Waktu-Waktu Luang

            Menulis saat terlalu datar begini tidak begitu mengasyikkan juga rupanya.
            Kalimat itu membuktikan bahwa saya sudah ‘mencoba’ menulis berkali-kali, sekadar memperbaharui tulisan demi tulisan yang semakin lama semakin tua. Dan membuktikan pula bahwa percobaan-percobaan itu tidak semuanya berhasil. Tidak semuanya pula gagal.
            Mungkin tulisan kali ini akan berakhir menjadi salah satu dari sekian posting saya, atau mungkin juga berakhir di recycle bin, menunggu untuk benar-benar dihapus. Entah. Setidaknya saya harus mencoba terlebih dahulu, kan. Baiklah.


            Hari-hari yang panjang ini mengingatkan saya akan banyak hal yang telah saya lalui. Membut saya melakukan hal-hal secara berulang-ulang. Menonton film yang sudah saya tonton, mendengarkan lagu yang sudah saya dengar, melihat foto yang sudah saya lihat, semuanya berulang setiap hari. Membuat saya bertanya-tanya apakah saya tidak bisa menggunakan waktu luang yang diberikan Tuhan ini dengan sebaik mungkin.
            Satu hal yang saya sadari, rupanya dari rutinitas yang berulang seperti siklus tak berujung itu saya tidak bisa menulis ulang. Ada beberapa ide tulisan yang saya godok sejak lama, dan harus dieksekusi sekali duduk. Mungkin saya terlalu banyak membuang kesempatan, hingga ketika tiba waktunya untuk mengerjakan banyak hal, segalanya menjadi tak berarti lagi.
            Berhari-hari saya disibukkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Dari yang awalnya saya pendam-pendam hingga akhirnya saya ulang-ulang.
            Tiba-tiba saya tersadar, posting kali ini seharusnya sangat berarti bagi saya. Mungkin ini waktu dimana angin kering membelai rambut saya yang duduk di beranda dan menyadarkan betapa romantisnya saya akhir-akhir ini.
            Hal ini dikarenakan janji saya pada diri saya sendiri bahwa suatu ketika saya akan menulis tentang apa yang terjadi pada saya dua bulan belakangan ini. Dua bulan di pertengahan 2015 yang begitu berimbas pada hidup saya. Sejujurnya, saya tak tahu akan memulai dari mana dan mengakhirinya di mana. Waktu dan tempat berterbangan di sekitar saya sehingga sedikit demi sedikit menyusutkan kenangan yang tidak lama pula saya simpan.
            Saya juga tak tahu hendak menulisnya dalam bentuk apa. Puisi, kah. Cerpen, kah. Atau tulisan-tulisan macam begini.
            Awalnya saya hendak menjawab pertanyaan teman-teman saya dalam bentuk tulisan. Jadi semisal ada yang nanya via social media saya akan langsung mengirim link ke blog saya ini lengkap tentang apa yang terjadi dan tentang apa yang akan saya lakukan setelahnya. Kemudian tersirat mengenai betapa arogannya hal itu, saya pun urung dan mencoba menjawab tiap pertanyaan dengan sabar.
            Kini nyaris tak ada lagi yang perlu disembunyikan atau dibiarkan mengambang. Saya rasa saya sudah cukup jujur dalam menjawab beberapa pertanyaan dan ada beberapa pertanyaan pula yang saya sengaja tak jawab. Tentunya ada alasan-alasan tersendiri yang mendukung mengapa pula saya sempat-sempatnya saya tak menjawab pertanyaan ketika saya punya ratusan jam kosong.
            Lagipula, mood menulis saya belum kembali sepenuhnya. Cedera di salah satu organ vital saya membuat saya terpaksa membatasi ruang gerak saya sendiri. Lalu mengapa saya ngotot menulis untuk posting begini adalah alasan tak kasatmata mengenai betapa saya mencintai rutinitas saya yang satu ini. Saya sempat berpikir bahwa saya akan gila jika tidak bisa menulis. Dan ketika saya mengatakan ‘menulis’, maka yang saya maksud adalah ‘menulis dan mengetik di komputer’. Saya tidak terbiasa dengan keyword ‘pengarang’ untuk menjelaskan kegiatan saya. Saya pun bisa betah menghabiskan waktu dengan menulis tanpa juntrung seperti ini. Far to go, ya.
            Mengenai apa yang terjadi pada saya, cedera yang saya alami, dan apa yang saya lakukan.. entahlah. Saya tak terlalu suka menyebutnya ‘tragedi’ karena kata itu seolah menggambarkan sesuatu yang tragis, sementara saya tak suka cerita indah bak twist dalam film ini diidentikkan dengan sesuatu semacam itu. Saya sebisa mungkin mengenyahkan hal-hal negatif dan lebih baik menuliskannya. Saya rasa tak banyak yang bisa saya lakukan dan menulis adalah yang terbaik sejauh ini.
            Sejujurnya saya takut, ketika saya menuliskannya maka akan jadi tidak indah lagi. Saya tak bisa menulis ulang, karenanya saya takut menuliskannya maka saya tidak bisa mengubahnya walau untuk memperbaiki atau menambahkan hal-hal yang saya ingat di kemudian hari. Saya takut ketika saya menuliskannya saya menjadi lupa akan berbagai hal-hal yang ingin saya ingat dan mendapati diri saya begitu kosong, hampa, dan sepi. Di atas semua keyakinan, ternyata ketakutan saya hanyalah ketidakmampuan diri saya sendiri untuk menjalani hidup dengan sewajarnya.
            Namun saya akan terus mengingatnya.
            Janji itu akan saya tuntaskan, cepat atau lambat. Mungkin ketika luka di tubuh saya sudah tidak berbekas. Mungkin pula ketika cedera saya sudah pulih. Mungkin di titik terbahagia saya. Tak ada yang tahu.
            Keberanian, di sisi lain, adalah hal yang banyak memberikan hal-hal baru bagi saya akhir-akhir ini. Dan daripada semua itu, tidaklah lengkap tanpa seseorang di sisi kita yang akan selalu sanggup memberikan bahunya untuk direngkuh. Hidup ini mengajarkan kita banyak hal. Melalui waktu, benda, tempat, seseorang. Mungkin saya telah berusaha mendapatkan pelajaran dari hal-hal itu.
            Atau mungkin saya hanya berhenti mencari dan memutuskan untuk belajar dari seseorang. Untuk terus belajar akan hal-hal di sekeliling saya melalui kami. Untuk mempersempit zona nyaman saya dengan ia di dalamnya. Untuk berkesempatan menjelajahi dunia dengan menambahkan jejak kaki lagi di samping saya.
            Herannya, saya selalu percaya itu dia.


            Hari ini adalah hari-hari awal yang akan saya jalani dengan keterbatasan saya. Kemampuan manusia memang terbatas, tapi saya percaya kita mampu tidak terbatas.
            Saya harap ketika tiba waktunya saya untuk menulisnya, saya benar-benar siap. Telah dipersiapkan, dan akan selalu siap. Menulis, bagi saya, juga berkesempatan memberikan hal-hal baru yang bahkan baru saya sadari. Saya mengukur diri saya dengan menulis. Menilai diri saya dengan tulisan. Menguji diri saya dengan menulis dan tulisan. Bahwa yang bisa membuat perasaan saya kebas di saat paling sulit sekalipun adalah dengan meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya punya sesuatu untuk ditulis. Bahwa saya akan punya kesempatan untuk menulis. Apapun itu.
            Dan ketika:
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan.
            Kamu adalah apa yang kamu baca.
            Kamu adalah apa yang kamu tulis.
            Namun jangan lupa, kamu adalah kamu. Seperti kamu yang Tuhan ciptakan, seperti kamu yang menemukan tujuan, seperti kamu yang menjalani hidup.
            ...Maka manusia adalah pencarian.



4 September 2015

Haru biru angin lalu

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps