Melajunya 'Perahu Kertas'


Melajunya ’Perahu Kertas’


            Pada pertengahan tahun 2012, kita dikejutkan dengan menyeruaknya novel karangan Dewi ’Dee’ Lestari, Perahu Kertas. Novel tersebut menempati bagian best seller yang paling mencolok di berbagai toko buku Indonesia sehingga mau tak mau menarik perhatian publik. Resensi yang dicantumkan di belakang buku pun mau tak mau mengundang penasaran karena secara singkat hanya dijelaskan dua karakterisik tokoh utama novel tersebut. Dengan cover yang eye catching, dan terpampang jelas nama Dee sebagai penulisnya, kita tentu takkan ragu untuk meletakkannya dalam tas belanjaan kita untuk selanjutnya dinikmati.
            Sebutlah beberapa novel karangan Dee yang juga tiba-tiba booming dengan trilogi Supernova, sejak saat itu novel-novel lain Dee juga diburu penikmat novel. Seperti Filosofi Kopi, kumpulan cerpen dan prosa karangan Dee dari tahun ke tahun. Kemudian Madre, Rectoverso, dan lain-lain langsung laris diburu pembaca. Eksistensi karya-karya Dee tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata kendati sang penulis bukan berasal dari kalangan cendekiawan dan malah lebih dulu berkecimpung di dunia tarik suara.
            Banyak orang yang mengatakan bahwa Dee menulis untuk mengisi waktu senggangnya karena job menyanyinya tidak lagi selaris dulu di mana ia masih berjaya dengan trio Rida Sita Dewi. Benar atau tidak, yang jelas Dee membuktikan melalui karya-karyanya, bahwa ia benar-benar serius menulis dan berkarya sebagai sosok lain di ranah hiburan tanah air. Dalam karya terbarunya, Perahu Kertas, misalnya, Dee berhasil membuat sebuah cerita percintaan dengan mematahkan jargon yang menyebutkan bahwa setiap roman percintaan adalah roman picisan. Dengan gaya menulis yang mengalir, tanpa tersendat, selama 55 hari penuh, Dee menulis buku tersebut dengan mengandalkan dua tokoh beda dunia dan penuh keunikan, Kugy dan Keenan, dengan gaya kronologi yang runtut, manis, dan penuh kejutan. Tahap demi tahap ditulisnya dengan tempo yang rapi, momen yang pas dan tidak membuat serangan jantung karena cenderung tenang dan sarat dengan dunia percintaan masa muda, yakni jatuh cinta, patah hati, tak lupa juga persahabatan.
            Dengan menggunakan Perahu Kertas sebagai tolak ukur, sudah waktunya masyarakat mulai memahami karya sastra yang serius dan mana yang tidak. Mana yang percintaan dan mana yang seksual. Mana yang kolosal dan mana yang picisan. Dengan ceritanya yang dapat dinikmati kalangan remaja dan dewasa, Dee membuat kita berpikir jauh untuk menuntaskan segala pertanyaan mengenai teenlit maupun metropop yang bermutu, bahwa cerita cinta remaja pun dapat menjadi epik yang sangat menarik melalui cara mengemasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Intens

Mengapa ke Đà Nẵng

Aku Tidak Apa-Apa:)