Pengorbanan yang Tak Ada Juntrungnya
Ketika menulis ini, saya sedang terjebak di Bandara Sultan
Hasanuddin, Makassar. Pesawat saya tak bisa berangkat ke Banggai karena asap
yang menyelimuti Bandara Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk.
Akhir pekan yang niatnya akan
dihabiskan dengan berliterasi-ria di Festival Sastra Banggai terancam bubar
jalan. Kemungkinan besar saya harus putar haluan, balik ke Jakarta karena tak
bisa meneruskan perjalanan ke Luwuk.
Sejak kemarin, saya sudah dapat
informasi dari teman-teman yang lebih dulu berangkat bahwa perjalanan mereka
dibatalkan dan terpaksa menginap di Makassar. Bahkan pagi tadi, saat saya sudah
di dalam gate menunggu keberangkatan, seorang teman menyarankan saya
untuk membatalkan perjalanan saja. Tak ada hilal kondisi akan membaik.
Namun, dasar bebal. Pun tahu
keributan untuk membatalkan perjalanan saat sudah dalam gate, saya tetap
terbang ke Makassar.
Benar saja, usai mengurus transit,
di ruang tunggu saya bertemu dengan teman-teman senasib.
Mengingat Festival Sastra Banggai
adalah the pinnacle dari acara sastra di Sulawesi, tak heran jika
pengisi ruang tunggu siang ini adalah penulis, penyair, editor, bagian dari
penerbitan, pendidik, hingga performer. Hampir semua sudah menginap semalam di
Makassar, imbas dari dibatalkannya penerbangan kemarin.
Penerbangan hari ini pun
sepertinya serupa.
Kami mengobrol dengan suara rendah
di ruang tunggu, menyayangkan momentum yang sangat amat tidak tepat. Padahal,
baru dua pekan lalu Mbak Ama Gaspar, rekan kami inisiator Festival Sastra
Banggai, terbang ke Jakarta dan membacakan puisinya. Begitu mudahnya dia pun
kembali ke Banggai. Kini, dengan jarak yang kurang dari sejengkal di peta ini,
kami terhenti begitu saja.
Meski hanya sejengkal, jarak yang
terentang sebenarnya dengan perjalanan darat adalah 27 jam.
Bayangkan. 27 jam untuk berpindah
satu provinsi di satu pulau.
Saya yang puyeng, diimpit
teman-teman yang sudah keburu mengambil alternatif putar balik ke Jakarta dan
rasa sayang karena sudah tiba di Makassar, mengerjap. Mata saya terasa pedas
menatapi informasi tanpa arti di layar ponsel. Tak berdaya melihat layar
pemberitahuan yang masih menerakan Delay Bad Weather tanpa estimasi yang
jelas.
Saya pun pamit, bangkit untuk cari
makan dan mengisi daya ponsel. Saya sudah menghubungi beberapa atasan. Semuanya
memberikan keputusan di tangan saya. Saya makin gamang. Teman-teman kantor di
Jakarta pun menyarankan saya untuk balik saja cepat-cepat.
Memilah gerai-gerai makanan
kenamaan di bandara, pilihan saya jatuh pada Tuah Café yang menyajikan makanan
khas Makassar. Bahkan di tengah kesuntukan ini, saya masih bersemangat menjajal
kuliner Makassar yang katanya enak bangget itu. Semangkuk pallubasa dengan
buras saya pilih sebagai pelipur lara. Juga es pisang ijo yang segar.
Saat makan, saking bersemangatnya,
kuah pallubasa tumbah begitu saja mengenai pakaian dan celana saya. Saya tarik
napas dalam-dalam.
Teringat bahwa meskipun saya ingin
segera pergi dari suasana bandara, saya masih punya bagasi yang oleh petugas
konter check in disampaikan, “langsung ke Luwuk, ya.” Itu kali terakhir
saya menatap koper berwarna kuning yang dipenuhi buku itu.
Sialan. Ada koper pun juga isinya
buku. Padahal ada kaus, piyama, dan sandal yang ingin sekali saya kenakan
semata agar bisa lebih santai.
Saya buka laptop di samping
mangkuk es pisang ijo besar. Saya kabari lagi rekan-rekan di kantor dan atasan
untuk memberi update terkini. Hampir semuanya berpendapat sama: lebih
baik saya kembali secepatnya.
Namun lagi-lagi, kembali pun tak
bisa secepatnya karena saya masih harus menanti kabar cancellation dan
mengurus bagasi.
Saat itulah seorang perempuan yang
duduk di meja sebelah saya menyapa, “Ke FSB juga?”
Saya mengangguk cepat. Ia sempat
mendengar saya mengobrol dengan barista. Saya pun balik bertanya. “Mbak juga?”
Ia mengangguk. Diceritakannya
dirinya dari Bali, baru tiba pagi ini. Bahkan sudah masuk pesawat pukul 10 pagi
ke Luwuk, tapi kemudian diminta turun kembali oleh pramugari. Kini di bandara
ia juga menanti.
“Aku masih mau ngeusahain,”
akunya. Tampak jelas antusiasme dan harapannya untuk menghadiri Festival Sastra
Banggai. Rupanya, ia dari Denpasar yang juga kena reschedule sehari
sebelumnya.
Mengobrol sejenak, saya diam-diam
terpana melihat bagaimana sebuah festival sastra menyatukan banyak orang di
ruang tunggu bandara. Well, mungkin tepatnya bukan festivalnya, tapi
bencananya. Tomato, tomato. Saya sendiri pun diam-diam punya knacks bertemu
orang di tempat yang acak. Tidak acak juga, sih, lha wong lingkungan
saya ya itu-itu saja. Dicemplungkan di lingkungan yang sama, ya orangnya pun
akan bertemu lagi.
Saat akhirnya pengumuman
pembatalan resmi diperdengarkan dari pengeras suara, kami pun sudah nrimo.
Beberapa teman sudah lebih dulu kembali ke Jakarta, tak mau mengharap pada
ketidakpastian. Pun tak ingin ambil risiko terbang ke Luwuk dan tak bisa
kembali pulang.
Maklum, pekan depan hajatan sastra
lainnya bermunculan. Ada Ubud Writers and Readers Festival di Bali, bersamaan
dengan Jakarta International Literary Festival di Jakarta. Mengambil langkah
cepat untuk kembali dinilai lebih praktis daripada menghabiskan lebih banyak
upaya, kesabaran, dan pikiran untuk maju terus menerjang ketidakmungkinan.
Saya bersama segelintir teman yang
tadi masih penuh harap pun bergerak ke Customer Service, mengurus
pembatalan. Waktu sudah bergulir hampir enam jam sejak saya mendarat di
Makassar. Mengantre di konter yang penuh sesak berjubel orang dengan berbagai
karakteristik, perlu tiga jam sampai akhirnya kami dapat surat keterangan
pembatalan. Saya tak mengurus refund karena di-handle agen
perjalanan dari kantor. Teman-teman pun serupa.
Usai mengurus surat yang rasanya
nyaris tak ada harganya, saya ditemani turun ke lost and found untuk
masuk lagi ke baggage claim. Di titik ini, saya sudah lelah. Lelah
menanti, lelah berdiri. Padahal, terakhir kali makanan dan minuman masuk ke
mulut saya adalah di Tuah Café tadi siang.
Seorang petugas yang mengizinkan
saya kembali masuk ke baggage claim menanyakan kondisi saya.
Saya jawab cepat, “Penerbangan
saya batal, Pak. Mau ambil bagasi yang tadinya Cuma transit.”
Dia ber-aah pelan. Tampak familier
dengan fenomena seperti ini. “Ke mana emangnya?”
“Luwuk, Banggai,” ujar saya seraya
berjalan menjauh.
“Untuk melihat keindahan memang
perlu itulah, Mbak.”
Saya terenyak sesaat. Menoleh dan
menerka, “pengorbanan?”
“Nah, iya!” ujarnya semangat, lalu
melambai. “Segera ke Banggai, Mbak!”
Kaki saya kebas saat akhirnya
melangkah ke ruangan besar, tempat bagasi seolah bergerak di atas rel.
Hati saya lebih nyeri. Sepanjang
hari banyak teman menemani, kini benar-benar sendiri dan mendengarkan sesuatu
yang hangat dari orang yang asing. Rasa sedih meluap-luap saat saya melihat
garbarata yang berjalan pelan tepat di depan saya mengusung kopor berwarna
kuning dengan baggage tag singa yang saya kenali.
Sekuat tenaga saya menarik turun
kopor itu dari garbarata. Air mata terasa sudah ingin merisak keluar. Bagasi
itu setengahnya berisi pakaian, setengah lagi berisi dua puluh eksemplar buku
yang harus saya bawa untuk di-display di acara talkshow yang akan
saya pandu.
Buku yang saya editori dan
terlambat tiba dari Gorontalo dan Maluku. Sehingga saya ketiban jatah
membawanya dari Jakarta, agar setidaknya bisa menggaet pembeli.
Rupanya, buku-buku itulah benteng
terakhir saya.
Dengan dada sesak, saya melangkah
buru-buru mendorong koper yang masih terasa berat untuk keluar dari baggage
claim, dan memulai segalanya dari awal.
Saya naik lagi ke area kedatangan,
menghampiri meja Information untuk menanyai ke mana saya bisa pesan
tiket secepatnya. Dia menunjukkan Customer Service yang masih mengular.
Seketika saya merasa linglung.
Beruntung saya masih ingat
meja-meja kosong yang tak melayani refund. Nyaris berlari saya ke sana.
“Hari ini sudah tidak ada. Tapi
ada pukul 00.45 ke Jakarta.”
Saya tak banyak bicara. Langsung
memesannya. Bapak penjaga konter simpati melihat saya, tampaknya mengenali saya
dari barisan orang yang tadi mengantre hampir tiga jam untuk cancellation dan
surat keterangan pembatalan. Begitu e-ticket masuk ke surel, saya baru
bisa bernapas lega. Dengan gontai saya melangkah keluar, duduk di area tunggu
yang untungnya dingin, bersih, harum, dan cukup lengang.
Bahkan setelah segala
gonjang-ganjing dunia sehari ini, saya masih punya lima jam untuk dibunuh.
Waktu sebenarnya tak bakal terasa
panjang kecuali kalau sedang menunggu itu akhirnya saya habiskan di sebuah
gerai rumah makan, lalu melepas sepatu dan membuka laptop.
Dalam sepekan, saya punya dua
tenggat tulisan yang harus saya submit.
Jarang saya diminta menulis.
Makanya saya heran juga tiba-tiba permintaan seperti ini berdatangan di satu
waktu. Beruntung dua-duanya tak jauh dari peminatan saya. Yang pertama adalah
artikel tentang keikutsertaan Indonesia dalam Abu Dhabi International Book Fair
2026, satunya adalah artikel 4.500 karakter di Kompas akhir pekan.
Keikutsertaan Indonesia di ADIBF
2026 cukup dilematis, karena awalnya didaulat sebagai Guest of Honor.
Namun dengan konflik kawasan, predikat ini pun turut mengalami gejolak sehingga
status Guest of Honor akhirnya diganti. Saya kebagian wawancara dengan
perwakilan tim Promosi Sastra yang berangkat ke Abu Dhabi untuk tahu lebih
jelasnya. Artikel sepanjang 700 kata (yang tentu saja lebih karena saya yang
mengerjakan) itu akan dimuat dalam platform literasi baru Indonesia—meski saya
pun tak tahu kapan.
Sebelum keberangkatan ke FSB,
artikel ini sudah tuntas saya selesaikan. Setidaknya, permohonan penulisan
artikel ini sudah saya terima beberapa pekan sebelumnya.
Berbeda dengan tulisan kedua yang
permohonannya tiba di meja saya pada Rabu, dengan tenggat Kamis.
Awalnya, saya hanya bisa terbeo.
Menulis dalam waktu singkat mungkin bukan masalah berarti jika saya mengingat
masa-masa kuliah dulu. Namun, itu sudah empat tahun lalu. Saya hampir tak
pernah menerima tenggat permintaan menulis secara matang begini dalam waktu dua
hari.
Namun, tertarik juga saya karena
tema yang diminta pun bukan sesuatu yang sulit. Dekat dengan pekerjaan dan hal
yang saya sukai: buku. Dengan segera saya menge-list topik, tema, dan
fenomena yang bisa saya angkat untuk dijadikan bahan tulisan. Kesulitan saya
terletak pada data. Sudah jadi wajib hukumnya bahwa menulis untuk Kompas harus
berlandaskan pada data. Tak boleh sembarangan.
Ragangan tulisan sudah jadi
siangnya, dan malam itu pula saya mulai menulis di sela packing. Bahkan
di bandara sebelum boarding, saya sempat membuka laptop untuk
menyelesaikan tulisan. Di Makassar, sambil makan siang, tulisan pertama saya
selesai. Masih ada topik yang menggantung, dan saya menuntaskan menulis tulisan
kedua.
Jadilah waktu menunggu flight kembali
ke Jakarta malamnya, saya merampungkan revisi dan melengkapi dua artikel
tersebut dengan bahan grafis yang diperlukan editorial.
Semua keperluan saya selesai saat
panggilan boarding berkumandang. Usai perjalanan yang melelahkan sampai
Jakarta, saya tak masuk kerja untuk beristirahat seharian itu.
Waktu saya habiskan dengan mengawasi berita penerbangan. Lega saat melihat laporan bahwa penerbangan dari dan ke Luwuk hari itu lancar. Namun, tak urung juga saya merasa sesak. Ah, andai saya mau menunggu.
Tapi, benarkah saya mau menunggu?
Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di kepala.
Saya bisa menginap di Makassar
untuk setidaknya menunggu semalam, seperti teman-teman lain yang sempat
terjebak. Namun, saat tak ada kepastian, saya tahu betul saya akan melakukan
hal yang sama, yakni kembali ke Jakarta. Penerbangan memang aktif kembali, tapi
tak ada yang bisa menjamin. Saya biasanya senang bertaruh, tapi saat itu sudah
terlalu lelah dan punya banyak bawaan.
Upaya saya untuk bersyukur saya
pusatkan pada teman-teman yang tetap bisa mendarat dan tiba di Luwuk untuk
meramaikan Festival Sastra Banggai. Saya ingat Kamis malam ketika menerima
pesan dari panitia Festival Sastra Banggai tentang pemahaman dan kekecewaan
mereka. Rupanya, bukan saya saja yang kecewa. Bahkan daripada saya yang
ujug-ujug datang ke Banggai ini, mereka telah mempersiapkan acara ini
berbulan-bulan lamanya.
Apalagi, ini tahun kesepuluh
Festival Sastra Banggai. Betapa menyesakkannya harus mengorbankan banyak hal
karena bencana alam. Saya tak sanggup membayangkan hati teman-teman panitia,
relawan, dan pembaca.
But life must go on.
Sesi saya di Festival Sastra Banggai harus diganti daring di hari Sabtu siang. Saya tahu kehadiran via daring takkan sanggup menyubstitusi kehadiran langsung. Namun, bukankah kita semua bisa berupaya? Saya sudah berupaya hadir dan panitia pun berusaha menghadirkan saya. Saat keduanya tak dimungkinkan dan yang ada hanya versi daring, tentu kami takkan menyia-nyiakan itu.
Sabtu pagi, saya mendapat kabar artikel saya tayang di Kompas Urbana, yang merupakan versi akhir pekan Koran Kompas untuk meng-cover dua hari penerbitan.
Sekilas, rasa lelah dan semua
penugasan itu terbayar meski tidak tuntas. Saya tetap menjadi pengisi Festival
Sastra Banggai meski harus hadir secara daring. Pun menyelesaikan target-target
tulisan saya dalam satu pekan. Dua hari saya beristirahat, berusaha meredakan
kelelahan dan kekecewaan. Kelegaan saya hanya bersumber dari terselenggaranya
acara puncak Festival Sastra Banggai dengan lancar. Setidaknya bintang tamu
utama bisa hadir dan perform.
Hari Minggu, diiringi kemuakan dan
keletihan yang rasanya tak sudah-sudah saat terus-menerus berbaring, saya
mengambil sepatu lari dan ke GBK. Ada banyak pergumulan perasaan dalam diri
saya dan hanya ekstorsi fisik yang bisa menyelesaikannya.
Tak terjawab, tapi selesai. Itu
yang saya butuhkan dengan merasakan deru napas memburu, nyeri di betis, rasa
lapar, keringat yang mengucur, dan panas. Panas aspal Jakarta. Waktu istirahat
yang ngaco membuat saya menekankan pada diri sendiri bahwa saya hanya akan
berlari seperti biasa, 10 kilometer.
Lalu pulang.
Sudah lama sejak saya berlari.
Namun saya menikmati kegiatan fisik di luar gym, meski malas sekali saat
hendak berangkat. Rasa malas itu memang otomatis menghilang begitu tiba di GBK.
Tak heran saya suka memperpanjang lari di tengah-tengah rute. Kali ini, pola
hidup saya masih berantakan karena jam tidur terbalik antara siang malam. Begitu
pula jadwal makan. Tubuh saya masih dihantui kelelahan dan bagi saya, ini lebih
mirip olahraga recovery.
Jadi saya tak memaksa diri.
Sampai hari ini, kabar mengenai asap
yang menyelimuti Indonesia masih berkobar di media sosial. Pembaruan terkini
adalah negara-negara tetangga yang mulai mengajukan komplain resmi. Bahkan,
asap dari Kalimantan itu tiba juga di Jakarta. Sepanjang 2026, bencana silih
berganti timbul di sana-sini.
Saya beruntung sudah menunjungi
Nepal dan Annapurna Base Camp sebelum longsor dan banjir besar melanda di paruh
kedua tahun ini. Saya melihat rute yang saya lewati dengan mulut ternganga, nyaris
tak percaya sungai tenang yang terkesan dangkal Januari lalu itu berubah
menjadi raksasa air bah yang melunturkan apa pun di jalannya.
Letusan Anak Krakatau adalah hal
yang saya rasakan betul di Jakarta. Mendadak seperti berada di rumah ketika
Bromo dan Semeru aktif; atau di Jogja ketika Merapi aktif. Debu pekat turun dan
mengendap di permukaan luar ruangan.
Bencana asap ini sudah berlangsung
beberapa waktu. Bergulung-gulung api di hutan Kalimantan, mengantarkan residunya
ke angkasa, pekat menyelimuti pandang hingga birunya langit bahkan tak tertembus.
Hari ini, 20 Oktober 2026,
Greenpeace mengibarkan spanduk di Bundaran HI, Jakarta. Memperingati dua tahun
pemerintahan ini, mereka mengajukan protes akan bencana iklim yang kini melanda
tanpa penangangan yang jelas. Pemerintah jelas tak meletakkan penanggulangan bencana
dalam prioritas mereka, tak peduli siksaan yang menerpa masyarakat sehari-hari
di berbagai belahan negeri.
Saya sendiri tak paham, akan
sampai kapan kita semua menyaksikan kedunguan ini?
Sampai sejauh mana kita akan
kecewa dan terus-menerus dikecewakan?
Comments
Post a Comment