Hari Ini Engkau Satu, Seterusnya Seribu
Dalam gelagap malam yang liat
Di tengah gembur aliran
denyut kuping sebelah kanan
Seperti inang
membiakkan rembulan
Yang kau dan aku takkan
pernah menyaru
Bisik reriungan sekumpulan ombak yang dilamun awan
Menimpa dahimu, menempa dadamu
Di dalamnya, laut dan samudera bergolak menenangkan
perompak
Senantiasa dalam relung, menjelma palung
Di parasmu, lelaki,
sejuta topas dan kuarsa berkilauan tertimpa kabut di Rammang-Rammang
Melenyap, menjadi
senyap, dan menjumpa asap
Menggantikan
Bantimurung dan sayap-sayapnya yang mekar
Merayu karang seolah
pinisi, mencecap bintang gemintang dengan sinansari
Dan menghadap engkau, perempuan
Di pelukmu selaksa topan bergelimangan, buai di
angan-angan
Yang kan tegak seperti Tawang Alun
Yang kan tercecer meski Padang Bubat sudah mengapung
Kita yang mabuk
Murca
Tewas ditikam jurang
dan hanyut dibawa ke pedalaman
Memberi nama, memberi jumlah
Mencacah bilangan, memamah kekayaan
Meludah nasib, melupa luap-luap kemudaan
Di sumpah serapah tanpa
tanda tanya yang mengantarkan engkau dan aku bersama berangkulan bergayut musim
dihempas muara
Kelak
kita akan bertualang, dan membiarkan Tuhan berhenti berhitung
22 Maret 2016
Comments
Post a Comment