My Own Steps
Ah, sudah kembali menginjak bulan Ramadhan:)
Seperti yang didengung-dengungkan. Inilah bulan penuh berkah dan penuh rahmat. Meskipun yang saya sadari berkah dan rahmat Tuhan selalu turun setiap saat. Bahkan pada jemari saya yang sedang menuliskan kata-kata ini. Di tempat-tempat ternista sekalipun.
Hari ini saya berpuasa dengan melewatkan kesempatan sahur. Ya, bisa saya bilang sial. Namun bisa juga saya bilang tak ada manfaat apapun bagi saya. Lapar? Sekalipun saya sahur dan menghabiskan sebakul nasi sendirian, rasa lapar adalah sifat harfiah dari setiap manusia yang memang tak pernah berkesudahan.
Ya ya. Bagus juga prospek bulan Ramadhan kali ini.
Sesungguhnya dalam Ramadhan kali ini tak ada yang saya harapkan betul. Segala yang saya inginkan bisa dibilang mustahil dan harus segera saya lupakan. Saya hanya berharap bisa full. Itu saja. Mengenai euforia Hari Raya Idul Fitri yang bagi saya selama ini hanyalah embel-embel dari gerakan pasar untuk menggebrak jumlah pembeli tak lagi saya hiraukan. Rasanya saya bisa beli baju kapan saja, tergantung keadaan. Tak hanya selalu pada Hari Lebaran. Dan saya merasa lucu jika ingat masa kecil saya yang selalu membanding-bandingkan pakaian baru dan angpao yang saya dapat dengan saudara-saudara saya. Tentu saja pada yang kedua saya mulai tak masuk hitungan. Entah, bisa dibilang sial ataupun untung saya ini.
Karena, jika saya dapat angpao, hal itu akan jadi alasan ampuh bagi keluarga saya untuk mengajak saya berkeliling kemana-mana guna silaturahmi ke saudara-saudara lama yang sudah hampir saya lupai wajahnya. Jujur pun, saat masa remaja saya, saya paling benci hal itu. Jadi jika akhirnya saya pun tak dapat angpao, selamatlah saya dari tour yang sama sekali tidak menjanjikan itu.
Mungkin saya ini terlalu kurang ajar memang. Namun lebih baik daripada harus datang dan mengantre untuk mendapat angpao bukan? Hal ini sama sekali tidak coba saya tanamkan pada keponakan saya. Biar ia berpikir sendiri jika sudah besar.
Saat-saat seperti ini, adalah saat-saat dimana penuh penantian dan penuh kesabaran. Semua tahu itu. Namun tak urung membuat saya lagi-lagi belajar.
Dulu, sebelum saya mengerti, saya hanya terus menunggu bedug adzan Maghrib berkumandang dalam penantian saya. Dulu saya berpikir berpuasa hanya menahan lapar dan haus. Menjaga hati, pikiran dan perbuatan tak lebih dari menjaga diri untuk tidak terus memikirkan makanan dan minuman, dan juga tidak membatalkan puasa sebelum waktu berbuka tiba. Tapi Ramadhan kali ini, ketika saya beranjak dewasa, saya sadar hal itu belum lengkap. Memang, tujuan awal puasa yang dijelaskan pada anak-anak adalah hal itu. Tapi bagi saya berarti lebih.
Nah loh, sekali lagi bagi saya. (saya kok masih tetep egois sih? -.-)
Hawa nafsu itu benar adanya tak hanya makan dan minum. Ada gejolak yang harus dijaga, terutama bagi remaja-remaja seumuran dan seperti saya. Dan itu harus dijaga. Baik laki-laki maupun perempuan. Sebenarnya sih, saya sendiri masih kurang tahu maksud detailnya bagaimana. Namun tentu saja semua sudah mengerti jelas kan, tulisan ini:)
Ramadhan kali ini adalah bulan puasa yang kesekian yang saya lalui tanpa kehangatan Mama saya. Ha ha.
Kok jadi cengeng? Ya karena manusia adalah makhluk cengeng. Kita mudah menangis atas hal-hal yang secara sensitif dan individual membekas ataupun menggores hati, lebih-lebih kantung air mata. Sekuat apapun orang itu, selalu ada air mata yang menetes karena air mata itulah yang dibutuhkan untuk menjadi kuat. Saya belajar hal itu.
Mungkin ini hanya kesombongan pribadi atapun kenangan tersendiri, namun baiknya saya ungkapkan saja sedikit.
Beberapa teman seringkali bilang saya ini orang kuat. Kuat mental, kuat fisik, kuat pertahanan, kuat tarikan, kuat orangnya lah. Padahal jika mereka melihat saya beberapa tahun yang lalu, terutama saat kematian Mama saya tersayang, mereka akan lihat sosok gadis kecil rapuh, cengeng, berurai air mata yang tak pernah kering, lemah, bodoh, neko-neko, manja, dan sebagainya. Saya ingat betul itu.
Dan saat ini ketika di cap begitu, saya cenderung hanya bisa tertawa garing. Ucapan mereka itu terlontar seolah mereka adalah orang yang paling lemah dan saya tidak pernah suka itu. Saya tak pernah merasa diri saya kuat. Saya hanya berusaha menjadi diri saya sendiri. Karena ketika mental saya terus meneriakkan kata-kata makian ataupun kata-kata kotor yang tak seharusnya, tubuh saya secara langsung merespon dengan menunjukkan keangkuhannya. Ia akan bergerak seiring dengan kemauan saya. Kemauan untuk terus berusaha dan berusaha lebih lagi. Okelah saya dibilang memaksakan tubuh dengan keinginan yang tak seimbang. Namun selama saya bisa dan itu membuat saya bahagia, kenapa tidak?
Teman-teman saya yang lain pernah bilang begini pada saya, "aku pengen dikasih sedikit dari kuatnya fisikmu. Mentalmu juga. Kamu orang yang kuat."
Saat itu lagi-lagi tawa yang bisa saya lontarkan. Mereka tidak tahu saya dan tidak berusaha mengetahuinya. Padahal saya ini orang yang hina. Orang yang lemah. Merasa lemah dan menjadi orang lemah itu berbeda.
Saya merasa diri saya ini begitu lemahnya, begitu hinanya. Dilatarbelakangi dengan kehidupan yang kelam namun tidak ingin saya tutup. Saya ingin membiarkannya menganga di belakang dahi saya untuk mengikrarkan pada semua orang inilah diri saya yang tak pernah mereka ketahui dan tak mereka perkirakan sebelumnya. Saya dengan kehidupan saya yang begitu tak indahnya hingga membuat saya bersyukur karenanya.
Padahal saya yakin, teman-teman itu bisa jauh lebih kuat dari saya. Bisa jauh lebih tahan terhadap cacian, makian maupun gertakan yang seringkali terlontar dari dunia daripada saya. Namun mereka terus-terusan melemahkan diri mereka dengan sugesti dan rasa tidak terima yang salah kaprah. Seperti yang saya bilang, saat saya lemah, saya selalu merasa diri saya ini sebegitu kecilnya di dunia yang tak berjangkau ini. Dan saat itu dalam diri saya berdengung kekuatan lain yang selalu memapah saya. Inilah keyakinan yang selama ini saya pegang teguh.
Tak selamanya manusia itu cengeng. Tak selamanya pula manusia itu lemah.
Ada kalanya, mereka merasa diri mereka begitu berharga, apapun caranya. Karena lagi-lagi saya tak bisa begitu saja memutuskan rantaian hidup ini. Yang seharusnya bisa dilakukan semua orang tanpa harus selalu melihat ke depan. Melihat ke belakang pun tak apa jika itu menjadikan landasan berfikir yang nomaden akan keyakinan yang tak berkesudahan.
Mungkin kalian temukan itu dalam kulik-kulik Ramadhan yang menjabarkan tentang berdirinya alam semesta tanpa perlu dijabarkan. Dan biarpun kalian sudah merasa menemukannya, jangan pernah terlalu sombong. Karena kita ini, begitu lemah dengan segala kesombongan dan kekuatan yang ada.
Happy Ramadhan:)
yang saat ini mencoba jadi orang lain. Hahaha. Tentunya tanpa satu orang pun yang mengerti.
vigna sinensis
sama sekali bukan riri lah.
Seperti yang didengung-dengungkan. Inilah bulan penuh berkah dan penuh rahmat. Meskipun yang saya sadari berkah dan rahmat Tuhan selalu turun setiap saat. Bahkan pada jemari saya yang sedang menuliskan kata-kata ini. Di tempat-tempat ternista sekalipun.
Hari ini saya berpuasa dengan melewatkan kesempatan sahur. Ya, bisa saya bilang sial. Namun bisa juga saya bilang tak ada manfaat apapun bagi saya. Lapar? Sekalipun saya sahur dan menghabiskan sebakul nasi sendirian, rasa lapar adalah sifat harfiah dari setiap manusia yang memang tak pernah berkesudahan.
Ya ya. Bagus juga prospek bulan Ramadhan kali ini.
Sesungguhnya dalam Ramadhan kali ini tak ada yang saya harapkan betul. Segala yang saya inginkan bisa dibilang mustahil dan harus segera saya lupakan. Saya hanya berharap bisa full. Itu saja. Mengenai euforia Hari Raya Idul Fitri yang bagi saya selama ini hanyalah embel-embel dari gerakan pasar untuk menggebrak jumlah pembeli tak lagi saya hiraukan. Rasanya saya bisa beli baju kapan saja, tergantung keadaan. Tak hanya selalu pada Hari Lebaran. Dan saya merasa lucu jika ingat masa kecil saya yang selalu membanding-bandingkan pakaian baru dan angpao yang saya dapat dengan saudara-saudara saya. Tentu saja pada yang kedua saya mulai tak masuk hitungan. Entah, bisa dibilang sial ataupun untung saya ini.
Karena, jika saya dapat angpao, hal itu akan jadi alasan ampuh bagi keluarga saya untuk mengajak saya berkeliling kemana-mana guna silaturahmi ke saudara-saudara lama yang sudah hampir saya lupai wajahnya. Jujur pun, saat masa remaja saya, saya paling benci hal itu. Jadi jika akhirnya saya pun tak dapat angpao, selamatlah saya dari tour yang sama sekali tidak menjanjikan itu.
Mungkin saya ini terlalu kurang ajar memang. Namun lebih baik daripada harus datang dan mengantre untuk mendapat angpao bukan? Hal ini sama sekali tidak coba saya tanamkan pada keponakan saya. Biar ia berpikir sendiri jika sudah besar.
Saat-saat seperti ini, adalah saat-saat dimana penuh penantian dan penuh kesabaran. Semua tahu itu. Namun tak urung membuat saya lagi-lagi belajar.
Dulu, sebelum saya mengerti, saya hanya terus menunggu bedug adzan Maghrib berkumandang dalam penantian saya. Dulu saya berpikir berpuasa hanya menahan lapar dan haus. Menjaga hati, pikiran dan perbuatan tak lebih dari menjaga diri untuk tidak terus memikirkan makanan dan minuman, dan juga tidak membatalkan puasa sebelum waktu berbuka tiba. Tapi Ramadhan kali ini, ketika saya beranjak dewasa, saya sadar hal itu belum lengkap. Memang, tujuan awal puasa yang dijelaskan pada anak-anak adalah hal itu. Tapi bagi saya berarti lebih.
Nah loh, sekali lagi bagi saya. (saya kok masih tetep egois sih? -.-)
Hawa nafsu itu benar adanya tak hanya makan dan minum. Ada gejolak yang harus dijaga, terutama bagi remaja-remaja seumuran dan seperti saya. Dan itu harus dijaga. Baik laki-laki maupun perempuan. Sebenarnya sih, saya sendiri masih kurang tahu maksud detailnya bagaimana. Namun tentu saja semua sudah mengerti jelas kan, tulisan ini:)
Ramadhan kali ini adalah bulan puasa yang kesekian yang saya lalui tanpa kehangatan Mama saya. Ha ha.
Kok jadi cengeng? Ya karena manusia adalah makhluk cengeng. Kita mudah menangis atas hal-hal yang secara sensitif dan individual membekas ataupun menggores hati, lebih-lebih kantung air mata. Sekuat apapun orang itu, selalu ada air mata yang menetes karena air mata itulah yang dibutuhkan untuk menjadi kuat. Saya belajar hal itu.
Mungkin ini hanya kesombongan pribadi atapun kenangan tersendiri, namun baiknya saya ungkapkan saja sedikit.
Beberapa teman seringkali bilang saya ini orang kuat. Kuat mental, kuat fisik, kuat pertahanan, kuat tarikan, kuat orangnya lah. Padahal jika mereka melihat saya beberapa tahun yang lalu, terutama saat kematian Mama saya tersayang, mereka akan lihat sosok gadis kecil rapuh, cengeng, berurai air mata yang tak pernah kering, lemah, bodoh, neko-neko, manja, dan sebagainya. Saya ingat betul itu.
Dan saat ini ketika di cap begitu, saya cenderung hanya bisa tertawa garing. Ucapan mereka itu terlontar seolah mereka adalah orang yang paling lemah dan saya tidak pernah suka itu. Saya tak pernah merasa diri saya kuat. Saya hanya berusaha menjadi diri saya sendiri. Karena ketika mental saya terus meneriakkan kata-kata makian ataupun kata-kata kotor yang tak seharusnya, tubuh saya secara langsung merespon dengan menunjukkan keangkuhannya. Ia akan bergerak seiring dengan kemauan saya. Kemauan untuk terus berusaha dan berusaha lebih lagi. Okelah saya dibilang memaksakan tubuh dengan keinginan yang tak seimbang. Namun selama saya bisa dan itu membuat saya bahagia, kenapa tidak?
Teman-teman saya yang lain pernah bilang begini pada saya, "aku pengen dikasih sedikit dari kuatnya fisikmu. Mentalmu juga. Kamu orang yang kuat."
Saat itu lagi-lagi tawa yang bisa saya lontarkan. Mereka tidak tahu saya dan tidak berusaha mengetahuinya. Padahal saya ini orang yang hina. Orang yang lemah. Merasa lemah dan menjadi orang lemah itu berbeda.
Saya merasa diri saya ini begitu lemahnya, begitu hinanya. Dilatarbelakangi dengan kehidupan yang kelam namun tidak ingin saya tutup. Saya ingin membiarkannya menganga di belakang dahi saya untuk mengikrarkan pada semua orang inilah diri saya yang tak pernah mereka ketahui dan tak mereka perkirakan sebelumnya. Saya dengan kehidupan saya yang begitu tak indahnya hingga membuat saya bersyukur karenanya.
Padahal saya yakin, teman-teman itu bisa jauh lebih kuat dari saya. Bisa jauh lebih tahan terhadap cacian, makian maupun gertakan yang seringkali terlontar dari dunia daripada saya. Namun mereka terus-terusan melemahkan diri mereka dengan sugesti dan rasa tidak terima yang salah kaprah. Seperti yang saya bilang, saat saya lemah, saya selalu merasa diri saya ini sebegitu kecilnya di dunia yang tak berjangkau ini. Dan saat itu dalam diri saya berdengung kekuatan lain yang selalu memapah saya. Inilah keyakinan yang selama ini saya pegang teguh.
Tak selamanya manusia itu cengeng. Tak selamanya pula manusia itu lemah.
Ada kalanya, mereka merasa diri mereka begitu berharga, apapun caranya. Karena lagi-lagi saya tak bisa begitu saja memutuskan rantaian hidup ini. Yang seharusnya bisa dilakukan semua orang tanpa harus selalu melihat ke depan. Melihat ke belakang pun tak apa jika itu menjadikan landasan berfikir yang nomaden akan keyakinan yang tak berkesudahan.
Mungkin kalian temukan itu dalam kulik-kulik Ramadhan yang menjabarkan tentang berdirinya alam semesta tanpa perlu dijabarkan. Dan biarpun kalian sudah merasa menemukannya, jangan pernah terlalu sombong. Karena kita ini, begitu lemah dengan segala kesombongan dan kekuatan yang ada.
Happy Ramadhan:)
yang saat ini mencoba jadi orang lain. Hahaha. Tentunya tanpa satu orang pun yang mengerti.
vigna sinensis
sama sekali bukan riri lah.
hmm...katanya waktu terlalu singkat tuk jd orang lain..
ReplyDelete"melangkah adalah kedepan"
good writing,kacang panjang.
emang. lagipula kata2 disana ada yg bertolak banget sama itu ya?
ReplyDeleteaku lebih suka melangkah kemana saja aku mau. Kedepan nggak akan kebelakang dan nggak akan ada depan tanpa ada belakang. Begitupun sebaliknya.
makasih:) ini siapa?
hmmmm...you will be know later...
ReplyDelete"pendirian"
can you think that??
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteNo.
ReplyDelete(for me)
for u ? I think u can digged yourself.
P.S. : I'm not be someone else. But I'm take a role of this. I don't hope u understand bcause there is no understanding here.
play puzzle with DIA,you will be know what live is.
ReplyDeletehmmm......anggap postingku yg ke 2&3 nothing.(g konsent )
ReplyDelete"ikhlas & bersyukur " sederhana saja.
ya atau tidak.
*pertanyaan menentukan.
dibuat buat kah postingan?? y / tidak.
*bukan postingan tp tulisan.
ReplyDeletekalo hidup ini adalah puzzle, aku rasa nggak akan ada kehidupan setelah kesalahan.
ReplyDeletedibuat-buat?
kalo cuma 'dibuat-buat' tidak akan menghabiskan waktu disini.
hmmm ...ada yang kelewatan....
ReplyDeletesaya pun sudah tahu jawaban anda.
bermain puzzle???pernahkah kacang panjang bermain puzzle??jika salah memasangkan bagian,pasti kacang panjang akan mencari pasangan yang pas kn??
hmmm...jujur malas kalau menerangkan disini..takunya salah nulis...
bagus saya suka jawabannya,kacang panjang...
" berpikir sederhana."
setiap kali saya bermain puzzle, adalah ketika saya salah, yang ada hanya kotak kosong. mencoba-coba dan mencari layaknya tak cocok untuk saya pribadi.
ReplyDeleteno. is like um...
think straight.
hmm....belum.bukan itu mksdku....
ReplyDeleteya sudahlah...by bondan.
hhehe
saya like think straight anda..
next time again,kacang panjang
hahaha..
ReplyDeletekacau ya?
*maksud saya, bahasa ibu anda.
hhmm.....kacau??saya g mau ngetik panjang..
ReplyDeletejgn membawa kata "itu" .
terus terang saya g suka..
hahahaha.
ReplyDeletelebih bagus daripada pendek tapi err.. rancau.
seperti saat anda berusaha menjatuhkan namun bahasa anda terlalu 'dipaksakan'. so share.
that I want to say, so say.
hhmmm...hhahaha...
ReplyDeletebenarkah??wait n see.
are u kiddin' ?
ReplyDeletefor what?
(what for?)