Kembang Seroja (II)
* sebuah cerita pendek yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Saat itu musim kemarau 1996. Aku mengingatnya sebagai sebuah penanda bahwa tanpa hari terpanas pun, aku mampu mendaratkan memar di pipiku dengan kesadaran bahwa aku mencintai kebohongan. Begitu mencintainya. Seingatku, aku tak pernah meminta apapun. Barang-barang mewah seperti gaun, high heels , perawatan kecantikan, fine dining , bahkan buku-buku diskonan di sebuah toko buku tempat aku biasa melihat-lihat. Meski demikian, ia memberikan apa yang mampu ia berikan. Tetralogi Pulau Buru menjadi milikku yang kehilangan suara mendadak di suatu waktu. Namun tetap saja. Aku tak pernah menuntut sesuatu untukku. Kesetiaan, kerja sama, kebaikan, kesempurnaan, perhatian; kupandang sebagai apa yang mampu ia berikan ketika kami sepakat untuk menjalin hubungan. Sementara aku berjanji hanya akan memberikan satu: sebuah paket lengkap dari hubungan yang selama ini kauimpikan. Berhenti sejenak. Aku merasa muak. Tentu, y...