Come Back to Me, Annapurna
Januari lalu, saya ke Annapurna. Sebenarnya, di titik ini, pergi ke luar negeri seperti sebuah seremoni penambahan usia. Saya kira, ini bermula pada sebuah percakapan sederhana, tepi ngalor-ngidul yang selalu muncul setiap kali sedang dengan Adien. Teman SMA yang bertemu lagi saat saya kuliah dan ia sudah bekerja ini memang belakangan menjadi tempat saya banyak mencurahkan isi hati dan pengalaman hidup. Saya selalu mengira kami akrab semasa sekolah, mungkin ia punya pandangan berbeda dan saya tak menyalahkannya. Jadi bagi saya, begitu natural bagi kami untuk sama-sama bertemu di Yogyakarta meski nasib sudah jauh melangkah terpisah. Kira-kira itu di 2020, tepat sebelum pandemi menerjang. Saya sedang berjibaku dengan bangku kuliah (lagi), dan Adien sudah menjadi seorang mas-mas kantoran di sebuah NGO. Dilihat dari sudut apa pun, dia sudah jauh melampaui pengalaman hidup saya waktu itu. Ia bekerja dan sudah punya stance pada dunia, hal yang tidak saya miliki di luar bangku perkulia...