Saatnya Kembali


            Saatnya kembali.
            Salah seorang teman saya pernah bilang, kita punya waktu masing-masing untuk melakukan masing-masing hal pula. Mungkin ini saatnya saya kembali pada program yang sekian lama menjaga otak saya agar tetap waras. Agar kian waras. Mungkin.
            Terkadang saya tidak percaya saya masih waras, walaupun ada ketentraman tersendiri saat saya mencoba mengisi lembar-lembar kosong ini menjadi semakin tak berarti. I would still be holding you like this. Maroon 5.
            Toh nyatanya saya masih kembali.
            Masih ingat jalan pulang walaupun yang saya tatap kembali hanya kekosongan. Ada yang sakit dari proses penemuan itu.
            Malam ini saya merasa didorong untuk menulis. Entah apa, entah untuk apa. Walaupun terkadang, seperti yang saya bilang, yang saya bisa isi hanyalah ketidakpastian. Tetapi setidaknya saya harus bersyukur ada beberapa bagian dari diri saya yang memaksa saya untuk menjaga logika dalam otak saya. Saya kira seluruh diri saya bisa membelot semaunya.
            Karena apapun itu, mereka tahu saya tak punya kuasa ataupun kendali untuk menjaganya.

~ ~ ~

            Ini bukan tulisan pertama saya sejak saya pindah ke Jogja. Tapi mungkin satu-satunya hal yang patut di posting selama saya ada di sini. Saya tidak merasa melakukan banyak hal. Tidak juga merasa diam untuk ketiadaan. Saya hanya ada.
            Saya terkadang ingin membuang waktu yang saya punya, menukarnya dengan siksaan apapun yang bisa menghajar saya hingga babak belur. Alangkah tak tahu dirinya.
            Toh saya sadar, saya bukan Cinderella yang pada kenyataannya harus terlena hingga lewat tengah malam. Tetapi indahnya, jikalau ia tidak terlambat pulang, ia takkan kehilangan satu sepatunya, kan? And the Prince won’t be able to find her.
            Terkadang saya lupa, menulis begini melepaskan satu per satu beban berat yang menggantung di hati dan pikiran saya. Entah bagaimana caranya. Mungkin jika isi tulisan saya hanya omong kosong pun..
            Saya tidak cantik. Tidak indah. Juga tidak merasa patut untuk mengatakan hal itu seolah ada yang menuduh saya demikian.
            Dengan apapun yang menghimpit saya sekarang, saya rasa kecantikan dan keindahan itu tak ada gunanya. Bukan itu yang diminta. Bukan itu yang diinginkan. Tolong. Izinkan saya menangis setidaknya terakhir kali sebelum saya benar-benar lupa saya jadi manusia.
            Lantaran kenapa? Bahu yang dibutuhkan itu tak ada. Cinta yang diminta itu tak berasa. Sandaran yang diperlukan itu tak menjelma.
            Saya tidak punya balon untuk menyenangkan diri saya sendiri. Tidak punya selaksa kebahagiaan untuk dibagi. Tidak punya arti untuk digali. Bagi saya, kekeringan itu tidak lagi terasa saat setiap hari saya menerimanya. Setidaknya saya mencoba menjadi diri saya sendiri.
            Mungkin ini yang dibilang proses pencarian. Sakit memang. Perih memang. Tetapi harus dilalui. Entah bagaimana. Entah dengan apa.
            Terkadang saya lupa, musuh terbesar pun bisa menjadi partner paling handal bagi saya membentuk diri yang bagaimana.
            Saya tatapi jendela kamar kos yang selalu kosong.
            Tidak ada kerinduan di sana. Tidak ada hawa yang menarik paksa ingatan saya akan rumah. Bagi saya rumah itu sama saja. Dekat saja.
            Keterikatan-keterikatan emosional saya mungkin tidak kuat, bilang saja begitu. Tetapi yang saya tahu, saat rumah itu membutuhkan saya, saya senantiasa tidak kuasa menolak. Dengan apapun, bagaimanapun.

~ ~ ~

            Saya sampai pada satu titik, semua kehausan yang melanda jiwa ini tidak lagi ada untuk dirasakan.
            Bagi saya hal itu adalah keharusan yang mau tidak mau harus saya lalui. Kini saya ada di labirin dengan pilihan, duduk atau meneruskan langkah. Saat saya memilih yang pertama, maka yang bisa saya lakukan adalah menulis begini. Tapi saat memilih yang kedua, yang harus saya lakukan pun menulis untuk membekali diri dengan kewarasan.
            Tinggal di tempat yang begitu jauh dari rumah, terkadang membuat saya sadar bahwa cinta itu ada. Setidaknya saya pernah mencintai keluarga saya. Saya pernah menangis untuk merindui mereka. Tetapi terkadang perasaan itu beku seketika. Mengingat saya pun berada dalam kondisi yang tidak menginginkan hadirnya apapun yang membuat saya berat melangkah.
            Entah apa yang saya pikirkan hingga terpelecat di sini. Saya rasa, jawabannya tidak akan pernah saya temui. Sama seperti kenapa saya memilih jurusan saya ini. Saya akan ada pada proses pencarian jawaban itu, tanpa saya kehendaki.
            Si tokoh sampingan itu mungkin hanya akan sendiri menemukan jalannya. Polanya.
            Karena ia sadar, ia tidak pantas untuk ditemani.

~ ~ ~

            Ia ada pada simpangan. Ia harus memilah saat itu juga, apakah ia harus lurus atau menjauh. Ia tak ingin ada simpangan, tapi ia tertantang. Adrenalinnya memuncak, keinginannya untuk diakui tidak mau sirna begitu saja. Ia menerima hal itu dengan sikap pongah.
            Satu kubangan, dilaluinya dengan lancar. Kubangan lain, sayang, sepatu putihnya terkena becekan jalan sehabis hujan. Padahal ia sendiri yang meminta hujan. Ia meneruskan langkah dengan menangis. Namun di kubangan kedua, ia tidak mau kalah. Ia melompat sekuat tenaga. Ia berhasil, namun sakit sekali kakinya. Sepatunya tak hanya kotor, namun kakinya juga sakit. Ia membuang bantalan yang baginya tak berguna itu. Kini ia bertelanjang kaki.
            Ia meneruskan perjalanan. Kali ini dengan sikap waspada, kemudian ia tiba di gerbang di mana jalan menanjak dengan cepatnya, dan ia terbawa angin untuk menitinya. Tepat di titik tertinggi, hingga ia sadar bahwa ia bukanlah apa-apa. Saat Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, ia sadar ia semakin kecil di bawah. Namun ia berani menghibur dirinya sendiri. Ia tidak menangis.
            Ia tertunduk sendu. Kepongahannya hilang dalam sekejap. Kini ia bukanlah siapa-siapa. Jika dulu ia bukan siapa-siapa, kini ia bukanlah apa-apa dari siapa-siapa. Ia terbatuk hingga suaranya serak, dan seolah ada bongkahan batu besar di pundaknya. Siap membawanya turun jatuh ke tempat yang masih terhingga olehnya. Walau ia tak tahu apa dasarnya. Tapi ia tahu, ia bisa jatuh.
            Kemudian ia menyamankan diri. Ia tahu ia tak bisa takut setiap saat. Ia berfikir harus ada yang dikorbankan. Harus ada yang bekerja keras untuk menerima segala ketidaknyamanan yang dapat ditolerirnya. Dan saat bantuan itu datang, ia sumringah. Ia kembali berjalan, kali ini menuruni titik tertinggi itu dengan meniti noktah-noktah menuju tempat landai yang nyaman. Tidak indah, tapi ia tahu di sanalah ia ditakdirkan berada.
            Hingga sekian lama, ia sadar.
            Sejauh itu ia melangkah, ia masih tak berbekal. Kakinya masih luka. Ia baru ingat, kenapa dulu saat memulai perjalanan di simpangan ia memakai sepatu. Karena kakinya telah terluka lebih dulu. Luka itu bukan luka baru.
            Dan luka itu, tak pernah sembuh.
            Untuk sejauh yang dapat ia ingat.

~ ~ ~

            Dan kini, ia tiba pada titik.. bahwa ia ada bukan untuk mengubah apapun.
            Ia ada hanya untuk ada. Semampu yang dapat ia berikan.
            Ia tak lagi ada untuk berharga.
            Ia terduduk saat luka itu kembali menganga. Untuk apa ia menyesal membuang sepatunya? Bukankah itu menguatkannya? Tetapi ia memilih duduk.
            Sesaat.
            Yang ia tahu, ia hanya ingin memakai kaus kaki untuk menghangatkan kakinya. Walaupun ia tahu, ia hanya akan membasahi kaus kaki itu dengan keringat. Dan menodainya dengan darah.
            Setidaknya tanpa sepatu, ia tahu. Ia tak pernah sekuat itu.

~ ~ ~

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps