Paradoksal



            Benarkah kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan? Pun oleh siapa?
            Rijal pernah berkata pada saya bahwa ia menonton seorang ilmuwan sekaligus seorang yang agamis bernama Ustadz Zakir Naik (saya tidak paham betul cara penulisan namanya) bahwa sebelum dilahirkan, kita telah terlebih dahulu memilih. Ringkasnya begitu. Nyatanya saya tak pernah menonton dakwah si ustadz. Sejujurnya saya tidak pernah menonton apapun kecuali film dan video musik, juga terkadang stand up comedian ketika saya mengakses youtube. Jadi saya tak ambil pusing. Ada sebuah gambar yang saya dapatkan di twitter, mungkin dari akun therealbanksy, saya juga lupa bahwa
            A scientist will read dozens of books in his lifetime, but still believe that he has a lot more to learn. A religious person barely reads one book, and think that they know it all.
            Ada paradoks dalam pendapat tersebut. Ada banyak paradoks, bisa jadi. Tetapi waktu itu saya percaya dan langsung me-retweet-nya. Karena sesungguhnya saya benci sesuatu yang ekstremis atau totaliter. Orang agamis yang totaliter itu tidak membawa hal-hal baik dalam hidup kita. Dan saya juga benci orang-orang yang berlagak agamis tapi tidak lupa kapan hari valentine atau merayakan hal-hal yang seharusnya tidak mereka rayakan. Bukan berarti saya berharap bahwa orang-orang agamis haruslah total, saya hanya menganggap sebagai manusia mereka mengkhianati kejujurannya. Kita hidup juga untuk memiliki hakikat, kok. Jadi percuma saja bicara dengan orang-orang seperti ini. Selamanya saya akan dianggap ‘kiri’, dan mereka akan terus merajut jalan sendiri. Dan pengalaman saya juga, tak banyak yang saya dapatkan dari berbicara dengan orang-orang ini. There is still my bucket list to reads books, please.
            Jadi mari kita lewatkan pandangan saya mengenai orang-orang yang disarankan teman-teman asya untuk ditonton itu. Sebaliknya, saya juga tidak bisa totaliter untuk tidak mempedulikan ternyata. Rupanya bagi saya yang merasa tidak memiliki banyak opsi dalam hidup ini, premis tadi menarik. Mungkinkah kita sebelum dilahirkan di dunia ini telah lebih dulu memilih tempat yang di sanalah kita ingin lahir? (atau bahkan juga memilih tempat kematian kita). Semua orang yang saya temui berkata pada saya bahwa kita lahir tanpa memiliki pilihan apakah kita bisa lahir oleh orang tua yang memiliki kriteria tertentu dan lain sebagainya. Bagi orang-orang ini mungkin kelahiran adalah sesuatu yang misterius. Sistematis yang acak. Atau acak yang sistematis. Ada pola tertentu yang butuh waktu selamanya untuk menguraikannya, belum lagi mengukur kadar kebenarannya.
            Hal ini berkenaan dengan pikiran saya bahwa apakah benar kita tidak pernah melalui proses reinkarnasi? Bahwa mungkin kita adalah produk daur ulang yang kesekian oleh mesin-mesin yang telah dilabeli agar dapat lahir tanpa buang-buang kesempatan. Lalu dilahirkan oleh siapa kita? Mesin oportunistikkah?
            Huh.
            Tetapi terkadang saya berpikir, “bisa saja, toh”. Hanya saja kita benar-benar dibuat lupa. Mungkin dalam hidup saya yang lain saya tengah mengerjakan hal yang jauh berbeda dari apa yang saya lakukan sekarang. Atau mungkin di suatu waktu kehidupan saya sebelum masehi lalu saya tengah mempertanyakan hal yang saya pertanyakan sekarang dan merasa sama misteriusnya. Mungkin diri saya di waktu lain telah mendeteksi adanya ‘saya’ yang lain dan meneruskan hidup seperti biasa. Hanya saja kita dibuat benar-benar lupa. Oleh siapa? Tuhan, barangkali. Saya dan Rijal sepakat menggunakan frasa ‘alam semesta’ untuk segala sesuatu yang terjadi. Saya pikir memang iya. Saat melihat sesuatu yang menarik, baik, dan luar biasa kita akan berterima kasih pada Tuhan tapi saat sial atau sedih kita tidak dianjurkan untuk menyalahkan Tuhan. Padahal yang seharusnya kita puji adalah bagaimana alam semesta diciptakan dengan begitu indah dan yang seharusnya kita maki adalah ketidakmampuan diri kita sendiri. Tuhan di mana saja. Kita bisa menyembah, memujanya melalui cara yang bahkan tidak kita pikirkan.
            Saya mungkin masih tak bisa memasrahkan diri saya kepada Yang Maha Kuasa. Dan mungkin tidak akan pernah. Life is a struggle, maka saya harus jadi layak untuk diri saya sendiri dan tidak akan saya jadi seorang pesimistis yang menunggu saat-saat untuk mati dengan mengoleksi butir-butir tasbih.
            Untuk alasan tertentu, kita tidak lahir bersih. Kita bersih dari lahir tapi kita tidak lahir bersih. Meskipun telah disucikan darah yang berlumuran. Ada alasan-alasan yang membuat kita memilih kehidupan. Bukankah itulah yang sesungguhnya kita cari? Untuk apa hidup ini? Kita sebenarnya lahir dengan membawa tujuan. Yang pastinya akan kita ketahui jika proses yang kita lalui benar adanya. Lepas dari polemik agama, saya kira semua hal bisa masuk akal saja. Bukankah kita kaum yang percaya ada hidup sesudah mati? Mengapa kita tidak percaya ada hidup sebelum hidup? Di mana kita diberikan pilihan-pilihan yang sangat tidak kita sadari. Kita lahir dengan lupa. Maka janganlah kita mati untuk dilupakan.

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps