Orang Ketiga (cerpen)

            Sama sekali tiada maksud aku mencoba memperhamba dirimu dengan membuatmu berbanding dengannya. Apalagi untuk mencela segala sesuatu dari dirimu yang begitu sempurna di mataku. Apalah artinya aku yang hanya mencoba, mengira-ngira, secara teknis semua ciptaan tak kasat mata yang kau tempuh sendiri. Tanpa aku di dalamnya.
            Namun tak tentu pula siapa aku untuk menuntut hak, ada dalam daya khayalmu yang mambu mengangkat Lawu dari akarnya?
            Tapi siapa sangka, hati ini bertaut pada yang bukan hakikatnya. Bukan pada romantisme yang mereka jejalkan dalam pikiranmu. Mereka, semua media yang kausebut sebagai penyangga kehidupanmu dengan dunia luar, dunia selain diriku di dalamnya.
            Terkadang aku tak habis pikir, betapa banyak aku tak ada di duniamu. Sementara satu-satunya dunia yang kupunya adalah kau yang bertahta di dalamnya. Terkadang aku merasa iri, merasa tersisihkan sebagai naluri seorang laki-laki. Yang selalu ingin diperhatikan, dinomorsatukan. Perlahan-lahan kau dan naluri perempuanmu berkata lain.
            Tidak, aku tidak ingin membayar mahal segala konsekuensi yang kutimbulkan akibat rasa ketidaksukaan pada duniamu. Kau terlalu berharga untuk disakiti, untuk dibiarkan tertegun dalam perasaan tidak mengerti. Aku minta maaf. Kau terlalu indah untuk dikungkung dalam kekangan. Aku masih ingin melihatmu terbang dan berlari.
            Kali ini kita duduk berdua di depan meja makan yang tidak ada isinya. Hanya segelas air putih yang kaugenggam erat-erat di jemari yang kerap menyadarkanku untuk selalu berjuang penuh itu. Kadang ingin kusibak kelam rambut hitam yang menjuntai di pipimu. Tapi kau tak pernah suka, kau biarkan saja hingga meraka ditiup angin, melambai-lambai penuh kepasrahan.
            Pelan tapi pasti, kulihat kerling matamu menatap ke tempat tidur. Di sana ia tergolek mesra. Bersenandungkan awan yang kerap dicela matahari saat menghalangi tugasnya menyinari alam semesta. Hal yang selalu kupertanyakan, apakah memang itu tugas matahari? Apakah ia terus seperti itu?
            Sebuah kontinuitas yang kupertanyakan mungkin tak ada artinya, sayang.
            Kini maafkan aku menomorduakanmu.
            ”Dia.. mungkin sejak awal, dia tak perlu ada,” kau mengeja perlahan, menggeram dengan suara tak tertahankan.
            Air mata itu sebenarnya tak perlu ada pula. Kalau saja kau tak menyinggung masalah paling pelik dari hubungan ini. Hubungan kita.
            ”Aku tidak merasa begitu..” aku mungkin lelaki pengecut saat mengatakannya.
            ”Bukan kamu. Tapi aku! Aku yang merasakannya. Harusnya kamu memang tidak merasa begitu..” dan dapat diduga, sepersekian detik kemudian bahumu luruh di sandaran kursi. Isakmu menyadarkanku betapa kau telah terluka tanpa kumaksud begitu.
            Aku mungkin lelaki paling bodoh di dunia.
            ”Kamu orang yang paling berharga bagiku,” kau berkata di sela-sela tangismu. ”Jangan nodai hubungan ini dengan dia, kumohon..”
            Kini giliranku yang terduduk lemas. Tak kuasa aku memegang tanganmu seperti biasa saat kau kehabisan daya. Di malam-malam panjang kita.
            Malam terus bergulir, menuntaskan perannya menjadi latar waktu segala kejadian dan tragedi berlangsung. Satu demi satu, aku menghabiskan waktu seperti ini selalu denganmu. Tapi masihkah kurang?
            Aku tahu sekarang. Kau tak lagi bermaksud pura-pura. Kini kau serius. Mengajakku untuk bertaruh. Mengajakku untuk meninggalkannya. Bagaimana pula? Aku dengannya enam tahun sudah bersama. Tidak sedetikpun aku meninggalkan dia kecuali pergi bekerja. Rasa sayang yang awalnya kau terima kini menjadi gonjalan bagi hubungan kita. Entah, seperti apakah wajahku sekarang.
            Sekarang kau tak lagi mau sungkan seperti budaya kita. Tidak lagi mau mengesampingkan diri sendiri sementara aku pun hanya jadi pelarianmu saat pulang. Akrab menunggu bersama dia yang tengah terlelap, walaupun dia tak pernah tahu. Siapa sebenarnya pemilik hatiku.
            ”Aku.. aku masih jadi pemilik hatimu, kan?” kau berkata lagi, pelan, dengan suara nyaris berbisik.
            Aku mengangguk.
            Tapi dialah yang mengisinya. Dialah oksigenku sementara kamu tidak bisa kupasrahi apapun dalam rongga tubuhku. Bagaimana bisa? Jika setiap pagi menjelang kamu pergi. Dan pulang saat sore datang. Kerap kali saat malam aku terkulai di meja, dialah yang menyelimuti tubuh kurusku. Sementara saat kau pulang, kau merengek minta ditemani tidur.
            Satu demi satu ketidakyakinan menguraiku menjadi hal yang tak lagi kukenali. Menjadi diriku dalam bentuk yang asing dimengerti.
            Kukira kau sadar itu.
            ”Dia putriku, Mer.. putri semata wayangku setelah keluargaku ludes ditimpa tanah longsor. Kau minta aku juga melepaskannya?” aku berusaha menuntut balik.
            ”Tidak. Aku tidak minta itu. Aku hanya minta kau benar-benar menyayangiku. Jadikan aku yang pertama. Sama seperti aku..”
            ”Apa? Terkadang aku merasa kaunomorsekiankan..”
            ”Kau tak pernah bilang..”
            Rasa ngilu menggigit-gigit hatiku. Ulunya terasa serak berdebam tanpa aku sadari ada apa. Semua roboh seolah hanya mendengarmu berkata-kata penuh kepolosan.
            ”Papa.. tante Mer..” benar dugaanku. Gadis cantikku, Juwita, terbangun.
            ”Iya, sayang?”
            ”Kalian lagi apa? Kenapa selarut ini belum tidur?” tanya Juwita, ia duduk dengan mata masih berat.
            ”Bukan apa-apa. Tidurlah, Juwita,” kau menjawab pelan.
            ”Tante kelihatan capek. Tadi sebelum tidur Juwita ingin menjerang air buat tante mandi air hangat. Tapi karena ngantuk sekali, Juwita hanya sempat membuatkan makan  malam. Tuh, ada di atas kulkas,” celoteh Juwita.
            Aku hanya menampilkan sebaris senyum yang pasti terlihat sangat kaku.
            ”Baiklah, baiklah. Juwita tidur di kamar saja,” Juwita yang baik tampak begitu pengertian. Ia melangkah gontai ke dalam kamarnya yang nyaris tak pernah digunakan saking seringnya ia tidur di depan televisi. Pintunya tertutup pelan.
            ”Gadis sebaik itu.. hendak kau singkirkan?” aku bertanya getir.
            Hanya diam yang bersahutan. Tak ada satupun respon yang kau tunjukkan.
            ”Justru karena ia sebaik itu.”
~ iam ~

Comments

Popular posts from this blog

Intens

Mengapa ke Đà Nẵng

Aku Tidak Apa-Apa:)