Posts

Showing posts from May, 2013
You are the apple of my eye

Benar-benar Entri

Kenapa judulnya begitu? karena memang ini saya posting sambil online. Ngetik langsung di lembaran entri baru di dashbor blogku. Secara dulu sebenarnya saya juga begitu tapi akhirnya putus asa gara-gara tulisan yang udah capek-capek diketik ilang begitu aja gara-gara ga ke save akibat koneksi internet yang ababil walaupun sudah pakai LAN sekolah (psst. ini rahasia anak OSIS, hehe). Hari ini nggak jelas lagi mau posting apa setelah kemarin gila-gilaan posting gara-gara new connection yang membebaskan saya untuk meluangkan waktu melongok dunia maya. duile.. hanya saja kali ini saya ditemeni Snow On The Sahara-nya Anggun yang saya suka banget. Empuk banget nih lagu. Walaupun saya juga nggak ngerti empuk darimananya. Tapi saat mendengarkan rasanya kriyuk gitu. Enaaak banget. Flow-nya enak. Suaranya keren sangat. Walaupun nggak teriak-teriak, saya rasa Anggun tetaplah Anggun yang suaranya super unik dan bagus. Sekarang saya lagi sibuk mengurusi bangku universitas lanjutan nanti. Masih belu...

Melajunya 'Perahu Kertas'

Melajunya ’Perahu Kertas’             Pada pertengahan tahun 2012, kita dikejutkan dengan menyeruaknya novel karangan Dewi ’Dee’ Lestari, Perahu Kertas . Novel tersebut menempati bagian best seller yang paling mencolok di berbagai toko buku Indonesia sehingga mau tak mau menarik perhatian publik. Resensi yang dicantumkan di belakang buku pun mau tak mau mengundang penasaran karena secara singkat hanya dijelaskan dua karakterisik tokoh utama novel tersebut. Dengan cover yang eye catching , dan terpampang jelas nama Dee sebagai penulisnya, kita tentu takkan ragu untuk meletakkannya dalam tas belanjaan kita untuk selanjutnya dinikmati.             Sebutlah beberapa novel karangan Dee yang juga tiba-tiba booming dengan trilogi Supernova , sejak saat itu novel-novel lain Dee juga diburu penikmat novel. Seperti Filosofi Kopi , kumpulan cerpen dan prosa karangan Dee dari t...

Saatnya Berhenti Mencabik Novel

Image
Saatnya Berhenti Mencabik Novel Sebuah Esai             Dewasa ini novel bukan lagi sebuah karya sastra yang hanya dibaca kalangan berpendidikan dan berasal dari cendekiawan yang memiliki cakupan pengetahuan luas dari masyarakat yang mulai cakap menginginkan kemajuan. Hal ini didukung beberapa publik yang melatarbelakangi maraknya (atau bisa saja disebut mudahnya) pembuatan novel maupun karya sastra lain. Banyaknya media massa maupun penerbit yang terus menerus mendaur ulang siklus di kancah kepenulisan Indonesia turut berperan dalam menyambut negeri yang bebas mengutarakan pendapat dalam media massa dan dapat turut serta memberikan penghargaan maupun apresiasi terhadap segelintir penulis yang berhasil membawa karyanya menjadi buah bibir publik.             Namun, saat ini kita dihadapkan dalam masyarakat yang semakin tidak bisa membedakan karya sastra bagus dan ka...

Hitung Mundur

Hari ini, Sabtu, 13 April 2013 sesuai yang tertera pada ObjectDock laptop saya ketika saya hendak mengetik. Entah mengapa saya tertarik kembali bertualang di word ini tanpa perlu mengungkap sesuatu yang berarti. Padahal sebenarnya, bukankah itu setiap posting saya? Selalu mengungkapkan sesuatu yang tidak berarti. Tapi saya tidak berusaha mengubahnya, sayang sekali. Karena setidaknya saya jadi punya teman. Saya berpikiran untuk melebarkan range posting yang ditampilkan di blog saya, tapi itu nanti saja. Saat sudah ada waktu dan konsentrasi buat ke sana. Sekarang waktu dan konsentrasi saya sedang tertuju pada lembaran putih ini. Setidaknya sampai saya menemukan kesibukan lain.             Esok lusa saya sudah harus menjalani Ujian Nasional. Tapi entah kenapa mata saya gatal luar biasa. Saya takut sakit lagi, jadi bintilan. -__- jadi kemarin saya teteskan obat mata. Mungkin saya akan melakukannya lagi. Dan saya harus mengurangi...

Michael Buble - Lost.

Image
Saya merasa kesepian. Lebih dari apapun. Ada rasa sesak yang meluap dan meletup begitu saja. Rasa kecewa yang tak bisa ditutupi tanpa ketidaksadaran. Rasa gelisah yang tidak terhenti terbendung begitu saja. Ketakutan yang beralasan, tapi tidak masuk di akal. Saat mendapatkan sesuatu itu terasa begitu mengerikan dan ternyata lebih mudah melihat diri sendiri menangis di cermin dari pada melihat seorang sahabat terisak di depan mata. Semuanya mengubur saya dalam sesal dan letih. Menjera saya dalam ketidakadilan dan ketidakberpihakan. Mata-mata itu terarah pada saya. Tidak percaya-kesal-iri-tidak suka-sampai melecehkan. Semua harus dan terpaksa saya terima mentah-mentah. Ketika diri ini jadi begitu kerdil untuk sekedar membela semua pengakuan yang tidak pernah saya lakukan. Ketika hati ini jadi begitu berat untuk sekedar menghela satu demi satu ketulusan yang diberikan. Kenangan dan retorika yang pernah terjalin. Saat semuanya hilang semudah itu. Saya lebih memilih untuk tidak ...

Beranikah?

            Saya memulai posting hari ini dengan kata itu. Beranikah?             Beranikah saya menulis apa yang ingin saya tulis ini? Tapi sejak kapan ada rasa ciut yang menyerang? Bukankah saya selalu loyal dalam berkata-kata? Bukankah saya selalu berusaha mengatakannya dengan baik?             Ini bukan kaerna sekarang adalah malam tanggal 23 di mana esok hari akan ditentukan apakah kami para siswa kelas XII akan lulus atau tidak dari 3 tahun lamanya pendidikan ini. Juga bukan karena galau gara-gara tidak nemu sepeda besok saat gowes bersama teman-teman seangkatan satu sekolah. Bukan karena rasa kalut yang menjadi-jadi.             Tapi karena malam ini, saya melihat kesungguhan. Dan saya sadar saya selalu merinding melihat ketulusan. Ketulusan yang benar-b...