Hitung Mundur
Hari ini, Sabtu, 13 April 2013 sesuai yang tertera
pada ObjectDock laptop saya ketika saya hendak mengetik.
Entah mengapa saya tertarik kembali
bertualang di word ini tanpa perlu mengungkap sesuatu yang berarti. Padahal
sebenarnya, bukankah itu setiap posting saya? Selalu mengungkapkan sesuatu yang
tidak berarti. Tapi saya tidak berusaha mengubahnya, sayang sekali. Karena
setidaknya saya jadi punya teman. Saya berpikiran untuk melebarkan range
posting yang ditampilkan di blog saya, tapi itu nanti saja. Saat sudah ada waktu
dan konsentrasi buat ke sana. Sekarang waktu dan konsentrasi saya sedang
tertuju pada lembaran putih ini. Setidaknya sampai saya menemukan kesibukan
lain.
Esok lusa saya sudah harus menjalani Ujian Nasional. Tapi
entah kenapa mata saya gatal luar biasa. Saya takut sakit lagi, jadi bintilan. -__- jadi
kemarin saya teteskan obat mata. Mungkin saya akan melakukannya lagi. Dan saya
harus mengurangi membaca sambil tiduran gara-gara Puguh memberi saya beberapa
novel sejak beberapa hari lalu sehingga saya jadi keranjingan.
Hari ini masih libur. Tapi saya tidak tahu mau apa di
rumah. Hanya beristirahat. Beberapa sekolah lain kelihatannya mengaktifkan
bimbingan hingga hari ini sebelum besok benar-benar istirahat di rumah. Tapi
saya sudah libur sejak Jum’at setelah sempat sonjo-sonjo ke sekolah-sekolah.
Hehe. Walaupun dikata lulusan SMP 2, tapi saya dan teman-teman alumni lain
malah nyambangi SMP 1 juga. Rencana mau ke SMP 5 tapi tidak jadi karena study
tour. Makanya teman-teman yang alumni SMP 5 hari ini ke sana.
Sejujurnya random sekali hari ini, saya mau posting apa.
Saya dapat beberapa film untuk ditonton minggu lalu dan saya tidak ada
ketertarikan menonton selain yang punya ’nama’ dan ’tempat’ di hati saya. Sebut
saja 200 Pounds Beauty (iya, ini film jadul, tapi saya baru lihat) dan Alice In
Wonderland. Bagus semua. Oh ya, Snow White and The Huntsman tidak lupa juga
saya tonton. Begitu pula The Hobbit walaupun belum juga selesai hingga saat
ini.
Sama seperti jutaan siswa kelas XII SMA lain di negeri
ini. Saya menghadapi ketakutan dan keraguan yang amat sangat tanpa saya bisa
mengendalikannya. Memang semua itu kan, hawa alam bawah sadar yang tiba secara
naluriah dan sulit dielakkan. Bahkan oleh siswa yang pintar sekalipun. Karena
semua bisa berubah saat Ujian Negara. Nilai-nilai try out saya memprihatinkan.
Bahkan tak pernah lulus gara-gara mata pelajaran Matematika yang selalu membuat
saya keteteran dari jaman saya SD, dan tentu saja saya tidak mau keteteran
sampai kapanpun. Jadi beberapa bulan lalu saya ambil les di salah seorang teman
Bunda yang memang expert dan mengajar Matematika. Namanya Bu Ifa. Cara
ngajarnya enak, nyambung, dan ramah. Saya jadi mengerti. Tapi tetap saja,
segala sesuatu tak bisa dipelajari sesingkat membalikkan telapak tangan.
Soalnya diubah sedikit saja, saya sudah kelimpungan. Hm.. Bahkan nilai 3,75
menghiasi mapel Matematika dalam Try Out Percobaan Kota beberapa waktu lalu.
Untuk mata pelajaran yang saya niatkan ke perguruan
tinggi yakni Bahasa Indonesia, nilai 8,80 tertera. Bahasa Inggris malah 9,..
Saya jadi ragu, sebenernya saya mau masuk jurusan Sastra Indonesia atau Bahasa
Inggris, sih? Ah, apapun yang Tuhan berikan, tentulah yang terbaik. Saya hanya
perlu berusaha dulu untuk menentukan impian dan jalan hidup yang kelak akan
saya terima. Untuk saat ini sebisa mungkin saya menjaga ketenangan dan
kemantapan yang perlahan-lahan muncul begitu saja, padahal saya tahu kurangnya
persiapan saya.
Tiba-tiba kemarin malam, saya kepingin naik gunung lagi.
Tapi gunung yang beda. Saya juga ingat Mas Rois yang sempat menjanjikan nemenin
naik gunung. Waktu itu saya spontan bilang, ”Arjuno-Welirang!” dan beberapa
saat lalu saya baca berita pintu gerbang kedua gunung itu sudah dibuka untuk
pendakian. Ah, saya jadi tergiur. Apalagi katanya di sana banyak arca sehingga
saya juga sedikit-sedikit tahu dan belajar sejarah setidaknya. Tentu seru
sekali naik gunung itu. Walaupun harus saya akui setiap kali saya naik gunung
saya merasa begitu jauh dari bumi. Dari segala kenyataan yang setia menghadang
saya kapanpun saya kembali. Ketenangan dan kesyahduan yang saya dapat seolah
membuat saya sadar, bahwa kita bisa mati kapanpun. Di sana, tak ada yang bisa
menyelamatkan kecuali rekan pendaki lain dan Tuhan. Sekali kita kehilangan
keduanya, maka keyakinan akan pudar seiring dengan tersesatnya jalan yang akan
kita lalui.
Pendakian terakhir saya di mana saya jadi satu-satunya
perempuan dalam pendakian membuat perjalanan jadi seru dan menyenangkan. Bukan
karena saya hanya membawa satu tas yang tak bisa dibilang carrier gede itu.
Bukan juga karena saya merasa diperhatikan. Justru saya harus banyak
memperhatikan teman satu kru yang kebanyakan lupa kalau mereka punya batas
istirahat untuk dilampaui. Harus menyingkirkan ego lebih banyak dari biasanya
(walaupun kemarin saya sempat sedikit ngambek di Kalimati, untunglah
teman-teman saya orang paling baik sedunia, hehe). Sempat juga terjebak
kelelahan berarti di lereng menuju puncak, sehingga saya sempat merelakan
mereka pergi tanpa saya. Tapi dasar laki-laki pejuang, mereka enggak menyerah
dan malah bersikukuh menggeret langkah saya yang sudah kehilangan tenaga. Untuk selanjutnya,
saya tidak mau seperti itu. Semua itu gara-gara kecerobohan malas makan sebelum
perjalanan. Padahal seharusnya perut itu diisi sebelum berjalan jauh, melewati
trekking yang sebenarnya alias nanjak puol.
Perjalanan dua hari itu jadi begitu berkesan karena juga
begitu singkat. Itu pendakian tersingkat saya rasanya! Hehe. Walaupun Lemongan
juga saya daki dua hari tapi kan, tingginya tidak seperti Semeru yang
jelas-jelas Puncak Tertinggi di Jawa. Itu juga resikonya punya teman-teman
laki-laki yang putus urat capeknya sehingga di hari pertama kami jos ke
Kalimati. Dini hari muncak, langsung packing dan pulang ke Ranu Pane. Wuah!
Puas sekali menuntaskan Puncak itu. Terima kasih buat partner saya deh, Nanang,
Rio, Fikri dan Andre.
Gara-garanya, kaki saya njarem luar biasa selama tiga
hari pasca pendakian. Bahkan ke kamar mandi pun jadi siksaan terberat saya
lantaran kaki saya jadi seperti besi. Tapi nggak apa, saya jadi pengen naik
lagi. Hehe. Saya sempat tergiur mendengar Argopuro dan trek terpanjangnya dari
beberapa pendaki lain di Semeru kapan hari itu. Asik juga setelah menjajal
puncak tertinggi kemudian mencoba trek terpanjang. Walaupun awalnya saya jeri
sendiri mendengar pengalaman teman-teman yang pernah ke Argopuro. Kebanyakan
misuh-misuh gara-gara Rijancokan (cocok sekali, bukan?) dan hujan yang tiada
henti di musim kemarau sekalipun. Walaupun sebenarnya musim kemarau itu malah
dingin banget. Pengalaman ke Semeru kemarin. Untunglah tidak hujan walaupun
berawan. Tapi hujan dan embun membuat lereng pasir penuh diskon jadi memadat
dan enak dipijak. Karena kami naik motor dari Probolinggo lewat lautan pasir
pun jadi bisa ngebut gara-gara pasirnya juga memadat dan enggak bikin motor
galau (racing banget kan, kami? Hehe). Pendakian dengan kru paling sedikit
hingga saat ini. 5 orang. Sempat diolok-olok mirip 5cm. juga kata keluarga yang
kami temui di Ranu Pane. Tak apa, sih. Toh kami yang sebelumnya belum jadi
orang tertinggi sekalipun sekarang sudah kebagian jatah sama rata. Ini bahkan
pendakian pertama Andre dan dia langsung muncak. Kalau Rio sempat menjajal
Argopuro sewaktu kami kelas X dulu dan juga sempat ke Lemongan. Nanang-lah
rasa-rasanya partner saya ke gunung manapun. Kami ke Lemongan bareng, Semeru,
dan Lawu. Kalau Fikri saya hanya sempat bareng di Lawu dan Semeru.
Waah, bicara tentang perjalanan-perjalanan itu tidak
henti membuat saya sumringah dan kepingin segera naik gunung lagi. Walaupun
tentu saja pasti akan lama sekali. Setelah Ujian Nasional saya juga terus mesti
belajar buat persiapan memasuki perguruan tinggi. Tapi setidaknya lebih longgar
karena sudah tidak butuh persiapan yang muluk-muluk dan sudah bebas dari jadwal
masuk sekolah. Artinya : saya harus beli buku sebanyak-banyaknya, nyewa film
sampai limit, dan mencari planing traveling.
Yang terakhir terdengar menggiurkan, bukan? Hehehe.
Teman-teman bahkan berencana ke Jogja setelah UAN. Ah, omong kosong mungkin.
Tahun depan juga ’setelah UAN’, bukan? :P
vgnsnss
Comments
Post a Comment