Kalau Tahu Begini Jadinya...!

Hari ini bagaikan lautan air mata bagi saya. Benar-benar lautan.
Tak terbendung air mata yang keluar sejak sore hari hingga saat ini. Lepas menyeruak tak tertahan membanjiri pipi dan hati. Perlahan menetes mengulik sisa-sisa kebenaran.
Pantaskah saya bilang kebenaran itu?
Sebab saat ini saya pun tak berada di dalamnya. Saya tak pantas menyebutnya seolah-olah sayalah pencipta kebenaran itu sendiri. Karena selain saya lemah, saya cengeng bukan main.
Bukan tanpa sebab sebenarnya, karena tak mungkin saya tiba-tiba menangis tanpa suatu hal.
Tak ada yang menduga akan begini jadinya. Saat semua sudah fix, terkendala oleh ego dan dendam pribadi golongan yang mengalahkan sesuatu yang disebut kemauan dan kerja keras. Kalau tahu akan begini, saya tak akan ikut kegiatan ini sebelumnya. Tak pernah saya coba kenal Farid, Mbak Miranda, Mbak Aurora, Mas Dhito, Mas Eko, dan Mas Marcel. Tak pernah saya coba baca berulang-ulang naskah itu. Patutkah saya bilang 'bedebah' sekarang? (kalau ya, pada siapa?)
Namun begitulah. Semua berakhir pada 'kalau tahu akan begini jadinya..'. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Semua berjalan begitu lancar untuk mengawali pikiran dengan kalimat 'kalau tahu akan begini jadinya..'.
Hingga dengan mudah saya bersosialisasi dan mengakrabkan diri dengan teman-teman yang selama ini begitu asing ataupun bahkan tak saya kenal sama sekali. Dengan kerja keras saya bersosialisasi dengan naskah yang begitu diluar perkiraan saya. Dengan kemauan dan semangat saya berdamai dengan karakter itu. Saya menyerahkan separuh sifat saya untuk terisi oleh karakter yang coba saya mainkan. Yang coba saya jadikan.
Namun - sekarang saya selalu mulai dengan kata namun - kini semua tak terkendali. Peran itu, saya sudah dapatkan, kini lepas. Saya seolah dipaksa melepas karakter diri saya yang selama ini saya tumbuhkan dalam prinsip saya.
Bukan main sedih saya ketika harus tergeser. Rasa kecewa, patah, luka, sakit. Semua tak terbendung menjadi tumpahan air mata. Semua usaha saya, dan kawan-kawan yang lain untuk memperjuangkan saya pun sia-sia. Tak ada hasil sama sekali. Beginikah sesuatu yang diawali dengan 'kalau tahu begini jadinya..' itu?
Keparat! Bedebah!
Tak tahu lagi saya harus bicara apa. Tak tahu lagi saya harus menulis apa. Biarpun peran saya hanya 'digeser', rupanya sosok ego itu pun masih begitu besar dalam otak saya. Tak mau digusah pergi.
Baiklah.
Tak seburuk yang saya kira sekarang. Ya?


Namun lebih buruk :(

Kini semua rencana yang sudah saya susun berantakan.
Saya harus benar-benar melepaskan tokoh itu. Tokoh yang melekat itu. Dengan paksa. Melepaskan semua keterikatan dan ketergantungan dengan kawan-kawan yang sangat-sangat membantu saya untuk terus mengembangkan sosok lain dalam diri saya itu. Saya pun harus berusaha MENERIMA. Pengganti saya tentu lebih baik, tak merepotkan layaknya saya. Dan saya yakin dalam sekejap sudah ada gulir-gulir canda dalam obrolan teman-teman saya itu dengan'nya'. Saya teronggok.
Meskipun sekarang mereka bisa selalu menghibur saya, namun rasa sakit di hati ini tak terkendali. Lepas saja. Mengikuti alur yang selama ini terbengkalai. Tapi dalam waktu singkat, chemistry itu pasti ada. PASTI.
Dan saya tak bisa melakukan apapun. Saya tetaplah SAYA. Mungkin baru kali ini saya sebut penyesalan. Tapi bukan penyesalan jika tak datang belakangan, kan?



dear malam yang gelap,

vigna sinensis
riri

Comments

Popular posts from this blog

Intens

Mengapa ke Đà Nẵng

Aku Tidak Apa-Apa:)