Another Posting


            Lagi dan lagi.
            Hari ini mungkin kesekian kalinya saya menghabiskan sore dengan mendengarkan lagu More Than This-nya One Direction. Sungguh, saya bukan sepenuhnya latah dan ikut banyak orang (yang notabene cewek) tergila-gila dengan boyband atau vocal grup dari Barat itu (maafkan kalau istilah yang saya gunakan rasis). Tapi lagunya memang bagus. Dan sepanjang pengetahuan saya, lagunya yang saya dengarkan full pun hanya What Makes You Beautiful dan More Than This saja.
            Tahu lagunya pun dari teman-teman. Liat video clipnya juga baru satu-dua dan saya convert ke MP3 baru kalau benar-benar enak dan saya ketagihan mendengarkan. Lain-lainnya, misalnya ketampanan para membernya terutama si Zayn Malik. Bisa diurus belakangan lah. Hehe. Maksud saya, bukan yang terutama sekarang.
            Dua hari ini saya ketagihan menulis sekedar calon posting di blog. Entah karena apa. Oh ya, mungkin karena penghabisan try out dan saya harus dihadapkan dengan ujian akhir semester minggu depan. Materi pelajaran pun jadi monoton karena kebanyakan itu-itu saja. Saya, dan banyak teman lainnya, didera kebosanan yang sama karena pressure yang kami dapat juga enggak main-main. Setiap mata pelajaran menuntut untuk diprioritaskan tanpa peduli studi apa yang kami ambil selepas SMA.
            Saya berdoa biar lekas-lekas agar tidak terlalu lama memboroskan waktu, tenaga dan energi untuk hal-hal yang jelas-jelas tidak saya inginkan.
            Dan saya pun harus berhadapan dengan penghujung masa SMA. Masa menyenangkan ini harus berhenti. Sesuai peribahasa baku, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Saya tak bisa membayangkan masa baru saya nanti. Tanpa teman-teman dengan seragam di kelas. Teman-teman yang hangat, kocak, dan penuh warna. Kami sudah seperti saudara. Saling kenal. Saling tahu walau kadang tak menyapa. Saling peduli walau tak pernah bertatap lama. Banyak sekali masa berharga yang saya dapat. Kalau bisa, saya ingin mengulang semua waktu sedari MOS-PENA hingga sekarang. Hingga detik ini. Semua persahabatan, percintaan, kemelut, prahara, kecenderungan, kesedihan, kesenangan. Tak ada kata yang dapat membatasi bagaimana perasaan saya selama menjadi murid SMA.
            Ekstrakulikuler, guru dan materi pelajaran. Semua pasti sangat saya rindukan. Saya selalu menemukan sorot mata rindu dan hangat di mata para alumni. Mereka tertawa riang di halaman sekolah, sekedar menikmati masa-masa kami. Bukan lagi mereka. Tapi berkali-kali tawa itu mengingatkan saya kalau tak lagi mereka dapatkan jika bukan dengan teman yang sama, tempat yang sama, keadaan yang sama. Walaupun tidak semua guru menyenangkan, dan walaupun kesenangan seringkali bukan berasal dari materi pelajaran, kami harus mampu menerima bahwa suatu saat dosen kami di universitas jauh lebih killer dan tidak menyenangkan. Pendidik kami di pelatihan ikatan dinas tidak ramah dan bersahabat. Materi yang bertumpuk, tugas dan tugas yang harus diselesaikan. Bahwa universitas kami terlalu luas untuk dikenali. Orang terlalu banyak untuk dipedulikan. Dan hati ini semakin menyempit di saat merasa sendiri di perantauan.
            Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya dimarah-marahi di MOS dan PENA. Salah atribut, terlambat, salah bawa materi, dan lain sebagainya. Tertunduk malu, merasa bersalah dan sangat takut dengan senior yang menyeramkan dan disiplinful. Lalu masa berganti. Kami mulai mengenal satu sama lain. Membaui keakraban dan rasa senang di balik koridor dan lorong panjang sekolah kami. Menghafal letak toilet, perpustakaan, kantor dan meja guru tertentu. Kemudian pelajaran yang diberikan tak hanya dari buku-buku berbau harum dengan kertas baru. Tapi dengan ekstrakulikuler yang selalu semarak di sore kami. Bersama teman-teman dari berbagai kelas. Mulai kembali mengenal dan mengetahui kegiatan-kegiatan ekstra.
            Naik kelas XI. Sudah saatnya tampuk senior di ekstra kami raih. Kami jalankan sesuai dengan apa yang telah kami terima sebelumnya. Membantu adik kelas yang kerepotan mengurusi MOS dan PENA sebagai pembimbing kelas. Berjuang dengan jalan masing-masing di organisasi yang semakin banyak agenda dan selalu mengalami berbagai macam trouble yang tidak terbatas oleh usia dan pengalaman. Mulai mengenal tabiat guru dan sangat enjoy menikmati pelajaran. Di masa ini, saya sudah beradaptasi dengan teman dan lingkungan serta mata pelajaran. Jadi tak ada masalah keliling ke mana-mana. Mengurusi berbagai kegiatan yang tepat pada puncaknya di masa ini.
            Naik ke kelas XII, saya merelakan berbagai kegiatan dan agenda pada adik kelas yang sudah naik juga ke kelas XI. Melewatkan banyak waktu untuk memberi wejangan, melantik dan menasihati. Mengajarkan pada mereka bahwa dunia ini terlalu luas untuk dipelajari. Jadi lakukan dan melangkahlah. Mulai menghadapi bumbu-bumbu keraguan pra UNAS. Yang tak begitu kentara di semester pertama, tapi sayangnya jadi momok di semester terakhir SMA ini. Selama ini saya sekolah dengan enjoy. Tugas dengan nyantai dan ujian dengan selow. Tak ada yang melarang karena banyak teman pun begitu. Di masa ini semua passion saya beberkan dari dalam otak saya, kemudian saya pilah mana yang sesuai dengan keadaan saya saat ini.
            Saya tak berniat melanjutkan ke jurusan eksak, walaupun saya mengambil jurusan IPS yang sering dipandang sebelah mata oleh orang banyak. Saya lebih memilih meneruskan kesenangan dan gairah hidup saya selama ini. Tak bisa tidak. Bagi saya hidup ini mudah bagi siapapun yang berpendapat demikian. Dan sulit bagi siapapun yang percaya itu. Tidak ada gunanya saya melebih-lebihkan semua kekalutan yang sempat terjadi. Tuhan telah memberikan masa yang terbaik bagi hidup saya. Pilihan saya sudah jatuh dan tinggal menunggu dan menjalaninya. Tuhan yang banyak berkehendak.
            Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih sebuncah-buncahnya bagi setiap detik mundur yang dapat saya lalu, Tuhan. Terima kasih J Kau ajarkan segalanya.
            Mungkin tak tepat saya katakan perpisahan di sini. Saya rasa saya berada di ambangnya. Ketika semua teman-teman saya berada dalam kekalutan sehingga tidak menghiraukannya. Tapi saya, yang selama ini pun cenderung selow saja menghadapi apapun. Merasa hal itu tak lain dari adaptasi berlanjut yang bisa saja berhasil baik, maupun sebaliknya. Masa indah ini akan berakhir. Saya berniat mengisi dengan masa indah lainnya.
            (saya lirik ponsel untuk kesekian kalinya, tak ada reaksi)
            Saya pernah dinasehati Tante saya, “hidup memang begini.” Saya kira itu ungkapan yang pas untuk hidup saya pribadi. Bahkan mungkin jutaan orang yang mau memikirkannya.
            Dinamika yang saya lalui satu demi satu itu tak bisa berhenti di situ saja. Semua berkesinambungan hingga masa kini. Menjadi jalin-jalin waktu yang manis dari setiap ucapan, perilaku maupun perasaan untuk selanjutnya hanya bisa jadi kenangan dan pelajaran. Hidup itu memang keras. Bahkan bagi saya. Saya belum bisa dikatakan terjun di aspal jalanan dan berteman dengan asap kendaraan. Saya tidak bisa dikatakan sudah piawai menikmati kelok hidup. Meander yang kelak membuat saya berani itu masih jauh dari gapaian saya. Pribadi, maupun umum.
            Tapi seringkali saya merasa gamang. Merasa ada yang salah. Memang itulah hidup. Terkadang memikirkan apa yang akan terjadi kalau kita memilih jalan lain. Jalan lain yang bukan saya. Karena apapun yang saya jalani saat ini, saya yakin adalah jalan yang diberikan Tuhan buat saya. Mengenai benar atau salah, hanya masalah waktu hingga Tuhan menunjukkan kebenaran dan kuasa-Nya yang tidak terbendung.
            Sujud dan taklukku pada-Mu, Tuhanku.

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps