Suatu Malam di Depan Rumah

Malam ini Tuhan menghukumku.
Mempertontonkan dan menguji ketegaanku saat melihat satu dari teman terbaikku menangis membisu.
Menahan semua kepengapan yang kurasakan usai bercerita, seolah menimpakan semua ke bahunya.
Ia yang selama ini selalu bersamaku. Datang dan pergi. Ada dan hilang. Malam ini membuat teritorinya, dengan melindungiku.
Aku sandarkan semua tangis dan lelah padanya. Pada bahunya yang mengeras pasca aku bercerita. Membelakangiku dengan sejuta amarah, yang membuatku tak henti merasa bersalah.
Walau untuk apa? Karena hal itu? Karena menceritakannya?

Dan ia menjawab semua dengan tangan terentang dan bahu melebar sempurna. Merengkuhku, membungkus semua ketakutanku dalam kediaman. Membiarkanku menggila dengan berkata, "menangislah. Menangislah sepuasmu."
Mendekatkanku dengan ia yang seringkali kutatap punggung dan tawanya. Mendekapkan semua kegelisahan kami dengan janji yang menelan mataku, telinga dan sekujur badanku. Betapa besar arti sebuah janji..
Berkali-kali membiarkanku bersandar.
Mengisi kekosongan semenjak kepergian kakak tersayang. Membuatku sadar kenapa dari awal kami tak diizinkan mencinta.
Karena kami ditakdirkan untuk begini. Melindungi dan menyayangi dengan cara yang tak tuntas dibayar ikatan darah.
Dengan jalan yang tak sanggup dipandang tebalnya. Menengahi semua prasangka kami.

Malam ini ia ada untuk mendengarkan.
Tetapi yang timbul adalah kemarahan. Tahukah betapa dahsyat amarah seorang lelaki yang tak pernah ditunjukkan?
Aku khawatir sandal gunung kami tak sanggup membawanya pergi. Tas carrier kami tak cukup membungkusnya rapat. Dan sleeping bag kami tak cukup membuatnya nyenyak dalam diam.

Jangan, Yo. Jangan salahkan dirimu.
Terima kasih pula tak menyalahkan diriku.
Aku hanya tak mampu, menekan nomor ponselmu di saat aku butuh pengampu.
Aku hanya tak mampu, memberatimu dengan pesan kosong saat aku butuh bahu.
Aku hanya mampu bercerita saat derita itu telah usai. Berharap.. dengan pasti. Ada yang berkata "jangan" pada kebodohan gadis ini. Berharap ada yang menampar pipinya saat ia berpikiran sempit. Berharap ada yang memeluknya saat ia hendak terjun dalam nista.
Kamu sudah baik.
Aku yang tidak.
Dan karenanya, Tuhan biarkan duka itu bermuara.

Jangan kacaukan dirimu, Yo.
Pulanglah usai peluk ini. Aku hanya bisa membekalimu dengan tangis dan janji.
Tidurlah usai kau ucap kata yang membikin haru. Jangan lagi kau pojokkan dirimu. Jangan pula kau menahan salahku.
Jangan lupa cuci kaki dan tanganmu sebelum kau siap memberangus terang. Jangan biarkan duka menggelayut di sudut matamu. Karena aku tak bisa menghapusnya seperti kau mengusap pipiku.

Dan jangan lupa berdoa. Setidaknya membekalimu dengan tidur yang baik dan mimpi yang indah.
Semoga aku tidak ada di dalamnya.
Karena aku tahu, sejak saat ini yang kubawa hanya luka.

Comments

Popular posts from this blog

Intens

Mengapa ke Đà Nẵng

Aku Tidak Apa-Apa:)