Terkadang pula yang terkadang itu ada



            God, I dont know what else I can do.
            Just to fix this. Fix myself and deal with everything that happened in the past. My past. My parents, my family. I just want another chance. The one chance that could change my life. Change my vision about my future and see how the things gonna work with my family. I really just wanna help it. I’m in my position right now and I know what am I gonna do. But please, God. Let me. Let it be me. This chance is everything for me now. Just please deliver it to your approval.
            I do love my opportunity to get here, get back, again. But everything come with a risk. And I’ll be a risk-taker. I’ll take care of my mistake and my work. I just wanna see things right.
            In this very moment you gave me hopes. You want me in this very position in this very moment so I thought it’ll be nice, it’ll be better. It’ll change anything. I do love to spare my vision of life here. I do love how thing turns out to be so clear. I want to be in your clarity.


            Saya selalu ingin mengurai benang kusut yang ada dalam rongga-rongga penyangga hidup saya agar kelak saya bisa dianggap datang dari latar belakang yang biasa-biasa saja. Tetapi tidak mungkin. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana semuanya bisa berkaitan dalam apa yang terjadi di kehidupan saya sekali duduk. Bahkan bagi saya pribadi, butuh delapan tahun untuk melihat segalanya dengan semestinya. Tidak selalu benar, bahkan belum benar. Tetapi kini saya tak lagi melihat segala sesuatu dengan hitam dan putih. Saya bisa merasakan posisi orang-orang di sekitar saya dan mencoba menempatkan saya dalam posisi yang semestinya pula. Tidak mudah, tapi layak dicoba.
            Jika kali ini saya gagal, mungkin hal ini akan menampar saya keras-keras. Mungkin saya akan kembali ke enam tahun lalu di mana saya masih belum bisa menerima segala sesuatu yang terjadi di rumah tempat saya tinggal. Di mana saya masih begitu bodoh dan naif (lebih bodoh dan naif daripada sekarang). Dan mungkin tak akan punya kesempatan untuk bisa menjajaki kehidupan yang saya inginkan. Di usia saya yang ketiga belas, saya memungkiri Tuhan ikut campur dalam kehidupan saya.
            Di usia saya yang keempat belas, saya mengkhianati diri saya sendiri.
            Saya pernah sibuk mencari simpati dan empati. Bahkan hingga saat ini sibuk mencari jati diri. Saya juga pernah tak absen mencari atensi. Walau dulu saya tak tahu apa yang saya lakukan kini saya bisa melihat betapa gagalnya saya tumbuh menjadi orang yang seharusnya. Mungkin kini saya bisa duduk di kursi fakultas kedokteran dan mulai mempelajari cadaver daripada mengutak-atik buku yang bahkan sudah tak diterbitkan lima puluh tahun belakangan. Mungkin kini saya bisa jadi seseorang yang lebih berarti bagi keluarga saya andaikan saya bisa memaklumi dan berdamai dengan masa lalu saya.
            Berdamai.
            Hidup saya tak pernah dalam kedamaian. Banyak hal yang harus dikhawatirkan, digelisahkan, dan ditakuti. Sejak saya lahir, sejak orang tua saya membuat sebuah surat yang dikenal sebagai akta kelahiran, saya telah mengkhianati eksistensi saya di muka bumi. Dan orang-orang bersekongkol berbohong hanya demi kebaikan yang lebih besar.
            Saya tidak ingin menyalahkan ayah dan ibu saya. Hal yang berat bagi kedua individu untuk menikah dan melihat segala sesuatu dari pandangan bersama. Hal yang cukup berat juga bagi mereka untuk menambah anggota keluarga dan terus bertahan dalam mahligai rumah tangga. Dulu saya selalu menggugat kedua orang tua saya dengan pandang menyalahkan. Mengapa begini dan mengapa begitu. Kini setelah saya merasa cukup dewasa, saya mulai memahami betapa sulitnya bagi dua orang untuk memaklumi dan mengerti satu sama lain. Ditambah dengan banyak faktor yang akhirnya membuat keduanya merasa tak sejalan. Tak bisa lagi bersama.
            Saya ingin mencintai orang tua saya dengan segala kesalahan, duka, dan luka yang pernah ada.
            Tetapi hingga detik ini, saya belum mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Sehingga saya pun berkhianat dari kedua orang tua saya.
            Memilih pergi.

            Kini saya ada di posisi di mana saya bisa membantu hidup saya sendiri. Saya tak ingin ada hal lain yang dapat merusak dan menghancurkannya, sungguh tak ingin. Bahkan saya takut akan hal-hal yang tidak saya duga.  Saya hanya ingin mempergunakan kesempatan yang diberikan Tuhan ini sebaik-baiknya. Saya ingin punya kesempatan-kesempatan lagi di hidup saya. Saya ingin punya banyak pilihan dan meski kini saya sudah menentukan, saya ingin pilihan ini membawa hal baik bagi hidup saya. Bagi kedua orang tua saya yang bahkan seolah tak akur dalam doa.
            Sejujurnya saya seringkali bertanya pada diri saya mengapa saya menulis semua ini. Apakah demi simpati dan empati orang lain? Apakah saya mengemis?
            Menulis bukanlah hal sesederhana meminta atensi. Menulis adalah sebuah kompromi. Bagi saya menulis adalah opsi yang dapat membantu saya dalam mengenali diri saya sendiri, bahkan mengetahui dengan jelas apa yang saya rasakan. Dalam kebingungan pun, terkadang saya menulis dan menemukan jawaban di tengah-tengah aktivitas yang menyenangkan ini. Tetapi menulis masa lalu.. adalah perkara lain.
            Menulis tentang apa yang terjadi dalam masa lalu saya, ataupun imbasnya bagi waktu sekarang dan mendatang adalah sebuah hal dilematis yang terus meyakinkan saya bahwa saya selalu berharap dapat berdamai dengan diri saya sendiri. Hidup saya sendiri. Saya harus mampu menenangkan gejolak ketidakterimaan dan kekecewaan kepada mereka yang telah memilih dan memiliki jalan untuk bahagia.


            Menulis adalah menyongsong kebahagiaan saya sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Come Back to Me, Annapurna

Mengapa ke Đà Nẵng

My Own Steps