Kenapa (tetap) Naik Gunung
Selamat
pagi.
Ketika
saya menulis ini, saya sudah di Jogja. Beberapa hari yang lalu saya lewatkan di
rumah untuk sebuah acara keluarga dan menghadiri agenda tahunan saya sejak saya
lulus SMA.
Setiap
semester, saya selalu memiliki agenda atas acara-acara besar yang mengharuskan
kehadiran saya dan biasanya harus mengambil jatah libur kuliah saya. Hal itu
pulalah yang menambah semangat saya untuk kuliah di hari-hari yang panjang atau
panas luar biasa sehingga kemalasan saya meningkat drastis dari biasanya. Saya
pun berharap seterusnya begitu kendati tidak ada acara yang harus saya hadiri.
Namun motivasi itu bertambah sedemikian rupa karena mengingat acara-acara
tersebut umumnya luar biasa spesial.
Seistimewa
apa?
Ibu
dan Tante saya adalah anggota mahasiswa pencinta alam semasa kuliahnya. Saya
yang dulu juga sering diajak ke kampus selalu bertemu dengan teman-teman Ibu
dan Tante. Kebanyakan laki-laki dan luar biasa baik hati. Saya sering dibawa bermain
dan dibercandain. Diajak juga nongkrong di warung yang sekarang sudah tidak ada
sejak pembangunan besar-besaran melanda kawasan kampus. Kini yang bisa saya
lihat hanya kenangan-kenangan kabur akan masa kecil yang begitu berharga.
Awalnya
sebagimana kanak-kanak pada umumnya, saya tidak menyadari betapa pencinta alam
mendarah daging dalam diri keluarga saya. Saya biasa merengek meminta
mendirikan tenda berkapasitas 8 orang di depan rumah dan mengisinya dengan
mainan di hari libur. Atau bagaimana saya diajak jalan-jalan bersama Ibu,
Tante, dan kawan-kawannya. Mengenal berbagai kota, mengenal alam, mengenal
perjalanan yang dulu sering tidak saya sukai.
Ayah
saya adalah orang yang dekat dengan circle
pencinta alam. Dan selanjutnya memutuskan untuk membina rumah tangga dengan
salah seorang perempuan pencinta alam, ya Ibu saya. Tante dan Oom saya bertemu
dalam kegiatan pencinta alam. Oom adalah ketua panitia diklat dan Tante adalah
pesertanya. Ibu saya yang jauh di atas mereka hampir selalu datang diklat yang
biasanya diadakan seminggu sembari mulai menyicil nomor induk pencinta alam
itu, Ayah saya menemani.
Terkadang
saya berpikir bahwa keberanian dan keputusan yang pernah dilakukan Ibu saya
sangat dipengaruhi oleh jiwa pencinta alam dalam dirinya. Ayah, Tante, dan Oom
saya pun begitu. Hal itulah yang terkadang membuat saya merasa didikan orang
tua saya begitu berbeda dengan orang tua lainnya. Selain karena saya melihat
dari sudut pandang anak orang tua saya, tetapi dari dulu teman-teman begitu iri
melihat saya bisa main sampai pukul berapapun dan hanya menerima omelan sesaat
sementara teman-teman putri saya sudah harus di rumah pukul 9 malam, bahkan
sebelum magrib. Sejak SMA saya biasa menginap saat acara-acara OSIS, tidak
hanya di acara-acara besar seperti pensi tetapi bahkan acara yang dianggap
remah-remah seperti panggung pagi hari di acara CFD atau pelantikan pengurus
OSIS yang baru.
Itulah
sebabnya saya semakin bulat memilih pencinta alam sebagai ekstrakulikuler saya.
Yang bahkan tidak pernah saya pikirkan sampai saya jalani. Orang tua saya,
kendati basic-nya pencinta alam,
tidak mengharuskan saya mengikuti organisasi pencinta alam. Cukup dengan
jalan-jalan yang sekarang sudah jauh lebih sederhana seperti ke Bromo, atau
icip-icip ke rumah Mbah Citro di kaki gunung Lemongan. Semuanya saya terima
sebagai sebuah kebudayaan turun temurun yang malas saya telusuri kenapa.
Di
awal-awal masa SMA, saya memilih teater dan cheerleader.
Teater adalah kesenian yang sudah saya tekuni sejak SMP. Saya ikut sanggar, dan
dari saya saya belajar hal-hal lain seperti menari, bermain musik, dan
mencermati film. Saya sudah dekat dengan circle
teater SMA saya sehingga masuk ekstrakulikuler teater semakin lama menjadi
keharusan. Yang waktu itu saya terima dengan riang gembira. Sementara cheerleader adalah sebuah jalan lain
dari saya untuk tetap bergerak aktif karena saya sangat suka olahraga, terutama
yang tidak melelahkan. Hehe.
Oom
dulu sempat berkomentar, “ikut ekstra itu yang memberi ilmu. Seperti bahasa
Inggris, bahasa Jepang, atau karya ilmiah.”
Lalu
saya menjawab, “ya kan ekstrakulikuler juga untuk refreshing. Ilmu bisa didapat di pelajaran biasa.”
“Oh
ya sudah kalau pertimbangannya seperti itu,” sahut Oom saya menutup
pembicaraan.
Saya
begitu mantap mengikuti ekstrakulikuler itu sampai saya mulai terkena pengaruh
lingkungan. Entah kenapa tiba-tiba cewek-cewek di kelas saya waktu itu terkena
euforia pencinta alam. Fenomena ini cukup unik saya rasa, karena biasanya
cewek-cewek mengejar ekstra paduan suara dan cheerleader. Pencinta alam terasa begitu familiar dan asing di
waktu yang sama bagi saya. Usut punya usut, rupanya teman-teman putri saya itu
terpengaruh cowok-cowok kelas lain yang berombongan ikut pencinta alam.
Cowok-cowok ini adalah scene underground
di sekolah saya dulu; penggemar berat musik metal berbagai genre, suka jalan-jalan, dan biasanya bermasalah dengan guru. Para
berandal yang dulu terasa asing sekali bagi saya, karena saya berasal dari SMP
yang berbeda dengan mereka dan tidak berkeinginan masuk scene mereka seperti yang dilakukan teman-teman putri saya dengan
membeli kaos metal dan datang ke
metalhead circle tanpa tahu apa itu Power Metal.
Akhirnya
karena terpengaruh, ucluk-ucluk seperti anak culun hari Rabu saya datang ke
ekstrakulikuler pencinta alam untuk pertama kalinya. Padahal hari Rabu adalah
jadwal saya datang ke pertemuan rutin ekstra teater. Waktu itu saya sempat
ditegur oleh senior teater dan memilih untuk nyengir saja sebagai jawabannya.
Saya juga dibelain seorang senior pencinta alam yang mengatakan bahwa saya bisa
bergantian ikut kedua ekstra itu tiap minggunya.
Tetapi
saya tidak merasakan hawa yang spesial. Minggu depannya pun seperti yang sudah
dijadwalkan saya kembali ikut taeater dan melihat teman-teman saya belajar
navigasi darat dari jauh. Saat itu saya merasa pencinta alam tidak menarik dan
memutuskan akan ikut setengah hati saja karena tuntutan pergaulan. Sebab saya
tidak ikut scene metal, tidak nyari
cowok di scene metal, tidak punya
teman yang bisa diajak sharing tentang
metal secara historis tanpa harus berdebat dan ngotot, tidak mengerti juga apa
enaknya headbanging atau bikin wall of death. Jadi dibanding
teman-teman putri saya, saya termasuk cupu walau biasa pulang paling malam.
Hingga
suatu hari di tengah pelajaran, masuklah dua kakak kelas yang memberikan
pengumuman bahwa pencinta alam akan mengadakan diklatsar. Bagi yang berminat
dipersilahkan mendaftar meskipun tidak pernah datang pertemuan rutin di hari
Rabu. Saya pun akhirnya ikut daftar tanpa tahu apa itu diklatsar dan bakal
ngapain aja di sana. Pulang ke rumah saya bilang Ibu saya dan menyiapkan
berbagai barang bawaan. Sayangnya, karena berbagai keterbatasan sewaktu saya
SMA, saya tidak bisa menemukan semua dari checklist
yang diberikan panitia. Tas carrier masih
menjadi barang baru dan asing, matras masih merupakan nama lain dari yoga mat, plastik kerupuk dan nesting
apalagi. Saya pun pasrah saya, biar nanti kena marah yang penting kumpul sama
teman-teman.
And the suck thing happened. Tiba-tiba
semua teman putri saya tidak mendapat izin dari orang tuanya dan membatalkan
keikutsertaan mereka di diklatsar. Ada satu dua yang sebenarnya diizinkan tapi
orang tua mereka memberi pilihan seperti “ikut diklatsar atau jalan-jalan dan
belanja sama mama papa” sehingga mereka tentu saja memilih opsi kedua. Apalagi
ada kabar kalau diklatsar di luar sekolah, pasti nanti horror dan bikin parno
orang tua. Saya protes waktu itu karena memang keikutsertaan saya adalah karena
mereka. Sampai mereka menghibur dan memutuskan untuk memberikan persediaan
barang-barang checklist yang mereka
punya pada saya.
Alhasil
setengah ngambek saya ikut diklatsar. Waktu itu saya benar-benar nggak punya
pikiran apa-apa dan yang penting ikut saja. Saya mulai kenal orang-orang dalam
organisasi pencinta alam dan memutuskan untuk membaur daripada beberapa hari
saya habiskan dengan ngambek pada orang-orang yang bahkan nggak ada di situ dan
nggak peduli juga saya bakal ngapain.
Dan
horror dimulai ketika saya mendapatkan sebuah surat bermaterai untuk tanda
tangan dan berisi bahwa saya harus mengikuti diklatsar dengan baik. Tidak
merusak lingkungan dan berbuat baik pada sesama. Hmm, menarik juga. Begitu
pikir saya. Sebab, tolong mengerti, saya memahami pencinta alam sebelumnya
sebagai geng sok asik yang naik gunung di akhir pekan pakai baju necis dan
gitaran sambil api unggunan.
Sepanjang
diklatsar itu, saya berusaha sebisa mungkin berbuat baik pada sesama dan tidak
merusak lingkungan sementara mental saya drop
serendah-rendahnya. Alam, di sisi paling tenangnya, sebisa mungkin
menggigit saya hingga ke ulu hati dan membuat saya mempertanyakan keberadaan
saya. Saya menyadari betapa kecil saya di antara pepohonan, sungai, tebing, dan
lain sebagainya. Suara saya masih tidak terdengar, keberanian saya masih di bawah
rata-rata, dan otak saya seolah tak bisa digunakan.
Sepulang
diklatsar, Ibu saya senyum-senyum sambil membersihkan luka-luka di kaki saya
akibat lintah dan pacet sementara saya dengan hati-hati menceritakan pengalaman
saya. Esoknya saya sekolah dan kelas saya ada di lantai dua, kaki saya rasanya
seperti besi saking tidak mampunya meniti tangga. Lalu secara perdana saya
mendaki Lemongan di tahun yang sama. Gunung yang tidak sekaliber teman-temannya
di Jawa Timur itu rupanya sudah cukup menguras tenaga saya. Tidak lupa saya
sampaikan salam dan titipan Ibu pada keluarga Mbah Citro di kaki gunungnya.
Mereka kaget melihat Ibu saya sudah memiliki putri yang sudah SMA.
Tahun berikut saya mendaki Semeru. Walau
tidak berhasil meraih puncak tertinggi Jawa lantaran ‘kembang api’ dan awan
panasnya menyembur di pagi hari sehingga kami berbondong-bondong turun lereng,
tetapi saya merasakan kegairahan luar biasa yang akhirnya mengantarkan saya
terus naik gunung dan jalan-jalan. Tahun berikutnya saya baru bisa menuntaskan
kerinduan saya dengan mencapai puncak Mahameru dengan hanya dua hari perjalanan
naik-turun.
Hingga saya lulus SMA, ekstase naik
gunung terus mendarah daging. Beberapa kali saya naik gunung di sekitar kota
tempat saya merantau dan rasanya selalu tak pernah cukup. Saya semakin
berkembang, tidak lagi menuntut puncak, dan menghayati alam sebagai
kompleksitas alami yang tanpa manusia saya pun ia malah semakin baik. Di luar
itu, saat-saat saya merenung sendirian sehabis lari pagi atau menari, saya
merasakan betapa rindunya saya dengan suara gunung. Rindu dengan kegelapan yang
seharusnya saya terima, dengan ketidakmampuan saya untuk menjadi seorang yang
bisa diandalkan.
Dengan teman-teman pencinta alam saya
masih berkomunikasi dengan akrab dan hangat. Kendati kebanyakan dari kami tidak
mengikuti mapala kampus, kami tetap sering mengadakan kumpul dan ide-ide baru
untuk naik gunung yang belum juga terlaksana, karena kami belum pernah naik
gunung bersama satu geng. Dengan senior-senior yang dulu melantik saya juga
masih sering bertemu. Sekadar di warung kopi pinggir jalan atau kembali lagi ke
sekolah. Ngobrol ngalor-ngidul dengan berbagai tema, dan kenalan lagi dengan
senior-senior lain yang belum pernah saya temui.
Sejak itulah, kesadaran saya bahwa
pencinta alam adalah garis yang ingin saya teruskan menjadi begitu kerasnya
menghantam saya. Ketika saya menyadari apa jadinya saya tanpa pencinta alam.
Apa jadinya saya tanpa bagian-bagian yang membuat saya jera, kelelahan, dan
setengah mati mengejar sesuatu. Saya tidak bisa membayangkan dan tidak berani
membayangkan. Di pencinta alam pula saya menemukan kesukaan saya akan fotografi
walau selama ini saya selalu berada di depan lensa. Diawali dengan
keragu-raguan yang khas pada foto pertama, dan sebuah ekstase yang mendorong
pemenuhan hingga sekarang. Fotografi adalah satu dari alasan utama mengapa saya
jalan-jalan dan tidak naik gunung.
Saya pribadi kurang suka touring. Travelling ala Trinity adalah hal yang mendorong saya untuk membeli
buku-bukunya tetapi sedikitpun tidak saya laksanakan. Saya merasa diri saya
lebih cocok untuk menjelajah dengan medan tertentu yang menguji saya,
katakanlah naik gunung. Saya juga akan bertemu lebih sedikit orang tetapi lebih
intim, dan menguji diri saya dengan ikatannya atas entitas yang mengatur alam
ini. Pergi ke luar kota adalah sebuah pelarian yang bisa saja mengasyikkan
tetapi juga menjemukan. Terkadang saya muak dengan manusia.
Hingga saat ini, saya hampir selalu
datang diklatsar. Mendiklat anak-anak baru anggota pencinta alam. Mengenal
kembali suasana kebaruan yang sudah lama hilang dari diri saya. Bernostalgia
dengan teman-teman, senior, bahkan dengan guru yang masih demikian akrabnya
dengan saya dan teman-teman. Apapun yang terjadi, regenerasi dalam pencinta
alam adalah hal krusial dan selalu dinantikan. Saya mungkin bisa menjadi orang
yang paling tidak ingin ditemui saat diklatsar, tetapi saya tidak ragu
merangkul, memeluk, berseru selamat pada mereka yang mendapatkan kehormatan dan
keistimewaan, memilih jalan menjadi pencinta alam. Bukan penikmat alam apalagi
pengamat timeline.
Saya menghargai jiwa mereka yang
ditakdirkan menerima kepercayaan dari kami, orang-orang lain dengan sedikit
pengalaman berlebih, untuk merawat diri mereka melalui kegiatan
kepencintaalaman.
Selanjutnya saya masih ingin meneruskan
langkah saya. Memulai dan mengakhiri perjalanan-perjalanan baru yang tidak ada
habis-habisnya. Saya masih ingin bertemu dengan orang-orang baik di muka bumi
ini, terutama di tempat seistimewa gunung. Saya masih harus terus mengalahkan
diri sendiri. Menjauhkan sifat-sifat buruk dan busuk yang akan merusak diri
saya sendiri. Segala dengki, iri hati, kesombongan, dan kemampatan diri saya
untuk berpuas diri terhadap apa yang saya miliki. Saya harus terus berterima
kasih terhadap apa yang saya punya tetapi saya tak boleh mengganjarnya dengan
semena-mena seakan saya tak butuh lebih banyak.
Terkadang saya selalu merasa tidak
memiliki pencapaian apapun dalam hidup ini. Terkadang pula saya merasa terlalu
lelah berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Melalui hal-hal seringan itulah saya
menyadari bahwa pencinta alam membawa dampak yang begitu besar bagi saya.
Meskipun sampai sekarang saya masih bukanlah siapa-siapa.
Saya juga tidak bisa dibilang seorang
pencinta alam hardcore yang naik
gunung sebulan sekali. Tahunan saya di Yogyakarta, hanya sekali dua kali saya
naik gunung. Terkadang saya juga bingung menggunakan peralatan outdoor dan membiarkan teman-teman saya
melakukan hal tersulitnya. Mungkin juga teman-teman saya jera mengajak saya. Speed saya kurang mumpuni, kekuatan saya
tidak besar, saya tidak bisa masak, dan lain-lain. Mungkin saya hanya bisa
menyusahkan. Tetapi jiwa saya memanggil saya dari kedalaman yang tidak mampu
dipahami bahkan oleh diri sendiri.
Setiap kali saya naik gunung, saya
menjemput kepulangan saya kepada Yang Maha Tinggi. Saya menemui perbedaan
antara hidup dan mati. Mencintai titik demi titik lampu dari kejauhan yang
serasa kemustahilan karena tak sanggup kembali pulang ke rumah. Suatu kali saya
naik gunung, saya menangis mengamati betapa kecil saya di muka bumi. Betapa
saya tidak membuat perbedaan yang berarti dibanding orang-orang yang saya suka
atau saya benci.
Betapa saya manusia yang tidak
berkesudahan memberi luka.
Turun gunung Sumbing – ngomong-ngomong
ini pendakian terparah saya, lebih karena saya dalam kondisi terendahnya waktu
itu –, saya berjalan dengan bertelanjang kaki, menangis dalam kegelapan.
Merasakan suara-suara memanggil saya dari kedalaman. Kanan kiri tak terlihat,
sama gelapnya seperti ketika saya memejam. Sandal gunung saya menyerahkan usaha
terakhirnya untuk bertahan setelah lebih dari empat tahun menemani saya
menjelajah. Saya memanggul tas yang mungkin tidak seberapa dengan lumpur di
sekujur badan saya karena hujan tak henti mengguyur sepanjang perjalanan.
Saya terasadar bahwa saya lemah sekali.
Hal ini saya gunakan ketika menghadapi persoalan lain di tempat yang landai
ini. Saya pernah lemah, jatuh sekali, dan kali ini saya harus berani.
Menerjang. Segala yang bisa saya lakukan, akan saya lakukan.
Ibu saya pernah berkata ketika merestui
kepergian saya ke Semeru,
“Tidak apa-apa Ibunya tak pernah sampai
ke Mahameru. Yang penting anaknya.”
Di lereng Mahameru itu saya tertengadah.
Dengan pakaian sekenanya, persediaan makanan seadanya. Saya melihat langit yang
berubah dari gelap menjadi biru muda. Melihat kota yang mulai surut sinarnya.
Dan menyadari Ibu saya ada di antaranya. Mungkin sedang tertidur kelelahan,
atau mengerjakan laporan yang tak berkesudahan.
Saya membayangkan apabila saya tak
sanggup pulang. Saya melihat jurang dan berkata bahwa bisa saja saya berada di
tepinya. Bertanya-tanya apakah saya seistimewa itu untuk mati tidak di tempat
tidur. Seperti Gie. Saya meraup pasir, dan melangkah lagi. Teman saya membentak
ketika saya kesulitan berdiri, “kalau kamu nggak meneruskan perjalanan ini,
begitu pula kami. Kita naik sama-sama, kalau kamu menyerah, kita pulang
sama-sama. Sekarang.”
Lalu saya menangkap pandangan tidak
setuju dari rombongan lain. Protes. Mereka sudah jauh-jauh ingin ke Mahameru,
dan saya yang menggagalkannya. Diseret saya tiba di puncak. Begitu pula di
Sumbing. Sampai di atas, saya menangis. Pelan sekali, tapi keras dalam diri
saya. Saat itu, hingga saat ini, saya tidak pernah mempertanyakan kekuatan
saya. Saya tidak pernah menggolongkan diri saya termasuk yang tangguh atau yang
lemah. Tetapi saya selalu menyadari bahwa jauh dalam lubuk hati saya, saya
adalah manusia dan saya hidup karenanya. Saya mungkin tidak tangguh, saya
mungkin cengeng, saya mungkin lemah. Dan itu tidak berarti apa-apa bagi saya.
Saya mungkin terlalu membenci diri saya
sendiri, tetapi saya mencintai apa yang saya miliki. Dan tak pernah berhenti
berterima kasih bahwa saya hidup, dan akan terus menjaganya.
Naik gunung menjawab segala keresahan
saya dengan “tak apa”. Begitu terus bergaung dalam telinga saya.
Senior saya di pencinta alam dalam
sebuah forum besar pernah mengatakan bahwa saya bukan lagi anak gunung (atau
memang tidak pernah). Dengan bercanda beliau menunjuk satu per satu teman saya
dengan definisi seperti “sudah tidak lagi menjadi anak gunung, malah menjadi
anak kampus”, kemudian menyebut saya sebagai “anak kampung”.
Syukurlah. Saya selalu menjadi anak
kampung tiap naik gunung. Saya selalu terpesona dengan sekelompok orang yang
mendirikan ibadah di ketinggian berapapun, bersujud dan melakukan apa yang
tidak mampu saya lakukan karena rontaan yang begitu kuatnya atas segala
ketidakadilan. Tetapi selalu mengingatkan bahwa saya butuh dan punya Tuhan.
I
never too good to be anything.
Saya hanya melakukan yang saya bisa dan terkadang itu tidak cukup. Mimpi-mimpi
saya selalu terlalu besar. Saya hanya tidak ingin menunjukkannya pada siapapun.
Dalam perjalanan terakhir saya ke Ranu
Kumbolo tahun lalu, saya bertemu dengan sekelompok pencinta alam. Ada seorang
gadis di antara mereka, yang sepanjang perjalanan menyandang backpack sementara timnya sangatlah
berantakan. Kebetulan sahabat saya kenal dengan rombongan ini. Ketika kami
pulang, sahabat saya menunjukkan foto gadis itu di Mahameru yang diunggah di Instagram dan dipenuhi dengan komentar
“perempuan tangguh” oleh teman-temannya. Saya tertawa karena saya tahu betul
bagaimana parahnya rombongan ini mempersiapkan bahkan melakukan perjalanan.
Mungkin bagi orang lain, saya adalah
gadis itu. Saya hanyalah tipikal perempuan pendaki lainnya yang kurang ulet
dalam berkegiatan outdoor. Bagi orang
lain saya adalah si konyol yang diberi predikat terlalu tinggi oleh mereka yang
tidak tahu. Bagi orang lain, kegiatan saya naik gunung adalah kekenesan seorang
gadis yang harus dipahami dalam caranya mencari perhatian orang lain.
Bagi saya, naik gunung adalah kemampuan
satu-satunya ketika hidup ini begitu keras menghimpit saya. Bagi saya, naik
gunung adalah masa muda Ibu saya yang menemukan kembali cinta-cintanya. Naik
gunung adalah suara-suara kediaman saya, tempat di mana saya tidak hentinya
merasa bahwa rahim perempuan adalah surau ternyaman bagi manusia. Dan,
terkutuklah mereka yang dilahirkan.
Naik gunung adalah keegoisan saya.
Orang bisa mengatakan apapun yang mereka
suka seperti saya mencintai setiap luka dengan binasa.
Lengkah yang terbelenggu hujan akhir tahun itu.
Comments
Post a Comment