Setidaknya Hal-Hal yang Perlu Dibersamai
Tahun ini sudah akan berakhir dan saya kembali merindukan masa-masa yang saya kira lebih baik (dan selalu demikian).
Begitu banyak hal terjadi dalam setahun,
sehingga saya benar-benar merasa dua tahun sudah lebih dari cukup untuk
membiarkan saya menganggur tanpa kejelasan. Namun tahun ini, setelah hampir
sepuluh bulan terkungkung pandemi dan membatasi banyak (serta memberikan peluang
pada hal lainnya), rupanya saya tak pernah cukup menganggur.
Saya kuliah lagi. Belajar lagi (belajar
terus). Saya mulai membaca dan menulis. Baik fiksi maupun nonfiksi. Saya menerbitkan
antologi puisi saya tahun ini dengan rasa haru luar biasa (tanpa launching,
seperti buku pertama saya; bahkan tanpa banyak-banyak bersuara, saya kira).
Setidaknya saya sudah memenuhi keinginan saya untuk menulis untuk diri saya sendiri.
Untuk saya yang ingin mencintai diri saya sendiri. Untuk saya yang menyukai
diri saya sendiri.
Buku saya, tentu saja, tak banyak yang tahu
karena, tentu saja, siapa saya. Saya mungkin tak pernah ambil pusing dengan hal
ini sampai saat saya perlu menghubungi beberapa penulis ternama untuk membantu
suatu acara yang saya selenggarakan dan kemudian saya tidak diacuhkan. Saya kira
setelah berbulan-bulan kuliah lagi dan merasa cukup congkak untuk belajar
banyak hal, saya perlu diikat dengan kursi realita yang menyadarkan saya bahwa
sepenuhnya saya bukan apa-apa. Tindakan saya membaca dan mengolok-olok semua
hal dalam pikiran saya tak lebih dari masturbasi intelektual yang membawa saya
pada bukan apa-apa. Saya tidak pernah merasa hampa karenanya. Mungkin sepi,
iya. Tapi sejak dulu saya merasa manusia lahir sebagai makhluk yang sepi. Panji
Pragiwaksono pernah bilang bahwa ia bisa mengatasi kebosanan, tapi tidak dengan
kesepian. Saya juga pernah baca bahwa kesepian bisa membunuh kita.
Saya kira hidup kita adalah proses
pembunuhan, jadi saya mungkin tak keberatan jika dibunuh sepi. Kesedihanlah
yang tak sanggup saya tanggung ketika saya sadar bahwa saya akan mati sendiri
usai terbiasa menjalani hidup dengan keramaian. Saya selalu merasa saya adalah
pribadi yang sepi atau itu saya canangkan selalu karena saya memang bukan
tipikal orang yang disukai (dan karena saya payah dalam berkomunikasi dan
membina hubungan sosial).
Saya selalu berterima kasih ada
sahabat-sahabat yang selalu dekat dengan saya tapi di akhir hari saya selalu
merasa bahwa mereka pun kesepian dengan pribadinya. Mereka meninggali
ruang-ruang di mana mereka harus sendiri dan mungkin saya sangat bergantung
dengan ruang tersebut. Saya hanya ingin ada pada momen itu. Merasa
senang ketika tiba waktunya bersenang-senang, merasa sedih ketika memang
seharusnya sedih, merasa terpicu ketika ada hal yang mengganggu saya… semua itu
berusaha saya jalani dengan lapang dada. Saya pernah menjadi gadis yang
demikian keras kepala dan punya sumbu emosi yang pendek dan hal itu merupakan
kenangan yang ingin saya lupakan. Saat keras kepala dan terlampau emosional
terutama karena marah, saya mengambil keputusan-keputusan yang tidak
bertanggung jawab dan sama sekali tidak menguntungkan saya di masa selanjutnya.
Reckless, pendeknya. Jadi mungkin tahun ini saya belajar untuk
mengendalikan itu semua. Mengambil jeda untuk merespon alih-alih menyalak
sebelum semua hal tersampaikan dengan baik.
Saya masih berusaha.
Sekarang hari-hari berlalu hingga di
penghujung tahun dan sungguhpun saya tak tahu bagian-bagian apa yang bagi saya
layak untuk diolah dan dipertahankan hingga tahun mendatang. Saya sama lelahnya
seperti tahun lalu. Sama optimisnya seperti saat saya pertama kali kuliah. Sama
takutnya tiap kali saya harus bicara kepada lebih dari satu orang. Pandemi ini sama
sekali tak mengganggu saya sebab saya jadi punya alasan untuk tidak menghadiri
serangkaian acara yang tidak saya gemari dan menyadarkan banyak orang tentang
efektivitas bekerja di rumah. Namun lagi-lagi saya tahu, jalan yang saya pilih
adalah jalan sepi.
Terlepas dari lahirnya manusia sebagai
makhluk yang sepi, saya terlalu nyaman dan memilih hidup demikian.
Saya kepengin hidup secukupnya. Semaksimalnya,
tentu saja. Tapi cukup. Saya tidak ingin terlalu banyak mendapat pengakuan. Apalagi
pujian. Kritik dan cercaan selalu saya terima dengan lapang dada karena saya
tak pernah menemukan hal ini mengganggu saya secara pribadi. Saya selalu kagum
orang-orang punya waktu untuk menyela dan kemudian merespon orang lain sebab yang
mampu saya lakukan setiap hari adalah sekali merefresh laman media sosial tanpa
bahkan repot-repot menambahkan respon yang menunjukkan bahwa saya ada dan
membaca tulisan atau melihat foto teman-teman saya. I’m too drained to do
that and I’m pretty content with myself. Saya punya kebutuhan tapi hal itu
bahkan saya cukupkan mengingat saya tak punya banyak jaminan tentang masa depan
saya.
Masa depan, ya?
2021 yang sebelumnya hanya masa depan pun
sekarang menjadi demikian dekat, nyata, dan teraba. Saya yang sebelumnya tak
sanggup bahkan menjamah tahun itu di kalender, kemudian mulai mengisi sticky
notes dengan catatan-catatan penting di tahun mendatang.
Hal yang saya inginkan adalah saya bisa
lebih baik belajar.
Tahun ini saya mungkin kehilangan beberapa
hal. Salah satu dan duanya sangat berarti bagi saya sementara lainnya berlalu
seperti pasir yang larut di sela-sela kaki saya setiap kali saya menjejakkan
kaki di pantai.
Bersamanya, saya semakin tidak ingin
menjelaskan diri saya sendiri bahkan untuk diri saya sendiri sebagai lamunan
sebelum tidur maupun racauan sebagai teman mandi. Saya tidak ingin punya waktu
untuk risau terhadap mengapa saya begini dan lebih senang menerima segalanya
sebagai kesalahan saya. Saya perlu waktu mengakui hal-hal semacam ini tapi
selebihnya, saya sudah tak terlalu peduli bahkan sebelum saya menyadari
perasaan saya sendiri. Beberapa orang merasa terlalu terganggu dengan hal ini dan
saya hanya bisa meminta maaf. Saya bahkan tidak bisa menjelaskan ini. Saya mungkin
terlalu takut untuk menghadapi diri saya sendiri dan kemudian menemui bahwa
dalam-dalam, saya memang tidak akan pernah merasa bahagia.
Namun merasa bahagia bukan lagi hal yang
saya kejar sepanjang hari.
Kebahagiaan adalah jika hal-hal kecil saya
hari itu bisa saya capai dan kalaupun tidak, saya punya malam dan hari esok untuk
dijalani.
Sebelumnya saya terlalu lelah dengan another
people’s shits dan berubah menjadi terlalu lelah dengan another people’s
and my shits. Secara literal dan figuratif.
Kalau itu yang saya perlukan untuk
menjadikan diri saya berfungsi dengan baik sebagaimana adanya, saya takkan
memaksa dan membiarkan semua orang menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Lagipula,
merasa gundah dan gelisah adalah bagian dari hidup dan sayang jika kita tidak
merangkulnya dengan baik.
Sekali lagi, hal-hal ini bisa membunuh saya
tapi hidup ini adalah proses pembunuhan. Kita mungkin akan jadi kenangan dan
berarti. (Kalau toh saya dilupakan, tidak apa-apa)
Comments
Post a Comment