Dunia Yang Terlupa
Jumat, 7 Februari 2014. 23:03 di
ruangan 3x3 dengan dua pintu yang tertutup. Namun dentum maksimal.
Saya tidak mau dibuat menangis. Atau sedih. (siapa sih yang
mau dibuat begitu?) Tetapi terkadang segalanya terasa lebih bersahabat saat
kesedihan itu ada. Entah itu sugesti saya pada apapun yang kini bersuara dalam
otak saya ataukah memang inilah yang terjadi. Toh nyatanya saya tuntaskan juga
kegilaan saya. Di sini.
Lewat grup
chat WhatsApp dengan teman-teman satu jurusan, saya sadar minggu depan sudah
waktunya heregistrasi. Menyusul kemudian KRS dan perkuliahan semester 2 akan
segera dimulai. Entah apa artinya bagi saya.
Tiba-tiba
saya tertunduk. Saya lelah. Entah apa artinya pula itu. Mengingat satu bulan
liburan saya isi dengan tidak produktif kecuali bernafas-tidur-makan. Jadi
kelelahan saya sama sekali tak ada artinya. Apalagi dibandingkan kisah
anak-anak muda yang beberapa hari ini menyita hari-hari dan atensi saya dengan
riangnya.
Mendadak
saya terlalu lelah untuk sekedar merindui apapun.
Mengingat
harus membereskan tas, dan mengangkatnya seorang diri. Naik kereta. Membisu
selama berjam-jam. Kembali ke perantauan. Saya nyatanya hanya akan jadi mayat
hidup. Tanpa pernah saya mau tahu apa arti waktu yang melampaui saya tanpa
kendali ini. Saya masih tak rela. Saya masih tak rela melewatkan waktu-waktu
berharga itu dengan hanya berdiam diri dan lain sebagainya.
Saya
mendadak kosong. Kosong. Kosong. Kosong. Bukan ditinggalkan. Saya tak pernah
merasa ditinggali. Apapun. Hanya saja tiba-tiba apa yang sehari-hari saya
jalani seakan tertelan kekosongan.
Benarkah
saya harus kembali?
Adakah yang
membuat saya kembali selain keharusan? Adakah kata pulang itu membawa saya pada
rumah yang benar-benar rumah?
Saya tidak
sanggup..
Saya tidak
sanggup harus pergi dan meninggalkan keluarga ini begini. Saya terlalu tak
berdaya di sini, apalagi di tempat yang jauh itu.
Mendadak
Jogjakarta menjadi pulau di seberang lautan dengan kelip yang tak pernah mati.
~ ~ ~
Saya hanya
ditemani The Cure malam ini. Saya tak kuasa mendengarkan Michael Learn To Rock.
Apalagi The Beatles *buang laptop, beli baru*.
Tapi.. ah
masa iya saya dibikin nangis Natalie Imbruglia gara-gara Torn-nya? Nggak ah.
Saya harus bisa mengendalikan semua hal negatif ini menjadi kekuatan buat jari
saya menulis. Walau nggak ada artinya. Seperti sekarang.
Jadi
begini.. anggaplah dengan menceritakan secara urut apa yang saya jalani selama
liburan bisa membantu saya menguraikan kekosongan ini. Bisa memberangkatkan
saya dengan sukses kepada kelegaan seperti biasa. Itulah yang saya cari, bukan?
Suatu hari
di masa pengangguran tingkat tinggi saya, tiba-tiba sebuh pesan masuk lewat
salah satu akun socmed saya. Dari seorang adik kelas sewaktu saya SMA. Dia
meminta saya untuk membuatkan gerakan buat lomba di sekolah. Jadi di sekolah
saya ada POS SMASA (Pesta Olahraga dan Seni SMA 1 Probolinggo) dan salah satu
cabang yang dilombakan adalah Creativity dengan kategori tari modern dan tari
tradisional. Saya diminta membuatkan gerakan saja karena mereka sudah punya
konsepnya. Begitu. AWALNYA.
Namun usut
punya usut, pada akhirnya setelah pertemuan saya dengan kelas itu, kami
menyepakati untuk tidak jadi memakai konsep yang mereka punya dan memutuskan
untuk konsentrasi pada dance saja. Itu artinya, pekerjaan saya bertambah. Dan
full. Saya nggak bakal bisa membikinkan gerakan saja dan kemudian nyelonong
pergi. Jadi saya berikan pengertian lagi kepada mereka bagaimana cara saya
melatih dan sampai kapan saya bisa melatih. Karena liburan saya ada batasnya.
Jujur saja,
sewaktu ikut tim cheerleaders di SMA dulu saya sama sekali nol-putung soal
bikin gerakan. Kalo disuruh imitasi sih, oke. Tapi kalau bikin... itu bukan
keahlian saya sama sekali. Jadi, sadar akan hal ini, saya pun mengontak
teman-teman ex CheersOne dulu untuk dimintai bantuan. Kebetulan sekali kelas
yang minta bantuan saya ini merger antara XI IPS B dan XI IPA C. Jadi no
problemo lah, saya bisa ngelatih mereka. Latihan demi latihan, teman-teman saya
tampaknya sangat sibuk sehingga pada akhirnya saya harus mengurus gerakan.
Nggak mungkin tiap pertemuan kami hanya diisi chat doang, kan. Dengan gerakan
dan kreativitas seadanya, plus badan tua yang udah mulai kaku karena jarang
bahkan tidak pernah latihan, saya mencoba menularkan energi positif pada adik-adik
ini lewat gerakan saya.
Nggak
perlulah saya cuap-cuap mengenai proses latihan, karena nggak bakal ada yang
mau tahu juga. Yang jelas sejauh ini, mereka terus membaik. Saya salut, mereka
mau menyesuaikan jadwal latihannya dengan jadwal kepulangan saya yang semakin
mendesak. Bahkan hampir setiap hari di musim begini mereka latihan. Sampai
malam. Sampai Pak Suhur, Dewa Angin SMA 1, sering protes dan ngomel-ngomel
karena kami tak kunjung pulang padahal esok sekolah.
Katakanlah
saya Cuma jual abab (baca : bau mulut) aja. Tetapi setidaknya saya ingin
berbagi dengan mereka. Ada hal-hal indah yang takkan mereka lalui dua kali, dan
saya ingin mereka sadar mulai sekarang. Akan banyak hal yang lebih baik
dijalani walaupun konyol daripada terlewatkan begitu saja.
Berhari-hari
hawa sekolah merasuk ke tubuh saya dan perlahan mengisap saya pada kenangan
demi kenangan yang saking inginnya saya bawa pulang.
Saya masih
ingat koridor tempat saya dan teman-teman saya mengeluh. Jalan berpaving tempat
kami moving class. Kelas tempat kami berbagi banyak hal. Bangku tempat kami
belajar sampai jadi alas joget. Semua. Semuanya. Saya ingat. Ingat sekali.
Saya rindu
sekali.
Tetapi tak
ingin mengulangi.
Saya hanya
ingat saya pernah pakai seragam. Saya pernah lihat teman-teman saya pakai
seragam. Saya pernah ingat kami seperti apa. Saya pernah ingat kami saling
menyayangi tanpa pernah terucap. Tanpa sempat terucap.
Hari-hari di
mana saya tidak mengajar atau sebelum mengajar, saya akan melewatkannya bersama
sahabat-sahabat terdekat. Rika yang sering bolak-balik Malang-Probolinggo, Dyah
yang juga sedang liburan dari studinya di Jember (btw, happy birthday baby girl
:*), Dewi yang menyempatkan pulang dari Solo, Rio yang juga di Jember, Rijal
yang selalu ada dengan segala kesannya dari Surabaya, dan lain-lainnya.
Hari-hari
kami hiasi dengan hunting foto, belanja, curhat-curhatan, ngegosip,
jalan-jalan, makan, dan lain sebagainya. Atau seharian Rio atau Rijal di rumah,
sekedar ngobrol dan do nothing. Sama-sama share ketiadaankerjaannya kami di
masa liburan panjang. Nggak ada yang merasa kehilangan. Cuma kurang lengkap
gara-gara Fauzi masih sibuk dengan kegiatan Pencinta Alam-nya.
Katakanlah,
akumulasi hal-hal itu membuat saya terdampar pada kelelahan saat mengingat
dunia lain yang harus saya jalani selepas masa liburan ini.
Makanya,
saya tak mau datang ke Jogja kemudian jet lag gara-gara liburan yang sangat
easy-going ini. Setidaknya beberapa hari lagi saya harus angkat tas untuk cabut
pulang ke perantauan dan membereskan diri serta kamar saya terlebih dahulu.
Barulah saya siap untuk menjalani hari-hari kemudian.
~ ~ ~
Saya sedang
skeptis.
Dengan
apapun. Dengan banyak hal.
Terutama
lelaki. Termasuk lelaki.
Om Mahbub,
teman Ayah yang sering chatting dengan saya di facebook sempat memberikan
beberapa wejangan mengenai a good boyfriend.
"A Good Boyfriend : Knows you, trusts you, loves you, respects you, honors you, supports you, wants you, and appreciates you."
Entah kenapa saya ingin menyinggungnya. Mungkin karena saya sempat bertemu Om Mahbub saat sedang mengobrol di teras rumah bersama Ayah beberapa hari lalu. Yang jelas, teman Ayah itu menasehati dengan begitu baiknya.
Mungkin
gara-gara kejadian beberapa hari ini saya jadi semakin tidak tahu arah begini.
Jadi gampang tersugesti atau terbodohi. Mungkin.
Saya tak mau
jadi begitu bodoh dan sempit berpikiran. Apalagi kalau berkaitan dengan karma
dan lelaki. Saya mungkin baiknya memilih no comment namun entah kenapa saya
juga tidak berniat menuliskan apapun yang membuat saya percaya saya memilih
untuk no comment. Mengantuk benar saya ini.
Hanya saja..
kadang saya harus menahan diri untuk berkata “semua lelaki itu sama saja,”
karena memang nggak begitu kenyataannya.
Inilah titik
kulminasi kelelahan dan kebosanan menjadi satu.
Saya ingin
keluar dan berkata “hell” untuk semuanya. Tetapi tak ada kesenangan yang saya
dapat dari sana. Saya ingin keluar semalaman dan menghirup kopi serta nikotin
yang melesakkan saya sekaligus. Tetapi tak ada yang membebaskan saya sama
sekali.
Saya sudah menari
setiap hari. Saya mengeluarkan semua keringat penyakit kemalasan yang tak henti
menghantui setiap saya di Jogja. Tetapi tak mengubah apapun. Saya pun sudah
makan banyak-banyak untuk menghalau segala penyakit sekaligus perbaikan gizi
serta berat badan yang sempat keropos. Tetapi tak ada gunanya.
Tujuan saya
: NOL.
Saya ingin
ada di titik henti.
Comments
Post a Comment