Andaikan Saya Berbohong
Dulunya
saya adalah penggemar novel-novel picisan. Katakanlah karya-karya ‘sampingan’
Abdullah Harahap dan Mira W. Bahkan novel-novel Agnes Jessica di awal-awal
kepenulisannya. Kalau saya sudah bosan dengan bahasa yang kurang nendang,
sekalian saya pindah jalur dengan membaca teenlit,
chic-lit, dan metropop. Dari yang khas anak SMA dengan strata sosial dan
gendernya, hingga pertentangan hati seorang jomblo menawan di masa matangnya
yang tidak mungkin tidak dihiasi ciuman dan pelukan membara.
Saya
bahagia dulu bisa membaca semua jenis karya seperti itu. Tidak pernah
terbayangkan sedikitpun dalam hidup saya untuk akhirnya melabeli karya-karya
seperti itu dengan kostum-kostum tertentu seperti; picisan, wangi, dan lain
sebagainya.
Kini
saya sudah mulai mengerti beberapa hal saja, dan rasanya sudah tak sanggup baca
tulisan yang naïf baik secara isi maupun tekniknya. Sekarang saya ampun-ampun
kalau disuruh membaca Agnes Davonar (maaf saja, tapi memang sebegitu parahnya
sehingga saya pengen mengutuk editornya), atau ‘Cerita SMU’ dan ‘Galau Masa
SMP’-nya Mira W. Dan sedihnya, berkurang kebahagiaannya.
Membaca
buku bagus adalah keistimewaan yang selalu saya hargai. Tetapi membaca buku
yang saya suka adalah kebanggaan pribadi; sebuah estimasi dan ekstase.
Oleh
karenanya, sekarang saya masih berminat berhenti di rak novel-novel teenlit daripada berdiskusi panas di rak
sastra serius atau seri tokoh dunia, lebih-lebih tanpa membeli. Menemukan buku
bagus yang saya suka adalah perkara lain, itu sebabnya toko buku tidak pernah
menyempit dalam seri sastra dunia saja kendati saya setahun belakangan sudah
mulai memburunya. Seperti dulu ketika saya akhirnya membeli Perahu Kertas-nya Dee.
Saya
adalah orang yang tidak ambil pusing dalam membeli buku: suka ambil, tidak suka
tinggal. Kalau bikin kepikiran, beli.
Hukum
yang syukurlah masih berlaku hingga saat ini.
Awalnya
dari dulu saya melihat Perahu Kertas itu
bertengger di rak best seller. Dengan
cover sederhana minim ornamen itu
sudah cukup menarik saya. Tapi saya enggan. Saya bukan pengikutnya Dewi
Lestari. Karya Dewi Lestari yang saya baca hanyalah seri Supernova: Akar, dan Petir. Itupun berasa nggak nyambung bagi
saya.
Seperti
sebuah buku yang merekam perjalanan spiritual dan saya nggak bisa masuk ke
dalamnya. Feeling saya sih, karena
saya kebanyakan baca bacaan nggak bermutu seperti majalah Hidayah atau koran
tentang pesugihan dan kawin dengan jin. Saya tidak bisa memisahkan
spiritualitas saya dengan agama. Itulah yang saat itu terjadi.
Beberapa
waktu kemudian Perahu Kertas jadi booming dan diangkat ke layar lebar.
Dengan pemain-pemain baru dan berbakat (enak dilihat), tentu saja yang seperti
itu jadi trendsetter hampir semua
orang: bahkan yang sebelumnya saya lihat nggak pernah tahu karya Dewi Lestari.
Tiba-tiba cewek-cewek berhenti menjadi cantik a la Barbie dan mulai berpakaian
yang mereka rasa nyaman dan nggak nyambung agar cukup nyeleneh untuk menarik
perhatian. Kemudian berlomba-lomba mengakui sisi freak dalam diri mereka supaya dianggap unik; one of a kind. Khas a la Kugy Karmachameleon.
Saat
itulah saya memutuskan untuk membeli Perahu
Kertas. Walau sudah bukan cover
original-nya alias cover film
dengan wajah Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, dan Elyzia Mulachela
di sampul depannya.
Saya
kira nggak ada bedanya dari teenlit
yang dari dulu saya baca. Menggenapi juga bahwa Dewi Lestari menulis novel itu
lebih ke challenge dan for old time’s sake daripada ‘menulis’.
Jadi saya nggak begitu merasa banyak yang dipelajari dari novel tersebut. Jatuh
cinta ya seperti itu, patah hati ya seperti itu, dikhianati mimpi ya seperti
itu. I’ve learned it before hands.
Tetapi
satu hal yang tak bisa saya pungkiri dari menikmati karya; bagaimana dengan
magisnya sebuah karya meng-attach line
di dalamnya ke dalam diri saya.
Itu
sebabnya saya akan memilih membuang semua buku dan menghapus semua film saya
daripada dikasih ke orang yang nggak tepat secara Cuma-Cuma.
Just saying. Bahwa itulah bagian dari
diri saya. Setiap inchi diri saya terbentuk dari halaman-halaman yang menguning
dari buku-buku yang dianggap remeh oleh orang lain dan kilasan-kilasan adegan
dari film yang diketawain oleh orang lain.
I’m not saying I’m different. I just saying
I’m cheap enough to prefer that’s okay to feel than to think.
Dan line terbaik (punch line) dari Perahu
Kertas bagi saya adalah…
“Lalu.. kenapa saya harus minta supaya kamu
mau pakai?”
“Kalau
nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua
yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu
meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.”
(Lestari,
2009:426–427)
Lalu
kenapa saya menulis ini, ya?
Terlepas
dari bagiaman kurang kerjaannya saya menulis hal-hal random, terkadang saya
memilih sesuatu yang paling dekat dengan saya secara emosional untuk ditulis
secara random. Karena menulis tetaplah sebuah kejujuran, bagi saya. Tidak
ternilai, tidak tergoyahkan; indifferent.
~ ~ ~
Sejujurnya
saya tidak sepenuhnya setuju dengan kata-kata di atas. Saya selalu merasa bahwa
sesedikit apapun orang memberi, tidak ada masalah selama tepat. Saya seringkali
mendapat bantuan dadakan dari alam semesta. Semisal seorang pendaki misterius
yang saya temui di kali pertama pendakian Semeru saya; melepas sepatu dan
mengurut kaki saya kemudian pergi begitu saja dan tak sedikitpun mengingat saya
saat kami bertemu lagi. Seorang teman yang jarang ada tetapi tiba-tiba menjemput
saya di terminal; pagi-pagi buta di bulan Desember.
Sabari
dalam Ayah karya Andrea Hirata
memercayai perkataan Bapaknya bahwa segala sesuatu terjadi tiga kali.
Saya
selalu percaya bahwa segala sesuatu terjadi satu kali. Right in a moment.
Saya
tidak sepenuhnya setuju line Dewi Lestari itu tetapi saya menyadari bahwa
memberi dan menerima adalah proses intim yang dapat ditemui dalam hubungan
manapun.
Saya
merasa tidak memiliki banyak perbedaan dengan perempuan-perempuan lainnya. Saya
sudah lelah dengan pelekatan label perempuan oleh lelaki (di belakang
perempuan) atas ketidakterimaan mereka dalam suatu hubungan. Saya merasa dalam
sebuah hubungan, tidak ada yang berhak memberikan sumbangsih kecuali dua orang
yang menjalaninya. Lain-lainnya adalah efek tak langsung dari keberlangsungan
hidup yang terjadi bahkan di luar hubungan tersebut. Jadi saya tak pernah
peduli dengan label.
Saya
hanya merasa telah meminta terlalu banyak tanpa saya sadar sebenarnya tidak
seorang pun yang bisa memberikannya pada saya. Saya tidak paham bagaimana saya
bisa diperlakukan dengan demikian oleh orang lain sampai saya sadar bahwa
mungkin itulah cerminan yang ditangkap orang lain atas diri saya sehingga
terjadilah hubungan timbal balik yang terkadang tidak nyambung.
Mungkin
itu sebabnya saya selalu merasa kagum dan heran bagaimana sepasang kekasih
saling memperlakukan satu sama lain secara satu-satunya; satu kali dilakukan,
satu kali jatuh cinta, dan selamanya seperti itu.
Selama
ini saya yang seharusnya bercermin dan berhenti meminta apapun dari orang lain.
Saya tersadar ketika saya tahu bahwa permintaan saya tak pernah tepat. Saya
selalu meminta sesuatu agar saya bisa bahagia. Benar. Tugas untuk membahagiakan
diri saya bukanlah terletak pada orang lain, siapapun itu. Berbahagia adalah
tugas dan keistimewaan yang saya punya untuk merawatnya sendiri. Merasakannya
sendiri. Sayangnya ketika saya mulai menyadari hal ini dan memutuskan untuk
menjadikannya tujuan saya pribadi, saya dianggap egois dan tidak menghargai
orang lain atau apapun yang telah ia lakukan.
Mungkin
apapun yang saya lakukan memang tidak tepat. Saya yang tidak tepat. Saya tidak
sedikitpun merasa bahwa apa yang saya lakukan menjadi penting dan saya turut
mengabur seolah hal yg terjadi belum terjadi.
Saya
terlalu meminta orang lain untuk mencintai saya sebagaimana saya mencintai
mereka.
Saya
terlalu jujur sehingga bahkan kejujuran itu tidak menyenangkan saya. Sehingga
ketika saya berharap, harapan itu seringkali melebur dan membuat saya tak bisa
jernih melihat segala sesuatu. Malah segalanya terlampau jelas. Keruh, tetapi
jelas.
Saya
tidak ingin menjadi orang yang sulit dipahami. Tidak ingin banyak memohon
pengertian dan kepekaan. Saya ingin menjelaskan diri saya kendati sebenarnya
saya tidak ingin. Tetapi saya tidak ingin membuat repot. Sungguh. Saya tidak
ingin menyalahkan siapa saja atas kesedihan atau kemalangan yang saya terima.
Saya ingin hidup untuk diri saya sendiri, seberapa pun menyesalnya saya kelak.
Sebab ketidakpahaman tidak akan baik hasilnya.
Saya
terlampau ingin semuanya berjalan lancar.
Sehingga
saya kelepasan terlalu meminta dan terlalu menuntut. Terlalu ingin dipilih.
Bersamaan dengan itu, harapan-harapan saya adalah debu dibanding mereka yang
terkatakan. Pada suatu titik, barulah saya sadar saya kehilangan sesuatu
seiring dengan luluhnya harapan-harapan itu. Dan ketika akhirnya saya
mengatakannya, hal itu adalah hal kesekian yang telah saya minta sehingga saya
berubah menjadi begitu keterlaluannya. Begitu tidak tahu dirinya.
Saya
mungkin tidak bisa menghargai orang lain, tepat seperti yang sering ditujukan
pada saya. Tetapi saya tak paham letaknya di mana. Bagian mana dari diri saya
yang tidak bisa menghargai orang lain, saya tak mengerti. Saya tidak merasa
membuat orang lain menunggu, saya belajar mengatakan tidak untuk sifat
oportunis saya yang kadang berlebihan, saya merasa cukup disiplin, saya tidak
pernah rewel dalam artian akhir-akhirnya pun menurut, dan lain lagi dan lain
lagi. Bagi saya itu hal dasar dan tak ada manfaatnya bagi saya untuk
menyombongkannya. Saya hanya mengatakannya sebagai contoh kecil atas hal-hal
yang berusaha saya tepati karena saya ingin dihargai sebagaimana saya
menghargai orang lain.
Mungkin
benar saya tidak bisa menghargai orang lain lewat bagaimana perasaan saya
tergambar untuknya. Tetapi saya benar-benar tidak bisa mengendalikannya. Saya
ingin jujur. Saya ingin mengatakan yang sesungguhnya. Ketika orang lain
menganggapnya sebagai bentuk ketidakbisaan saya untuk menghargainya, mungkin
mereka terluka atas apa yang saya katakan dan saya lakukan. Mungkin mereka
tidak tahu seberapa besar dan dalamnya kejujuran bagi saya. Ketika mudah saja
bagi saya untuk berbohong dan mengatakan tidak ada yang salah dari apa yang
saya lalui; bahwa saya hidup seperti boneka: dipuja, dirawat, diagungkan.
Ketika segalanya lebih mudah bagi saya jika saya berbohong, tetapi saya memilih
jujur dan saat itulah saya dihempaskan rasa ketidakbecusan atas diri saya
sendiri sebagai protes dari orang sekitar saya atas bagaimana saya memperlakukan
mereka.
Dan
selalu begitu.
Hubungan
baru, cerita baru. Selalu begitu.
Andaikan
saya berbohong. Mungkin saya bisa dipandang sesuai dengan apa yang saya
harapkan. Mungkin permintaan saya bukanlah suatu kekurangajaran. Atau mungkin
dengan kebohongan, saya tak perlu meminta agar dapat diberi segalanya..
~ ~ ~
Mungkin
semua ini hanyalah sekadar pembelaan bagi saya. Mungkin inilah yang disebut
pembenaran. Atas apa yang saya lakukan, pun atas apa yang terjadi pada diri
saya. Tetapi untuk apapun itu, inilah kejujuran yang harus saya telan
bulat-bulat; pahit manisnya.
Saya
minta maaf apabila selalu meminta. Saya minta maaf di sela usaha saya untuk
memahami diri saya sendiri agar orang lain lebih mudah memahami saya, saya
malah mengabaikan pemahaman diri saya kepada orang lain sehingga kepekaan saya
berkurang. Saya minta maaf, kejujuran saya memang tidak pantas disandingkan
dari usaha orang lain untuk memperjuangkan saya, membahagiakan saya, atau
mempertahankan saya. Saya sungguh minta maaf. Sedikitpun saya tidak bermaksud
demikian meski itu akhirnya. Ketika ada yang salah, maka sungguhlah kesalahan
itu ada pada saya. Pada kegagalan saya menjura rasa hormat, pengertian, dan
kemampuan untuk memberi.
Saya
minta maaf ketika saya terlalu memperjuangkan segala sesuatu yang bagi orang
lain tidak penting sehingga sangat egoistis. Di dunia di mana saya tidak punya
tempat: saya selalu menghargai apa yang saya punya. Sangat saya hargai. Karena
itulah pijakan terakhir saya untuk terus bangkit dan bangkit ketika orang lain
membuat saya merasa sakit atau saya malah melakukan hal bodoh untuk menyakiti
diri saya sendiri.
Saya
tidak punya banyak hal untuk saya pelihara because
I know I’m lacking too much. So I really appreciate what comes. Terutama
yang baik.
Lewat
tulisan ini saya tidak lagi ingin seseorang yang mampu memberikan sesuatu pada
saya. I want nobody. Semoga juga
tidak terasa seperti minta dikasihani.
Lewat
tulisan ini. Saya ingin memaafkan diri saya sendiri, yang berekspektasi terlalu
tinggi atas diri saya sendiri pula.
And who am I to complain?
Awal Agustus yang kepadanya angin
berhembus cepat agar demikian ringkasnya hari demi hari berlalu.
Comments
Post a Comment