Tentang Hidup
Judulnya, sih, badai. Tapi isinya
nggak sekental judulnya, kok.
Sebenarnya beberapa hari ini sedang
ingin menulis banyak-banyak. Karena blog yang sudah lama tidak dikunjungi, pun
karena sedang banyak dorongan untuk menulis. Hanya saja, lagi-lagi tersandung
feel dan mood yang entah kenapa tidak juga berpihak pada Ms. Word ini.
Setiap lihat kursor berkedip di
layar berisi kertas kosong serasa writer’s block. Nggak tahu mau menulis apa
dan bagaimana. Ide-ide yang muncul beberapa hari belakangan mendadak gelap.
Nggak kelihatan apa-apa, gitu. Sebenarnya pun juga bukan ide nan bombastis
apalagi yang bakal bersejarah. Hanya saja, bagi saya pribadi semakin lama
waktu-waktu kuliah menjadi semakin tidak produktif. Misalnya, kini saya memilih
menulis ngawur begini daripada membaca buku Sintaksis sebagai tugas dari dosen
saya minggu lalu. Lah bagaimana.
Hanya saja, kini saya memaksakan
jari seperti biasa. Tidak terlalu sulit, mengenang saya sering menulis hal-hal
yang tidak saya inginkan (tugas, contohnya). Kini saya ingin menulis sesuatu,
lalu kenapa tidak digerakkan saja? Ah, semakin lama saya semakin ngawur.
Semakin ke kanan dan ke kiri tanpa peduli jalurnya.
Baru saja saya nonton ulang 12 Years A Slave. Sudah pasti tahu film
ini, kan? Film yang sukses memborong Oscar beberapa waktu lalu ini sudah jadi
fenomena dalam dunia perfilman. Dulu saya pernah nonton, tapi karena
sesenggukan sampai akhir jadi tidak ada yang perlu dituliskan. Kini saya
mencoba memahami isi film dan apa yang ingin disampaikan dari sana. Atau
setidaknya keadaan di mana si film maker ini menciptakan ruang untuk berpikir
dan menciptakan medan makna sendiri. Wuih, iya deh yang habis kuliah Semantik.
Ah. Kacau.
Ketika tiba di bagian akhir di mana
si pemeran utama mengatakan permintaannya pada Brad Pitt untuk menyampaikan
surat pada temannya di Utara, tiba-tiba pelan-pelan saya merasa jawaban atas
pertanyaan saya belakangan sudah tersedia. Tinggal apakah saya bersedia
menerimanya atau akan terus mengingkarinya.
Pertanyaan saya beberapa hari lalu
adalah selalu; untuk apa saya hidup?
Bukan pertanyaan yang mudah. Sejak
saya tak begitu punya tujuan hidup. Saya hanya punya target dan keinginan yang
entah kenapa selalu melantur tak karuan. Hanya punya kesenangan-kesenangan yang
mudah sekali luntur.
Dan saya berpikir.
Dunia ini penuh dengan tragedi. Akan
kejadian-kejadian menyedihkan. Ataupun menyeramkan. Menyeret jutaan manusia ke
dalam derita tak berkesudahan. Mengorbankan jutaan hati yang harus tersayat,
tersakiti dan badan yang tak bisa bangun lagi. Perbudakan, perang, terorisme,
bentrokan, pembantaian, penyakit, propaganda, pembunuhan, kecelakaan,
penculikan, dan banyak lainnya. Jutaan manusia yang hidup harus bersimbah air
mata, darah dan hasil perjuangan yang tak berkesudahan. Karena kita tak pernah
benar-benar bebas. Tak akan benar-benar mengulang masa-masa indah dan melulu
itu-itu saja.
Dan jika saya hidup, merasakan
kejenuhan yang amat sangat akan kehidupan yang seolah tak bergerak; hanya jalan
di tempat dan mundur dengan ketidakpastian, saya rasa mungkin inilah alasan
saya hidup. Saya takut akan terdengar konyol dan tak berarti. Tapi.. salahkah
saya kalau tujuan saya hidup adalah untuk
..berbahagia?
Untuk membayar semua perjuangan
orang-orang yang tertindas dan meninggal di belakang saya. Karena bukankah ini
yang mereka cita-citakan? Kebahagiaan untuk anak cucu? Lalu sampai manakah
bahagia itu benar-benar dirasakan? Siapa yang sebenarnya berhak untuk
benar-benar bahagia?
Saya memutuskan saya harus bahagia.
Saya harus tentram.
Walau dunia tak bisa selalu menimang
saya, saya harus berdiri dan menjadi diri sendiri. Diri yang belum saya
ketahui. Dan seolah takkan pernah saya ketahui. Seperti saya yang selalu
bertanya-tanya bagaimana saya bisa mengatakan ini-itu, bagaimana saya bisa
melakukan ini-itu. Bagaimana dan bagaimana?
Saya mungkin hanya satu dari bagian
besar bangsa ini yang terus bertanya-tanya atas hak kepemilikan dan hak untuk
bicara. Saya mungkin hanya satu dari sekian yang tak peduli dan selalu
memikirkan soal hati.
Hingga lupa untuk berbahagia.
Saya terlalu menuruti kejenuhan saya
hingga melewatkan hal-hal yang sebenarnya akan bermanfaat saya dengan caranya.
Dan saya sibuk memperlakukan orang lain dengan cara mereka masing-masing
sehingga saya lupa yang mana saya. Yang mana yang mirip saya, dan yang mana
yang seharusnya bukan saya. Saya pun terlalu lupa mencari cara untuk
menyenangkan diri sendiri tanpa merasa bisa melakukannya. Bahwa saya adalah
satu-satunya orang yang bisa membuat diri saya sendiri bahagia dibanding siapapun
di muka bumi ini.
Ini mungkin tulisan konyol. Atau
tulisan yang akan saya maki-maki tahunan setelahnya. Tulisan yang mungkin hanya
akan menjadi tulisan tanpa menjadikan saya abadi. Tetapi saya pernah ada. Dalam
selingan waktu yang rapat di sebuah dekade yang penuh hiruk pikuk dengan
orang-orang yang mencari tahu dirinya siapa, orang yang bertanya siapa atas
siapa, orang yang masih sibuk membicarakan hal-hal di luar dirinya.
Tetapi saya hanya berharap. Suatu
saat, saya ingat saya pernah ingin bahagia.
Saya ingat ingin membahagiakan diri
saya melalui orang-orang di sekitar saya. Saya ingat akan hal-hal yang mungkin
takkan terwujud sebelum saya berani mewujudkannya dengan diri saya sendiri.
Saya sendiri masih tak tahu mau jadi
apa. Apa yang akan saya lakukan bertahun-tahun kemudian. Dan saya menjebak diri
saya dalam pertanyaan yang akan saya jawab lewat apa yang saya anggap saya
pilih untuk saya jalani. Dan kemudian hari, saya akan kembali melihat hari-hari
lama sebagai hari yang bergelimang pertanyaan yang tak kunjung usai. Melihat
diri saya di titik terlemah saya. Melihat saya di titik terbahagia saya. Dan
meninggalkan saya sendiri dalam dunia tak berbekas yang ingin saya buat untuk
memburamkan siapa saya di kemudian hari.
Saya hidup atas apa yang telah terjadi.
Saya hidup atas keinginan-keinginan saya untuk membahagiakan hidup. Untuk
berjuang dengan cara saya sendiri. Menangis dan tertawa dengan cara sendiri.
Memaklumi diri saya sebagaimana saya menjalani hari yang tak kunjung berakhir
ini. Menatap lembar kosong hari demi hari dan menemani ombak yang juga tak
pernah surut.
Seperti hidup. Semakin sering
ditempa, bagaimanapun caranya, kita akan bertahan dan hidup sebagai diri kita
sendiri.
Untuk itu, kan, kita hidup?
Jangan tanya yang lebih rumit dari ini.
Karena pertanyaan itu takkan pernah
terjawab. Sebagaimana Tuhan menciptakan apapun tanpa ada yang harus diketahui
akannya.
Comments
Post a Comment