Sahabat Sejalan Seperjalanan

Teruntuk; Dyah, Dewi, Rika, Fauzi.
Sahabat terbaik dalam hidup yang singkat dan tak penting ini.

Malam ini aku berkumpul dengan teman-teman lain. Bagian persahabatan yang keliru. Entah, di hidup yang serba singkat ini aku seolah makin membuang waktu. Semakin tidak paham dengan apa yang aku mau.

Sayang, sayangku.
Aku lelah. Aku ingin pulang. Ke kalian. Pada arah yang seharusnya menuntunku ke tempat tidur. Sekadar teman berbagi tangan untuk saling tos dan menyemangati. Aku ingin lagi bertukar kata. Yang tidak baik sekalipun.
Sahabat, kalian yang mampu mengekang keinginanku untuk menari. Untuk mengejar apa yang tidak aku mampu. Dan menghujani diri dengan segala kesedihan di mata terakhir.
Kasihku. Kasih yang terkasih. Aku rindu. Menjerang mimpi dengan kesederhanaan. Dengan kata kecil yang tak begitu indah, tapi mampu menyunggingkan senyum. Pun mengerutkan dahi.

Malam ini aku berlipat merindukan kalian. Aku sedang ada di antara orang-orang yang tak kukenal. Tak kumengerti. Sepenuhnya aku duduk di sini. Tetapi apa dayaku. Besok kuliah pagi. Ya, sekedar itu yang bisa aku bagikan tentang kehidupanku yang membosankan di perantauan.
Setiap hari aku melihat apapun yang kalian tuliskan di RU BBMku. Terkadang menatap macam-macam foto yang kalian pasang. Terkadang aku tergerak menanggapi, sekedar menyapa dan mengomentari. Sayangnya terkadang aku ragu. Hanya segelintir kali saja, aku mampu mengobrol. Tapi tak pernah kulewatkan kesempatan untuk menanggapi, curhat atau sekadar menyempit-nyempiti ruang obrolan kalian dengan topik yang tak penting.
Orang-orang di sekeliling mejaku ini saling bersahabat. Layaknya congek yang terlongok-longok dalam berbagai obrolan akrab yang tak berniat melibatkan aku. Itu yang membuatku sedih, dan begitu merindukan kalian.
Seperti sekarang, berada di antara orang-orang yang bukan untukku. Dan tak ada untukku.
Tanpa aku bisa mengusahakan untuk ada dalam mereka, ada di antara mereka.

Rika, Dewi, Dyah, Fauzi. Tak peduli urutannya.
Inez di sini masih terjaga. Sekadar bertanya "kalian bagaimana?", "apa kabar?"
Sekadar merasa mengingat kalian jauh lebih indah dan bahagia daripada berusaha hidup dalam obrolan di ruangan ini.

Kalian.. bagaimana?




Hujan yang tak kunjung datang.

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps