We're Not Born To Be Something We're Not
We’re not born
to be something we’re not.
Saya sedang kecanduan dengan film You Are The Apple Of My Eye yang dikasih
Rijal beberapa waktu lalu. Sebenarnya saat Rijal cerita tentang film ini, saya
tidak begitu tertarik. Karena Rijal bilang sejenis Suckseed. Saya malah tidak suka Suckseed,
dan tidak berminat nonton. Sejujurnya saya sengaja membatasi diri untuk
menonton yang terlalu hedon begitu.
Bukannya munafik, terkadang saya
memang nonton kalau sedang jenuh. Tapi lagi-lagi karena pengaruh popularitas, saya
jadi malas nonton (aneh, saya malah tidak suka nonton atau baca sesuatu yang booming terlebih dulu, mungkin
pengecualian untuk karya sastra tertentu J). Saya pernah
menyimpan Suckseed itu di direktori
file laptop saya. Tapi entah kenapa saya tidak tertarik sama sekali hingga
menghapusnya beberapa waktu lalu.
Akhirnya saat diberi Rijal pun
awalnya saya juga biasa saja. Plain
saja. Rijal sempat cerita beberapa bagian yang seru. Tapi saya pikir, “ah,
nggak begitu hebat, kok.”
Barulah saya bungkam saat nonton filmnya beneran.
Jujur
saya tidak suka film yang porno. Contohnya Euro
Trip. Memang kocak, sih. Tapi budaya mereka, kan, beda dengan kita. Mungkin
saya kecanduan budaya Jawa atau bagaimana, saya melihatnya bukan lucu, tapi nggilani. Saya juga tidak melihat nilai
apapun dari film itu. Persahabatan? Mungkin. Cinta yang diperjuangkan? Mungkin.
Tapi bukankah ada jutaan judul film lain yang juga mengetengahkan tema yang
sama? Letak sisi menariknya mungkin karena saya nonton saat saya sendiri
kecanduan baca The Naked Traveler
karangan Trinity. Jadi karena sama-sama ngaku backpacker, saya berniat nonton
sejak dikasih Puguh. Eh, lha kok baru sebulanan film itu ada di laptop, sudah
saya hapus. Padahal saya terkenal suka menyimpan film-film lawas yang saya
sukai untuk kemudian saya tonton lagi, apalagi bagian-bagian favorit atau
romantisnya. Berbeda dengan orang yang sekali nonton, hafal mati ceritanya,
lalu dihapus supaya tidak memboroskan sisa disk. Nah, mungkin disk saya sekarang sedang sekarat karena
sisa free space-nya tinggal belasan
giga. Barulah saya memanfaatkan disk E setelah disk D penuh begitu.
Nah,
ternyata saat saya tonton di waktu senggang, You Are The Apple Of My Eye ini beda. Sisi romantisnya kuat dan kocaknya dapat. Saran
saya, sih, buat para cowok. Cocok banget. Sense
of humor orang China itu mungkin tidak beda jauh dengan kita. Apalagi settingnya memang anak muda banget. SMA
dan mahasiswa. Ceritanya, sih, buat saya tidak ada yang khusus. Tipikal cerita
jaman jadul tentang berandalan yang jatuh cinta sama murid teladan. Well,
ternyata cerita itu berhasil dikemas dengan cukup baik sehingga saya tertahan
menontonnya. Impiannya benar-benar hidup, dan pornonya pun begitu. Tapi dasar
cewek, saya sih, enggak peduli selama ada bagian-bagian romantis yang mengena
di hati. Ternyata lumayan banyak juga. Ada quotes
favorit yang sengaja saya capture.
Cerita cintanya benar-benar hidup.
Hampir
bersamaan dengan saya mendapat You Are
The Apple Of My Eye, saya juga dikasih pinjam DVD Rectoverso sama Rijal. Lima cerita jadi satu. Bedanya dengan 4Bia maupun Hi5teria selain karena dua film itu memang film horror murni. adalah lima cerita ini
berpilin. Tidak runtut terus berubah judul. Semuanya punya judul masing-masing,
antara lain; Malaikat Juga Tahu, Firasat, Curhat Buat Sahabat, Cicak Di
Dinding, dan Hanya Isyarat.
Kelimanya tak tuntas dalammasing-masing judul. Tapi dibuat mbulet alias belum selesai cerita satu, muncul cerita lain yang
jelas-jelas berdiri sendiri dan bertolak belakang. Mungkin bagi mereka yang
tidak suka film berat ataupun novelnya sekalipun, akan merasa tidak mengerti
dengan film itu. Apalagi Dee, kan, bagi saya terkenal bisa mengangkat hal-hal
kecil menjadi detail yang super menarik. Contohnya saja peran sebuah sabun di Malaikat Juga Tahu yang disutradarai
Marcella Zalianty. Segelas air putih di Curhat
Buat Sahabat yang disutradarai Olga Lydia. Seekor cicak di Cicak Di Dinding oleh Cathy Sharon.
Tentang awan di Firasat yang
disutradarai Rachel Maryam. Dan tentang bola mata di Hanya Isyarat oleh Happy Salma. Saya sendiri suka Malaikat Juga Tahu. Kabarnya Lukman
Sardi juga mendapat penghargaan aktor terbaik dari film itu. Jelas saja, jadi
orang autis itu sulit sekali.
Saya
mungkin hanya sedikit me-review
’mereka’. Selebihnya saya fokuskan kepada quotes
yang saya dapat dari film-film tersebut yang masih saya ingat hingga saat ini.
Awalnya
saya belum mengerti kalimat yang diucapkan tokoh utama perempuan di You Are The Apple Of My Eye ; ”dalam
kehidupan manusia, memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil”. Tapi
setelah nonton hingga hampir habis, saya baru tahu betapa mengenanya kata-kata
sakti itu. Dan imbasnya, saya rasa kena dejavu
lagi. (lagi?)
Saya
sudah mengatakan di posting sebelumnya tentang kegagalan saya untuk melampaui
tes SNMPTN Undangan di universitas favorit saya.
Saya
memang down. Bohong kalau saya bilang
tidak. Sempat kalut juga. Bertanya-tanya juga, kenapa bisa begini dan begitu.
Padahal saya pun juga sudah begini dan begitu. Tapi kenapa? Pertanyaan itu yang
bergaung seolah tidak ada hentinya. Beberapa hari ini setelah saya ulang-ulang
nonton You Are The Apple Of My Eye,
saya jadi sadar Tuhan menyadarkan saya mengenai betapa mengenanya quote itu.
Karena
memang dari segala usaha manusia, banyak yang tidak membuahkan hasil.
Hal
itu wajar. Sama seperti saat
kita belajar limit, aljabar, eksponen, dan lain sebagainya. Siapa berani
bertaruh lima tahun lagi, walaupun saya sudah lupa bagaimana cara menulisnya,
saya tidak akan baik-baik saja? Apakah ilmu itu akan digunakan kalau saya nanti
membuka toko kelontong, misalnya? Kalau saya jadi diplomat, apakah bermanfaat
untuk menyelesaikan perkara antar negara? Kalau saya jadi koki, apakah
merumuskan resep harus pakai rumus log? Seumur hidup saya susah mempelajari
’mereka’ semua itu karena saya tidak pernah menemukannya selain di pelajaran Matematika.
Ya, toh? Berbeda dengan bahasa Indonesia, ataupun Ekonomi yang bisa saya dapati
bahkan saat saya menyalakan televisi dan nonton Metro News. Makanya saya tidak
kepikiran masuk jurusan IPA karena saya jauh lebih tidak kenal lagi dengan
Kimia dan Fisika. Entah, yang jelas mereka bukan saudara jauh.
Tapi
dari film itu saya sadar kalau memang kita tidak diajari untuk menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin saya dan kita memang pernah dan sering
mendapati soal cerita. Tapi masa ada? Enggak, kan?
Apa
yang diberikan pada kita saat itu saya rasa untuk mematangkan kita di jalan
yang kita pilih. Untuk menggodok kita menghadapi tantangan yang benar-benar
baru, karena di kehidupan nyata, ada banyak hal lain yang tidak bisa dijelaskan
oleh aljabar sekaligus. Saya selalu dibilangi kalau kesusahan dan kelelahan
saya belajar di bangku sekolah ini sama sekali tidak setimpal dengan apa yang
akan saya rasakan di kehidupan bermasyarakat kelak. Di kehidupan yang
benar-benar kehidupan. Hidup. Hingga lamat laun saya pun belajar dari sana.
Sama saat saya menganggap semua guru tidak menuntut seratus, tapi berusaha agar
kita bisa. Itu saja. Sesimpel itu sebenarnya. Bagi sebagian siswa, mungkin
cukup bisa tidak memuaskan rasa penasaran mereka. Nah, itu tergantung proporsi
masing-masing orang.
Nyatanya,
sekeras apapun saya berusaha, berdoa, bertawakkal. Saya toh, tetap tidak lolos.
Terima kasih Tuhan sudah mengingatkan saya dengan halus.
Buat
apa saya mencaci, apalagi berlagak sok bijak. Saya akui saya memang kesal tidak
diterima. Tapi sebatas itu. Tidak berniat protes, tidak ingin marah. Tidak
merasa dirugikan walaupun teman-teman saya diterima. Tidak iri pula. Toh,
mereka tidak pakai sepatu yang saya pakai (kan?). Mereka tidak akan tahu
rasanya jadi saya, jadi buat apa? Sama seperti mereka membiarkan saya, saya pun
membiarkan mereka dan berusaha sebaik mungkin mendukung.
Beberapa
waktu lalu juga saya sempat melihat status rekan-rekan saya yang tidak diterima
tentang ’betapa-omong-kosongnya-kata-penyemangat’. Mereka ngomel-ngomel di
jejaring sosial. Memaki teman yang bisanya Cuma SMS memberi semangat doang.
Apalagi buat mereka yang keterima dan SMS sok menyemangati. Saya jadi ketawa
sendiri. Nah, lho.. sekarang siapa yang sensi.. hehe. Seumur hidup saya, tidak
pernah rasanya saya menyalahkan siapapun yang menyemangati saya, walaupun
mereka jelas-jelas menyindir atau apalah. Saya rasa itu godokan tajam buat kita
supaya bisa menerima. Bukan malah mencaci. Toh, mereka sudah ada niat baik
untuk menyemangati kita. Tidak ada artinya jika kita malah balik judes pada
mereka. Status teman-teman saya itu, intinya kenapa walaupun ada reaksi tapi
tak ada aksi? (ini rumus
Fisika yang saya hafal setengah mati, saat Faksi=Freaksi J)
Saya
jadi aneh. Nah yang butuh disemangati itu kita atau anda? Kalau memang kalian
ingin disemangati, kenapa tidak bilang? Kenapa harus menyindir kalau kita yang
menyemangati ini tak ada aksinya sama sekali? Nanti kalau kita mengeluarkan
aksi, lalu berharap bagaimana? Sungguh saya heran dengan teman-teman saya ini. Bukannya
kata semangat itu lumrah? Atau mereka muak dengan kata memberi semangat yang
ibaratnya omong kosong? Ah, itu juga saya tidak mengerti. Saya percaya, untuk
memperbaiki suasana, yang kita perlukan adalah mengubah sudut pandang kita. Itu
saja. Lazim memang. Tapi benar ampuh. Saya berusaha memaknai semuanya setulus
mungkin. Seketika hati langsung tentram dan legowo. Jadi saya tertawai saja
mereka yang pasang status ngamuk-ngamuk itu. Hehe.. bahagia itu pilihan bro.
Saat pilihan saya untuk mencoba berbaik sangka tanpa pretensi pada mereka,
hanya nyengir jawaban paling ampuh. Bukan tangisan, bukan rasa kecewa.
Tergantung anda mau memilih bahagia atau tidak. Dan kalau melihat tingkah
teman-teman saya ini, saya rasa saya tahu mereka pilih yang mana.
~ ~ ~
Beberapa
waktu lalu, saat berada di bus dalam perjalanan pulang, saya duduk bersebelahan
dengan seorang bapak-bapak yang usianya mungkin diambang kepala 4. Orangnya
cukup menyenangkan dan baik. Saya pun mencoba berbaik hati pula padanya. Dan
itulah ajaibnya dua hati yang saling mau mengerti sedikit saja, kami langsung
jadi ngobrol sepanjang perjalanan.
Saya
bercerita tentang hidup saya yang sinetron dan ajaib, beliau juga. Kemudian
sampailah pada keinginan saya untuk kuliah. Di satu momen saat saya bercerita
tentang minat dan ketidaksukaan saya, bapak yang hingga saat ini tidak saya
ketahui namanya ini (kami juga tidak berkenalan) mengatakan sesuatu pada saya.
”Mbak
tau takdir?”
Saya
mengangguk mengiyakan. Batin saya menambahkan, ”qadha dan qadar kata guru agama
saya.”
”Seperti
itu, Mbak. Sama seperti saya, mungkin juga seperti Mbak nanti. Saya dulu juga
sama. Tidak mau sama sekali kerja jadi orang kantoran. Istilahnya di balik meja
dan terima tugas duduk di depan komputer seharian. Kerja dari jam sekian sampai
pulang kantor jam sekian. Tapi nyatanya, saya malah terdampar di sini. Jadi PNS
di kota orang. Dulu minat saya di wirausaha, walaupun Ibu saya memaksa buat
jadi tentara, saya nggak mau. Saya kuliah teknik di ITN. Tiga tahun, tiga kali
berturut-turut saya terus mencoba UMPT supaya bisa kuliah di ITS, tapi nggak
lolos. Itu takdir pertama saya. Selepas kuliah saya kerja serabutan, mencoba
berbagai pekerjaan untuk mengembangkan keinginan saya berwirausaha. Tapi
lagi-lagi bukan jalannya, Mbak. Selalu saja ada halangannya. Jalan ini nggak
pernah lulus, nggak pernah lancar rasanya. Hingga akhirnya saya ikut tes CPNS
di sini, dan diterima.”
Saya
diam. Meresapi kata-kata bapak itu.
”Itulah, Mbak. Nanti Mbak pasti akan
rasakan sendiri. Hidup Mbak
akan berpola sesuai yang dikehendaki Tuhan. Syukur-syukur kalau dikehendaki
Mbak juga. Selurus apapun jalan yang Mbak maui, doa, dan harapkan sejak
kapanpun, kalau bukan jalan takdir, perlahan-lahan akan membelok ke arah jalan
yang terbaik yang diberikan Tuhan. Suatu saat pasti Mbak akan dapat rumusnya.
Dan saat itu sudah di tangan Mbak, insya Allah semua yang Mbak lakukan bakal
lancar ke depannya. Lempeng dan dimudahkan sama Yang Kuasa. Beneran ini, Mbak.
Mbak ingat saja, saat melakukan sesuatu demi keinginan Mbak. Kalau selalu saja
ada hambatannya, berarti itu teguran dari Tuhan. Cara Dia membelokkan jalan
Mbak ke jalan Mbak yang sudah tertulis sebenarnya. Itulah saat Mbak harus
berhenti berusaha. Bukan menyerah, Mbak. Tapi kembali pada jalan yang sudah Tuhan buat buat kita.”
Saya tersenyum sopan, mengangguk mengerti.
Hingga
saya lagi-lagi kena gampar.
Saat
tidak diterima SNMPTN di universitas favorit saya, orang tua saya bilang,
”kalau semua usaha sudah dilancarkan begini tapi tidak lolos juga, berarti
memang bukan jalannya di sana.”
Hingga
saya terus terkatung-katung mengikuti SBMPTN, saya akhirnya cerita ke Puguh,
yang hingga detik ini masih saya rasa sebagai sahabat terbaik saya. Saya
terpaksa menangis di depannya. Tanpa bisa dibendung. Menyedihkan memang saya
ini. Sampai orang tua berharap sebegitunya, saya takut sekali mengecewakan.
Sungguh.
Saya
bilang, ”saya sering dan hampir selalu mendengar cerita tentang orang yang
minatnya di satu bidang, tapi ternyata apa yang dia jalani kemudian hari
bertolak belakang dengan apa yang dia impikan dan dia pupuk sejak lama. Rasanya
saat ini saya sedang berada di gerbang untuk menjadi orang seperti itu. Sedih
saja, rasanya bakal mengkhianati diri sendiri. Walaupun kelak saya merasa
senang dengan diri saya saat itu, saya pasti kecewa.”
Puguh
bilang dengan tenang, ”kamu pernah cerita ke saya tentang orang yang kamu temui
di bus waktu pulang. Masih ingat yang dikatakan bapak-bapak itu?”
Kontan
saya tertegun. Kenapa bisa Puguh yang ingat? Kenapa saya lupa sama sekali? Ah..
Saya
pun diam lama. Suasana bertambah haru saat hujan mulai mengguyur. Tidak saya
pedulikan helm saya yang terpasang di motor, siap menampung hujan.
”Tapi saya nggak ngerti. Kapan saya harus
berhenti. Sekarang, kah? Besok, kah? Bukankah kita nggak pernah tahu jarak kita
dengan apa yang kita impikan. Bisa saja besok saya berhenti berusaha, lusa saya
mendapatkannya.”
Puguh
hanya diam.
”Bukannya manusia harus terus berusaha?
Lalu kenapa harus pindah haluan? Apa itu adil? Kapan saya harus berhenti dan
mencari impian lain? Apa begitu? Saya tidak pernah tahu kapan saya harus
berhenti. Sejujurnya, saya tidak ingin berhenti.”
Kesunyian
yang menjawab saya. Mencoba tergugu dalam apa yang saya katakan.
”Kelak
jika saya berhasil survive di jalan
Tuhan itu, saya rasa saya tidak akan nyaman hidup di impian orang lain. Karena
saya percaya ada orang lain yang berharap dan berdoa, berusaha sama kerasnya
dengan apa yang saya lakukan dulu demi apa yang saya dapat dengan mudah ini.
Begitu pula orang yang dengan mudah mendapatkan apa yang saya impikan.”
Kembali
hanya diam. Berondongan pertanyaan itu memang tak patut dijawab. Tidak pernah
ada yang tahu kapan kita harus berhenti. Karena itulah semua jadi terasa sulit.
Karena pengalaman dan pemahaman yang berbeda dari setiap individu.
Lagi-lagi
quote dari You Are The Apple Of My Eye bergaung. Kali ini lebih agung, lebih murni. “Dalam
kehidupan manusia, memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil.” –Shen Chia
Yi.
~ ~ ~
Saya pernah ditanya, “apa yang kamu
harapkan?”
Saya
pun menjawab, entah dengan idealisme setinggi apa. ”Saya ingin jadi lebih baik.
Saya tidak berdoa agar semua ini lebih mudah, tapi saya pernah membaca pepatah
bahwa janganlah kita berharap semuanya lebih mudah, harusnya kitalah yang
berdoa agar kita lebih baik untuk menghadapinya. Saya juga ingat petuah dari
Douglas McArthur di puisinya Doa Ayah.”
Hati
saya pelan-pelan mencoba mengejanya.
Tuhanku
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui,
manakala ia lemah. Dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri, manakala dia
takut. Manusia yang bangga dan teguh dalam kekalahan, jujur dan rendah hati
serta berbudi halus dalam kemenangan. Bentuklah puteraku menjadi manusia yang
hasrat-hasratnya tidak menggantikan yang mati, putera yang selalu mengetahui
Engkau, dan insyaf bahwa mengenal dirinya sendiri adalah landasan pengetahuan.
Tuhanku
Aku mohon agar puteraku
jangan dibimbing dijalan yang mudah dan lunak, tetapi dibawah tekanan dan desakan
kesulitan dan tantangan. Didiklah puteraku supaya teguh berdiri diatas badai
serta berbelas kasihan terhadap mereka yang gagal. Bentuklah puteraku supaya
menjadi manusia yang berhati jernih, yang cita-citanya tinggi. Putera yang
sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum berhasrat memimpin orang lain. Putera
yang menjangkau hari depan namun tidak pernah melupakan masa lampau.
Dan setelah itu menjadi miliknya, aku mohon agar puteraku juga diberi
perasaan jenaka, agar dia dapat serius tanpa dirinya terlampau serius. Berilah
dia juga kerendahan hati agar dia dapat selalu ingat pada kesederhanaan dan
keagungan asli, pada sumber kearifan dan pada kelembutan juga pada kekuatan
asli. Dengan demikian maka, aku ayahnya, akan memberanikan diri dan berbisik :
”Hidupku tidak sia-sia”.
Saya mencoba mempercayainya.
Saya mencoba meneguhkan hati, agar percaya pada hakikat bahwa keris terbaik
tidak dihasilkan di keraton penuh kemewahan. Keris terbaik dihasilkan dari besi
yang dipanaskan berulang kali sehingga kuat menahan tempaan. Kelak ia yang akan
dicari untuk digunakan orang di keraton. Daun teh terbaik juga tidak dihasilkan
di tengah perkotaan penuh gemilang kehidupan dan kesenangan. Tapi di pegunungan
dengan suhu udara sejuk dan digodok berkali-kali, diolah berulang kali agar
menjadi nikmat. Maka kemudian ialah yang akan disajikan di hotel berbintang
sekalipun.
Walaupun hingga detik ini saya
belum menemui hakikat yang sebenarnya. Belum bisa mencocokkan apakah yang ini
atau yang itu yang cocok dengan filosofi keris dan daun teh tadi. Masih penuh
dengan bertanya-tanya tentang segala hal yang diibaratkan bila saya tak tahu
pun, saya masih bisa hidup baik-baik saja kelak.
Mungkin kekosongan masih
menemani saya dengan baik. Buktinya saya bisa bersahabat dengannya untuk melanjutkan
kata demi kata yang hendak saya pilih guna enak dinikmati. Kursor yang terus
berkedip ini juga masih setia menghibur saya. Mencercahkan harapan bahwa ia
akan mengerti saya lebih dari apapun. Mungkin Tuhan berbaik hati pada saya.
terima kasih.
Bau hujan dan tanah basah.
Comments
Post a Comment