(maunya) 16 Juli 2012
16 Juli 2012.
Akhirnya setelah sekian lama nggak nyambangin blog
sama sekali, sekarang baru ada kesempatan untuk bisa nulis sebebas ini. Setelah
sebelumnya terjerat liburan yang menyesakkan juga, menyenangkan juga, dan juga
terjerat program kerja MOS PENA yang sangat menyita tenaga seminggu ini.
Sesuai dengan passion dari kelas X, jadi komdis
rasanya memberikan kepuasan setelah target untuk itu terpenuhi. Berlima, kami
berusaha mengubah image komdis yang tahun lalu berasa melunak. Tahun ini kelas
kembali dipenuhi pot (pecah v._.), sentakan penggaris, guntingan rambut, dan
lain sebagainya. But, overall I say congratulations for the new student that
can passed that test nicely. Maafin kakak-kakak komdis ya udah ngebentak-bentak
kalian, ini kan
buat kebaikan kalian juga. Supaya nggak terus-terusan manja-manjaan di masa SMA
yang makin lama terasa makin sulit ini.
Oke, lupakan. Seharusnya saya
bisa melupakan semuanya lebih awal dan menulis lagi dengan baik. Saya telanjur
ditelan ketakutan kalau semakin lama saya semakin dangkal. Meskipun saya tahu
tulisan-tulisan saya itu omong kosong, banyak yang bilang, tapi siapa bilang
omong kosong tidak ada gunanya? Hal ini membuat saya terlihat lebih jujur
sebenarnya.
Hari ini Senin. Dan hari
Jum’at sudah menginjak bulan Ramadhan. Ramadhan terakhir saya di SMA (amin).
Kian dewasa saya kian terjaring perasaan untuk bolong di bulan Ramadhan. Selain
karena terjerat kewajiban mengganti, hal ini membuat saya terkadang tidak
merasa nyaman harus makan minum diantara belantara orang-orang yang berpuasa.
Tapi sayangnya, hal itu sulit diwujudkan karena kewajiban kodrati saya sebagai
perempuan, sebagai wanita mengharuskan untuk terpaksa bolong paling tidak
seminggu.
Kegundahan ya? Saya tidak sedang
galau, tapi hanya saja merasa dilematis sekali. Mengenai lebaran yang kian lama
kian sepi, saya juga merasa bingung mengenai ’dimana’. Sulit rasanya
membayangkan harus berlebaran di Jember. Dengan keluarga yang tidak dan tak
pernah utuh itu. Saya jujur mengatakannya, kan? Belum lagi saya harus membayangkan
trip ke Jombang, Jember, Probolinggo yang sangat memuakkan bersama keluarga
yang cenderung sama sekali tidak membantu perkembangan remaja seusia saya dalam
artian yang konotatif, juga sama sekali tidak memberikan privasi bagi diri saya
pribadi. Saya yakin akan lebih merindukan blog ini saat sedang ramai begitu!
Lepas dari apapun, saya
terkadang merasa dilematis juga naik ke kelas 12 ini. Tantangan yang semakin
berat, jauh lebih terasa berat. Saya sudah state secara langsung pada keluarga
kalau saya ingin ke Jogja. Kuliah, sekolah, apapun disana. Saya telanjur jatuh
cinta pada kota itu, mengingat di Malang rasanya sudah seabrek senior saya yang
ada disana dan melihat kemungkinan mudahnya saya dipantau oleh keluarga. Bukan
saya memberontak, hanya saja saya ingin merasakan hidup kos sendiri. Saya ingin
merasakan betapa diri saya mencintai mereka; keluarga, teman, sekolah, guru dan
lain sebagainya. Seperti kata Ratna Indraswari Ibrahim melalui bukunya Bukan
Pinang Dibelah Dua, tepatnya setelah saya
jauh, saya baru bisa merasakan cinta mereka.
Sekarang saya terlalu
diombang-ambingkan perasaan tak menentu akan apapun yang terjadi kelak. Terlalu
tidak kondusif bagi diri saya pribadi. Meskipun terkadang mendorong saya untuk
lebih produktif dalam pembuktian diri dan mimpi saya, namun saya sadar saya
tidak bisa sepenuhnya berkembang dalam hidup dan kehidupan yang seperti itu-itu
saja. Saya ingin bebas, bukan memberontak. Bebas dari semua permasalahan
keluarga, sekolah, teman, bebas dari doktrinasi yang terus menerus menjerat
saya dalam asa sebuah logika. Dalam keputus asaan dunia remaja. Saya tahu
mereka akan menganggap saya gila dan sama seperti jutaan anak muda lainnya yang
ingin memberontak tanpa alasan dari rumah. Hanya saja, mereka tak pernah
mengerti saya. Mereka tak pernah melihat siapa saya. Apapun yang saya lakukan
bagi mereka hanyalah hal-hal aneh dan unik yang hanya akan terbengkalai begitu
saja.
Mengenai kuliah dan
universitas, saya belum tahu sejujurnya hendak mengambil jurusan apa kelak.
Entah kesenian seperti yang juga sering disarankan pada saya, atau yang
berkenaan dengan jurusan IPS saya saat ini. Atau juga mengambil sekolah
pramugari yang sama sekali menyetop saya untuk terus menjadi liar dan berkelana
semau saya.
Menjadi freelance dengan hidup
yang sederhana dan indah mungkin selalu menjadi impian saya. Tapi di dunia ini,
orang yang tidak menjadi sarjana hanyalah menjadi kepingan-kepingan kebodohan
yang berserak, tak ada andilnya dalam bumi ini. Saya tidak ingin terjerat dalam
doktrin keluarga yang menyatakan bekerja itu harusnya di kantor, dengan
kubikel-kubikel sempit yang memenjara impian saya. Bekerja itu harusnya
berpakaian resmi dan meeting dengan klien. Saya ingin bekerja, sebagai saya.
Bukan sebagai robot. Saya ingin setiap langkah ini digerakkan dengan hati dan
semangat yang tiada pernah padam seumur hidup. Menulis, bisa jadi ajang yang
menyejukkan. Tapi saya sadar untuk terus menggalinya saya harus terus belajar
dan menimba ilmu di berbagai aspek. Tidak hanya memperdalam perbendaharaan kata
dan perhalusan bahasa. Harus ada yang hidup dari tulisan saya. Harus. Mungkin
mereka dapat memenjarakan saya, tapi tidak selama saya masih bisa menulis dan
bersuara. Mungkin seharusnya ada perbaikan disana-sini.
Terakhir dari post ini, saya
ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun, Sweet Seventeen untuk sahabat saya
Syafrhizal Widya Putranto yang tanggal 14 Juli kemarin genap sudah 17 tahun
memberikan manfaat bagi bumi ini, besar ataupun kecil. Juga minta maaf kalau
sudah menyusahkan dan menyebalkan, this for you, pals! J we love you.
See ya J J J
Salam (semoga saya tidak
bertambah dangkal)
Comments
Post a Comment