Pasca Liburan
Kembali kembali kembali.Yah, hanya kata itu yang terus terngiang dalam telinga saya ketika melihat kalender pada hari-hari terakhir liburan. Kembali ke rutinitas sekolah, ekstrakulikuler, organisasi, dan kegiatan yang sangat padat lalu lintas. Tak hanya itu, pekerjaan rumah (saya lebih senang menganggapnya pekerjaan liburan) dan tugas-tugas sudah menunggu untuk dikumpulkan. Namun belum juga terselesaikan. Padahal awalnya saya pikir cuma he-eh he-eh aja. Ohlala .. ternyata kok ya banyak juga ya. Belum lagi musim ulangan yang jelas bakalan menggantikan musim kemarau yang penuh kantuk dengan semangat belajar target kejar semalam dengan ditemani kopi tubruk ataupun torabika. (Huhu.. kagak bisa nongkrong deh). Dan segera saja, kami akan menyambut ulangan tengah semester yang siap menghadang langkah awal kami di kelas baru. Tidak begitu baru sih. Hanya saja, adaptasi kan selalu dibutuhkan dalam setiap perubahan. Sekecil apapun.
Bicara soal liburan yang telah saya lewati, banyak hal berkesan yang saya dapat. Ulasan-ulasan masa lalu, kebenaran maupun kesalahan, dan juga sepasang sepatu trekking siap pakai yang baru akan dibeli (oh ya, plus carrier). Agenda saya naik gunung Raung amburadul tak karu-karuan rimbanya. Karena? Nggak jelas. Nggak ngerti. Entah bagaimana, saya menyayangkan keluarga saya yang amat-sangat childish dan plinplan dalam mengambil keputusan di waktu yang serba singkat itu. Bilang ya, saya pun terlanjur bilang ya pada teman-teman. Eh, buntut-buntutnya tidak. Ha ha. Sejumput lelucon dalam hidup yang harus saya gerus mati-matian dengan rasa kecewa dan sakit hati yang mendalam. Jujurnya, hingga saat ini. Karena selain tak ada usaha berbaikan, saya pun rasanya enggan untuk melupakan bagaimana semangatnya saya untuk naik ketika kemudian harus dijegal lantaran jarak yang memisahkan. Well, lain kali saya harus punya pendirian lebih. Nggak cuma bermodalkan nekat, kemauan, dan kekeras kepalaan. Sama-sama nggak ada jalan keluarnya.
Saya berusaha mamahami dan menyikapi semua keadaan sebaik mungkin. Inginnya.Biarpun saya tak ingin membuang waktu, toh inilah masa saya. Harus saya manfaatkan sebaik mungkin atas segala kemungkinan dan kebahagiaan yang seharusnya ada. Meskipun diiringi dengan susah payah dan rasa sakit. Malah dengan itulah semua akan lebih bermakna. Saya bisa menyikapinya dari berbagai sudut kalau saya mau.Mata saya sudah nyaris terpejam. Namun tangan saya masih ingin bergerak. Padahal tugas-tugas saya terbengkalai.Apa daya? Seharian saya buat untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawa saya yang masih kocar-kacir lepas dari mbolang dan liburan. Pun mengikuti latihan seperti biasa untuk memulihkan stamina fisik. Makan secara tidak teratur, membuat perut saya seringkali sakit. Tak hanya itu, tadi siang saya dehidrasi di rumah sendiri. Ckckck. Memalukan sekali ya ? Harus kekeringan dan kelelahan dirumah sendiri.Sisa-sisa kekacauan sudah saya bereskan. Tinggal diri saya saja menghadapi hari esok dengan kantuk dan semangat merajalela. Sekian lama saya tak bertemu teman-teman sekelas, lain kelas, pun teman-teman organisasi. Rasanya mungkin nggak rindu-rindu amat, tapi tetap saja ada harapan untuk bertemu dengan keadaan yang baik besok, kan? Kapan lagi dong, liburan lama begini.
"Rasa sakit adalah kelemahan."
Kata-kata itu saya dapat dari film Ninja Assassin yang diperankan oleh aktor Korea Rain. Asik sih. Berkesan kuat dan teguh begitu melafalkannya. Namun ketika ingat bagaimana rasanya jadi orang kecil di gunung-gunung dan hutan kemarin malam, rasa sakit itu bukan lagi sekedar kelemahan, namun musuh yang harus dilawan. Untuk tetap hidup.
Jujur nggak ada maksud lebih dari saya untuk mengupas kalimat itu seperti biasa. Nggak begitu tertarik sih. Untuk apa coba? Saat saya merasa sakit, saya seringkali mengeluh ataupun mengaduh. Dan itu jelas suatu kelemahan bukan? Namun bukankah itulah manusia? Punya indera untuk merasakan dan meraba, punya hati untuk dipelihara dan dikembangkan. Bukan untuk disakiti (terus menerus). Untungnya, ada dialog yang menyebutkan para ninja yang sakti (atau sakit?) itu bukan manusia. Sebab saya bingung sendiri dengan kekuatan yang serba mustahil untuk didapat. Meskipun saya percaya tak ada yang mustahil dalam hidup yang sempit ini.Pikiran saya melanglangbuana, berarti mereka adalah Fake Plastic Trees-nya Radiohead dong? Hm. Kok rasa-rasanya iya ya?Padahal terkadang saya berusaha berteman dengan rasa sakit itu. Rasa sakit yang kasat mata, yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Yang selalu ada dalam diri setiap manusia. Meskipun mereka terkadang bukan manusia sejati melainkan pohon plastik. Yang punya titik terlemah dalam hidup. Setiap orang itu spesial dan istimewa. Namun mereka hidup dalam tatanan dan aturan masyarakat yang selalu mapan dan tegak aturan. Ya, setiap orang pun punya caranya masing-masing untuk menyikapi dan memandang semua itu darimana ataupun sebagai apa.
Bukannya membatasi mereka dalam bergaul, namun turut memberantas kemampuan-kemampuan yang sesungguhnya selalu ada dalam diri setiap individu itu.
Saya ingin bilang kalau sakit itu hanya kita yang bisa merasakan pun menyebabkannya. Ketika kita bilang lemah, maka kita memang lemah.
Ujung-ujung jalan saya masih panjang. Masih jauh berkelok. Hidup saya masih panjang. Masih banyak gunung yang belum saya daki. Banyak pula jalanan yang belum saya tapaki. Dan banyak rahasia Ilahi yang belum saya temukan. Dalam keterbatasan pikiran yang tak berjangkau dan tak berjamah dalam desisan semesta. Yang serba meminta. Meskipun yang dia tahu hanyalah nestapa. Kan ? :)
catatan orang mengantuk,
vigna sinensis
Bicara soal liburan yang telah saya lewati, banyak hal berkesan yang saya dapat. Ulasan-ulasan masa lalu, kebenaran maupun kesalahan, dan juga sepasang sepatu trekking siap pakai yang baru akan dibeli (oh ya, plus carrier). Agenda saya naik gunung Raung amburadul tak karu-karuan rimbanya. Karena? Nggak jelas. Nggak ngerti. Entah bagaimana, saya menyayangkan keluarga saya yang amat-sangat childish dan plinplan dalam mengambil keputusan di waktu yang serba singkat itu. Bilang ya, saya pun terlanjur bilang ya pada teman-teman. Eh, buntut-buntutnya tidak. Ha ha. Sejumput lelucon dalam hidup yang harus saya gerus mati-matian dengan rasa kecewa dan sakit hati yang mendalam. Jujurnya, hingga saat ini. Karena selain tak ada usaha berbaikan, saya pun rasanya enggan untuk melupakan bagaimana semangatnya saya untuk naik ketika kemudian harus dijegal lantaran jarak yang memisahkan. Well, lain kali saya harus punya pendirian lebih. Nggak cuma bermodalkan nekat, kemauan, dan kekeras kepalaan. Sama-sama nggak ada jalan keluarnya.
Saya berusaha mamahami dan menyikapi semua keadaan sebaik mungkin. Inginnya.Biarpun saya tak ingin membuang waktu, toh inilah masa saya. Harus saya manfaatkan sebaik mungkin atas segala kemungkinan dan kebahagiaan yang seharusnya ada. Meskipun diiringi dengan susah payah dan rasa sakit. Malah dengan itulah semua akan lebih bermakna. Saya bisa menyikapinya dari berbagai sudut kalau saya mau.Mata saya sudah nyaris terpejam. Namun tangan saya masih ingin bergerak. Padahal tugas-tugas saya terbengkalai.Apa daya? Seharian saya buat untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawa saya yang masih kocar-kacir lepas dari mbolang dan liburan. Pun mengikuti latihan seperti biasa untuk memulihkan stamina fisik. Makan secara tidak teratur, membuat perut saya seringkali sakit. Tak hanya itu, tadi siang saya dehidrasi di rumah sendiri. Ckckck. Memalukan sekali ya ? Harus kekeringan dan kelelahan dirumah sendiri.Sisa-sisa kekacauan sudah saya bereskan. Tinggal diri saya saja menghadapi hari esok dengan kantuk dan semangat merajalela. Sekian lama saya tak bertemu teman-teman sekelas, lain kelas, pun teman-teman organisasi. Rasanya mungkin nggak rindu-rindu amat, tapi tetap saja ada harapan untuk bertemu dengan keadaan yang baik besok, kan? Kapan lagi dong, liburan lama begini.
"Rasa sakit adalah kelemahan."
Kata-kata itu saya dapat dari film Ninja Assassin yang diperankan oleh aktor Korea Rain. Asik sih. Berkesan kuat dan teguh begitu melafalkannya. Namun ketika ingat bagaimana rasanya jadi orang kecil di gunung-gunung dan hutan kemarin malam, rasa sakit itu bukan lagi sekedar kelemahan, namun musuh yang harus dilawan. Untuk tetap hidup.
Jujur nggak ada maksud lebih dari saya untuk mengupas kalimat itu seperti biasa. Nggak begitu tertarik sih. Untuk apa coba? Saat saya merasa sakit, saya seringkali mengeluh ataupun mengaduh. Dan itu jelas suatu kelemahan bukan? Namun bukankah itulah manusia? Punya indera untuk merasakan dan meraba, punya hati untuk dipelihara dan dikembangkan. Bukan untuk disakiti (terus menerus). Untungnya, ada dialog yang menyebutkan para ninja yang sakti (atau sakit?) itu bukan manusia. Sebab saya bingung sendiri dengan kekuatan yang serba mustahil untuk didapat. Meskipun saya percaya tak ada yang mustahil dalam hidup yang sempit ini.Pikiran saya melanglangbuana, berarti mereka adalah Fake Plastic Trees-nya Radiohead dong? Hm. Kok rasa-rasanya iya ya?Padahal terkadang saya berusaha berteman dengan rasa sakit itu. Rasa sakit yang kasat mata, yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Yang selalu ada dalam diri setiap manusia. Meskipun mereka terkadang bukan manusia sejati melainkan pohon plastik. Yang punya titik terlemah dalam hidup. Setiap orang itu spesial dan istimewa. Namun mereka hidup dalam tatanan dan aturan masyarakat yang selalu mapan dan tegak aturan. Ya, setiap orang pun punya caranya masing-masing untuk menyikapi dan memandang semua itu darimana ataupun sebagai apa.
Bukannya membatasi mereka dalam bergaul, namun turut memberantas kemampuan-kemampuan yang sesungguhnya selalu ada dalam diri setiap individu itu.
Saya ingin bilang kalau sakit itu hanya kita yang bisa merasakan pun menyebabkannya. Ketika kita bilang lemah, maka kita memang lemah.
Ujung-ujung jalan saya masih panjang. Masih jauh berkelok. Hidup saya masih panjang. Masih banyak gunung yang belum saya daki. Banyak pula jalanan yang belum saya tapaki. Dan banyak rahasia Ilahi yang belum saya temukan. Dalam keterbatasan pikiran yang tak berjangkau dan tak berjamah dalam desisan semesta. Yang serba meminta. Meskipun yang dia tahu hanyalah nestapa. Kan ? :)
catatan orang mengantuk,
vigna sinensis
Comments
Post a Comment