Posts

Ketika Dalam Suatu Waktu, Saya Menulis

            Seharian ini saya kenyang dengan komentar bernada, “kamu nggak pakai daleman, ya? Gaunmu menerawang, tuh.”             Mulai dari kakak angkatan, teman seangkatan, hingga rekan-rekan yang saling kenal saja. Bahkan banyak juga yang berbaik hati menyarankan untuk menutupinya dengan kain.             Saya jawab, “ya sudah, biarkan saja.”             Kemudian mereka akan berhenti berkomentar.             Memakai gaun berwarna putih berbahan tipis memang menyebabkan banyak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama saat hari siang. Matahari sedang terik bersinar, dan rok saya seperti daun yang ditiup angin semilir. Sejuk.             Ta...

Harga Normal

Kenapa kita merasa bisa mengusahakan diri kita atas hal-hal yang akan atau sedang atau yang telah kita lakukan? Terkadang bagi saya, rasa-rasanya karena kita punya kuasa atas apa yang kita punya. Tubuh, badan, raga, apalah itu. Lantas, siapakah 'kita' sebenarnya? Sebatas jiwa yang tidak bertuan? Selalu merasa tak berada di tempat yang tepat, bertanya-tanya akan hal-hal yang tidak perlu, mengeluh dan berjuang untuk menjadi sebaik-baik kita seharusnya? Lalu hidup ini seketika menjadi begitu membosankan. Saat kita hidup hanya sibuk mencari. Menemukan. Mengganti. Berbagai hal yang melekat pada diri kita. Merelakan sebagian dari diri kita lepas, pergi bersama apapun yang kita harapkan menjadi hal yang lebih baik dari sebelumnya. Alangkah membosankannya, saat kita hidup untuk terus memimpikan raga orang lain. Tolong pahami baik-baik. Saat kita pernah berharap menjadi dia, menjadi yang ini, yang itu. Dan begitu seterusnya. Alangkah membosankannya hidup, ketika kita berpuas diri d...

buat kamu selarut ini

Bang, saya kenalkan sekali lagi. Kali-kali Abang lupa, entah sengaja atau tidak. Atau ada yang menghantam kepala Abang sehingga yang ada hanya mabuk yang semakin lama semakin mengendalikan arah apapun yang sedang terjalin di antara saya dan Abang. Di antara kita. Saya perempuan yang masih mencari definisi perempuan. Saya manusia yang masih mencari definisi manusia. Saya pencinta yang masih mencari definisi cinta. Saya pengelana yang masih mencari jalan untuk berkelana pada diri saya sendiri. Saya seorang diri, yang sedang mencari apa artinya menjadi diri sendiri dan dibiarkan sendirian. Karenanya, saya mengucapkan terima kasih Abang mau menerima saya. Tidak sulit, tidak juga mudah. Tetapi saya terlebih dahulu menerima diri saya sendiri dengan ketakapaadaannya sebelum saya menanyakan layakkah Abang menerima saya. Dalam suatu tahap hubungan, saling menerima adalah syarat krusial yang seringkali memiliki kekhasan, hal-hal spesial yang pada akhirnya hanya indah di awal. Lebih dahulu m...

Miracle In Cell No.7

Hai, there. Saya baru nonton Miracle In Cell No.7, nih. Awalnya saya tahu film ini beberapa bulan lalu, setelah nonton EXO’s Showtime. Reality show ini menceritakan tentang boyband EXO dan berbagai hal seputar keseharian mereka. Apapun yang mereka lakukan, sampai tentang masing-masing personel. Sekarang sih, sudah ada EXO First Box ataupun EXO XOXO. Tapi waktu itu reality show macam ini tentang EXO nggak ada, jadi kebayang kan, betapa famous-nya EXO’s Showtime ini. Hehe. Nah, di episode keempatnya mengenai Natal dan tahun baru, EXO mengungkap tentang member-member mereka yang paling sensitif alias perasa. Perasa yang dimaksud adalah berhati lembut alias gampang menangis. Karena berakhir saling tuding antar member, akhirnya diputuskan mereka mengisi malam dengan menonton film yang mengharu biru. Selain sebagai hiburan, menonton film bersama ini juga bertujuan untuk membuktikan prediksi mereka tentang siapa yang paling cengeng di EXO. EXO’s Showtime berbahasa Korea, jadi saya ...

Sahabat Sejalan Seperjalanan

Teruntuk; Dyah, Dewi, Rika, Fauzi. Sahabat terbaik dalam hidup yang singkat dan tak penting ini. Malam ini aku berkumpul dengan teman-teman lain. Bagian persahabatan yang keliru. Entah, di hidup yang serba singkat ini aku seolah makin membuang waktu. Semakin tidak paham dengan apa yang aku mau. Sayang, sayangku. Aku lelah. Aku ingin pulang. Ke kalian. Pada arah yang seharusnya menuntunku ke tempat tidur. Sekadar teman berbagi tangan untuk saling tos dan menyemangati. Aku ingin lagi bertukar kata. Yang tidak baik sekalipun. Sahabat, kalian yang mampu mengekang keinginanku untuk menari. Untuk mengejar apa yang tidak aku mampu. Dan menghujani diri dengan segala kesedihan di mata terakhir. Kasihku. Kasih yang terkasih. Aku rindu. Menjerang mimpi dengan kesederhanaan. Dengan kata kecil yang tak begitu indah, tapi mampu menyunggingkan senyum. Pun mengerutkan dahi. Malam ini aku berlipat merindukan kalian. Aku sedang ada di antara orang-orang yang tak kukenal. Tak kumengerti. Sepenu...