Posts

Under The Water

I was so overwhelmed and worried all day long. Its like having good time, then everything crumble. " Why I did that? Should I do that instead? " —the uncertainty and burden that I put to myself is real. Then the Dreamies are releasing new songs, and next thing I know I'm holding myself in order not to cry while listening Life Is Still Going On  because I can't imagine myself anywhere near the future. The Dreamies did a lot of things to be like what they are now but I'm sad I can't do the same. Maybe in the end, we need other people to reach the bright final line of life so we could be happy. I allowed myself to cry not because its valid. But because I thought it was okay to give myself some slack. I know I'm lacking so much and yet I'm still in the same place. I read more books, more thing, things . But I wake up everyday feeling exactly the same like the day before. I was so exhausted and yearning for a little escape. Yet I couldn't bring myself t...

the idea of sharing

Life is weirder when you don’t have friends. Its like an epiphany of language. Once I flick the button, I came to lights. Where I left barely exposed. Barely naked. Bare. Yet no one seems to grasp the idea of being a living thing. We share the same sentiment, the (purposedly) same sense, yet we set off from the different kind of foreground that kinda destructing us to the way we wanted it to be. Life sure is weirder when you have a consideration. The living consciousness that wait to be relieved.   Saya membaca tentang sub-bab subjektivitas sebelumnya. Tentang ‘sesuatu’ dalam diri kita yang belum dijamah, atau sudah dijelajahi tapi tak bernama. Daripada itu, seperti yang sudah dipelajari sebelumnya, pada dasarnya manusia belajar tentang manusia dan alangkah ceroboh serta kaburnya kita saat mencoba merangkai kesemua pemahaman itu dalam sebuah landasan epistemologis. Manusia (memang) makhluk yang aneh. Seperti hal itu, memiliki kesamaan atau perbedaan yang dapat ditolerir seben...

Setidaknya Hal-Hal yang Perlu Dibersamai

Tahun ini sudah akan berakhir dan saya kembali merindukan masa-masa yang saya kira lebih baik (dan selalu demikian). Begitu banyak hal terjadi dalam setahun, sehingga saya benar-benar merasa dua tahun sudah lebih dari cukup untuk membiarkan saya menganggur tanpa kejelasan. Namun tahun ini, setelah hampir sepuluh bulan terkungkung pandemi dan membatasi banyak (serta memberikan peluang pada hal lainnya), rupanya saya tak pernah cukup menganggur. Saya kuliah lagi. Belajar lagi (belajar terus). Saya mulai membaca dan menulis. Baik fiksi maupun nonfiksi. Saya menerbitkan antologi puisi saya tahun ini dengan rasa haru luar biasa (tanpa launching , seperti buku pertama saya; bahkan tanpa banyak-banyak bersuara, saya kira). Setidaknya saya sudah memenuhi keinginan saya untuk menulis untuk diri saya sendiri. Untuk saya yang ingin mencintai diri saya sendiri. Untuk saya yang menyukai diri saya sendiri. Buku saya, tentu saja, tak banyak yang tahu karena, tentu saja, siapa saya. Saya mungkin...

Grown Up

Ibu saya menelepon sore ini. Saya selalu merasakan kepenatan yang tak enak setiap kali teleponnya saya terima. Saya tahu saya takut. Akan banyak hal seperti disuruh pulang, ditanyai apakah saya bisa makan, mengabarkan pernikahan saudara, tetapi saya lebih takut pada diri sendiri. Setiap kali saya mendengar suara ibu, saya mendengar diri saya minta tolong. Dalam ibu saya, saya selalu minta tolong. Kali ini, ibu saya memberi kabar tentang seorang saudara yang meninggal dunia. Saya terperanjat, karena saudara yang dimaksud jauh lebih muda dari saya; ia tengah mengenyam pendidikan di suatu kampus di kampung halaman saya. Tipikal pemuda gemilang yang siap mempersembahkan apapun dari dirinya kepada dunia dan keluarganya. Ingatan saya padanya muncul karena kami dulu biasa bermain bersama. Tahun lalu adalah pertemuan terakhir kami mengingat kali ini saya pun tak bisa melayat. Dalam Grown Ups! , sebuah film komedi Adam Sandler, seorang tokohnya mengatakan “ I’m sorry death make me weird ”. Mesk...

Rencana Pembunuhan Terhadap Kubu Pandawa

Image
Bagaimana rasanya punya rahasia? Saya pernah takut dengan rahasia, karena saya memilikinya. Saya tidak ingin orang masuk ke kamar saya, ke diri saya, ke otak saya. Saya senang menempatkan orang-orang di sekitar saya dan mengembalikan mereka pada posisi yang seharusnya tiap kali mereka mendekat. Lalu saya belajar bahwa, rahasia tetap milik saya. Menjadi saya, karena saya tak gemar menjelaskan tentang saya pada orang lain. Pada siapa saja. Saya tak pernah utuh mengisahkan sesuatu atau dikisahkan, sehingga selalu ada rahasia. Menjadi saya. Sejak kecil, saya selalu ingin punya rahasia. Denganku, kamu akan mengetahui rahasia-rahasia . Saya ingin punya teman untuk bisa membagi sorot mata itu. Lalu kami akan menjadi raskal-raskal kecil dalam dunia yang penuh rahasia. Gelap, terang. Berbeda dengan saya, rahasia selalu utuh. Saya bisa memahami dan mengalaminya sepenuhnya tetapi selayaknya rahasia pada umumnya, saya tak perlu menceritakannya kepada siapa-siapa. Rahasia menjaga kewarasan saya, da...

Kuliah itu Enak Tidak

Saya ingat, beberapa tahun lalu saya risau karena kesusahan dalam mengoperasikan komputer. Sejujurnya tidak hanya komputer, kecelakaan yang saya alami membuat saya nyaris memiliki hampir seluruh kesulitan di dunia ini terutama dalam menggunakan kedua tangan. Namun dibanding hal-hal lainnya, ketika saya sudah dalam kondisi yang tenang, kesusahan mengoperasikan komputer saya rasa adalah yang paling mengganggu. Hal itu membuat saya harus beristirahat selama beberapa waktu dan menghabiskannya dengan melakukan apa saja selain beraktivitas normal. Ada alasan-alasan tertentu mengapa saya akhirnya memilih terapi diri dan tinggal di rumah, tetapi selebihnya adalah keinginan saya yang sebenarnya agar lekas pulih dengan sempurna. Sampai sekarang, saya masih dapat merasakan luka di lengan saya tetapi seiring waktu berjalan, nyaris tak ada masalah yang saya utarakan berkenaan dengannya. Hal yang paling saya rasakan selama beberapa waktu tinggal diam adalah keinginan saya yang menggebu untuk kemba...

Anak Baru

Halo. It’s been a while . Sejujurnya nggak pengin nulis begini di awal blog karena kalau diteruskan selalu akan sama: saya yang nggak pernah lagi update dan malah berusaha menyibukkan diri. Satu sisi saya mengatakan “syukurlah, kamu bisa lebih sibuk dari sekadar nulis tanpa tujuan”, sementara diri saya yang lain tersedak setiap kali saya merasa bahwa saya terlalu jauh melangkah tanpa bisa duduk dan mengamati; seperti yang saya lakukan setiap kali saya di sini. Menulis begini. Bisa dikatakan ini hanyalah keegoisan saya semata. Saya terkadang nggak pengin membebani pikiran saya dengan hal yang tidak penting ( but here we are ), apalagi sampai membuat orang lain membaca tulisan saya. Ugh, lets just pretend that I’m talking to you since we don’t have any specific agenda here . Tahun kemarin saya praktis nggak melakukan apa-apa (jika kalian lihat dari blog ini). Meski sejujurnya saya masih merasa gamang dengan bagaimana saya akhirnya menjalani tahun itu dengan * cough * baik-baik saja...