Betapa saya jengah dengan hal-hal monoton yang nyaman dalam kehidupan ini. Saya pun tidak tahu, apakah telinga yang saya berikan menghiburnya lebih dari apapun. Karena saat melihat wajahnya, menatap dalam matanya, saya berkata; ”dia jangan sedih.. orang-orang seperti kita ini tidak boleh sedih, atau dunia akan membusung menatap kita.” Dalam hati, tentu saja. Mungkin agar walau sedikit, saya ingin dia membuang jauh semua kegelisahan dia.
            Dia sahabat saya.
            Seorang yang teramat dekat, selalu saya anggap teramat istimewa bahkan saat ia ada di depan saya. Berkata-kata dengan gayanya yang meletup-letup. Ia menanamkan harapan agar selalu membumbung dari tempatnya berdiri. Walau baru kemarin malam saya sadar betapa dia kehilangan cahayanya. Saya tidak pernah keberatan setiap hari bertemu dengannya. Berkata walau sekedar tidak penting. Mendengarkan walau sekedar ocehan.
            Hingga seperti itu. Suatu ketika, saat saya jatuh dan dia tidak ada, saya sempat berpikir apakah saya yang terlalu spesial menilai dia di sisi saya. Walaupun kami adalah sahabat. Tapi dia sahabat saya yang paling dekat. Dekat sekali sehingga saya ikut merasakannya saat lelahnya bersandar. Saya sempat merasa dia berubah. Saya sempat merasa dia menjauh. Lalu saat dia tiba-tiba ada, semua berubah. Dengan mudah ia menjadi poros dalam perbincangan kami. Dia orang baik.
            Saya sama sekali tidak menyesali apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Jauhpun ia, lelahkah perasaannya, bahkan hingga dingin yang menusuk-nusuk kulitnya, saya hanya bisa menatapnya dan berdoa. Ketahuilah, dia orang yang bisa membuat saya berdoa buat dia. Entah didengar atau tidak. Entah dipedulikan atau tidak. Entah terwujud atau tidak, apalah peduli seorang pendoa.
            Saya tidak pernah ingin jadi pujaan. Saya tidak pernah ingin diperhatikan orang. Apalah arti semua itu jika mereka tak tahu saya, jika mereka tidak pernah menganggap penting apa yang saya pikirkan. Tapi dia membuat saya sadar, bahwa ada orang yang bisa membuat saya merasa berada di bibir jendela sebuah suite room berbintang yang terhampar di belakang saya dan melihat pegunungan di depan saya. Dialah yang bisa membuat saya berlari.
            Apalah arti tangisan saya sekarang.
            Saya tatap buku bertumpuk yang tidak bisa dimasukkan lemari saking tidak muatnya, menggoda untuk dibaca bahkan saat saya tidak menatapnya. Itu buku dari dia. Itu buku pernah dia baca. Saya tidak kelewat romantis, sehingga bisa merasakan mata dia menelusuri dingin halaman demi halaman yang dia baca di sela waktu senggangnya. Di kamarnya yang berantakan. Saya hanya membacanya seperti biasa saya membaca buku-buku seperti itu. Saat bersama dia, saya tidak pernah merasa butuh jadi orang lain untuk menyenangkan dia, untuk membuat dia diam di sisi saya dan mendengarkan.
            Saya tidak berharap secerkas Dee dalam bercerita. Saya tidak bisa menemukan ’titik unik’ yang menjadi harga mati dalam setiap tulisan yang saya buat. Seperti punya Dee. Ia yang membuat semua cerita ringan menjadi penuh makna dengan hal-hal yang takkan pernah saya temui selain pada Dee. Pada ceritanya. Dee dapat menjual hal-hal kecil menjadi penuh penghargaan dalam sebuah kisah. (saya menatap hadiah dari dia yang teronggok dalam plastik bening di atas tempat tidur. Apa yang bisa saya lakukan agar bisa mengemasnya menjadi lebih berkesan agar indah dibaca orang? Tapi nyatanya saya tak lakukan apapun karena bagi saya, indah yang bisa saya lihat mungkin tak dipahami orang lain). Saya juga tak bisa seberlian Tere Liye menggurat twist dan alur dalam setiap cerita. Tepatnya, saya tak tahu hingga hari ini akan jadi apakah saya kelak. Akan bagaimana kita kelak.
            Tapi saya yakin saya ingin jadi orang paling berbahagia buat dia. Saat tidak lagi ada orang lain yang bahkan mau duduk untuk mendengarkan dia. Saat dia sendiri merasakan isolasi yang dibuatnya atas segala yang terjadi pada hidupnya. Atau apapun yang hidupnya lakukan pada dirinya.
            Apapun yang terjadi pada dirinya. Hal buruk apapun yang membuatnya lusuh dan tak lagi berjiwa. Saya ingin jadi orang yang tetap bisa tersenyum atas sekecil apapun hal baik dari setiap petualangannya. Saya ingin tetap kagum dengan segala kekonyolan yang terjadi dari setiap harinya.
            Saya ingin ada di setiap hal penting dalam hidupnya untuk membuatnya kembali bersemangat. Untuk menyorakinya penuh semangat saat ia menang. Untuk menjadi tukang foto saat ia punya hal-hal menakjubkan. Sekalipun untuk tersenyum paling lebar dan bertepuk tangan paling keras saat ia menemukan bintang selatan dari cintanya. Labuhan hati yang lama dicarinya, kusut diurainya. Saya tidak tahu apa namanya.
            Tapi saya siap belajar tentang hal paling tulus dan mendasar dari cinta. Dari dia. Saat suatu waktu, kami saling merindu satu sama lain. Meremang segala waktu bersama. Membalut setiap kenangan indah ini dengan senyum, tawa, dan ucapan-ucapan rindu.
            Saya janji, ini air mata terakhir.

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps